Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 85


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Hai Dik!" sapa Cinta di kelas kepada Andika.


"Ngapain lo sapa gue? Tumben banget!" tanya Andika sinis.


"Lagi pingin aja!' sahut Cinta.


"Bilang aja lo merasa bersalah sama gue kemarin kan? Kalau lo ke sini cuma minta maaf lebih baik gak usah deh kecuali lo mau melakukan sesuatu yang membuat gue senang!" ucap Andika.


"Emang apa yang bisa bikin lo senang?" tanya Cinta kebingungan.


"Ya banyak, lo pikir aja sendiri!" sahut Andika yang masih menggunakan nada kesalnya kepada Cinta.


"Oke, kalau gitu kapan-kapan gue bikin lo senang deh!" ucap Cinta penuh senyum di wajahnya.


"Hah kapan-kapan? Gak salah dengar gue?" tanya Andika terkejut.


"Iya, emang ada yabg salah? Kan yang penting gue bikin lo senang dan lo juga tadi gak tentuin waktunya?" ucap Cinta polos.


"Terserah lo deh!" ucap andika tambah kesal dengan Cinta.


'Dasar Cinta, masa kapan-kapan sih kenapa gak sekarang? Atau gak nanti? Emang segitu sibuknya apa!' batin Andika kesal.


"Ya udah kalau gitu gue ke kantin dulu sama Erna ya!" ucap Cinta tanpa ragu meninggalkan Andika yang masih kesal terhadapnya.


'Nih cewek niat ngebujuk gak sih? Apa dia gak tahu kalau gue lagi kesal sama dia?' tanya Andika pada dirinya sendiri.


Dia bingung dengan kelakuan Cinta yang selalu di luar dugaannya.


"Eh tadi kenapa gue gak tanya langsung kemana Cinta pergi kemarin malam?" kata Andika menepuk dahinya setelah mengingat sesuatu.


"Gak peduli ah! Mau kemana juga bukan urusan aku!" ucapnya lagi menutupi rasa khawatirnya pada Cinta.


Padahal di hatinya dia selalu mengkhawatirkan Cinta, namun dia terus menolak perasaan tersebut dan bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak peduli terhadap Cinta.


Sedangkan Cinta di kantin, dia sedang duduk bersama Erna dan juga Riana setelah memesan makanannya. Mereka tampak sedang berbincang dan membicarakan sesuatu.


"Eh kok Cantika gak pernah masuk sekolah setelah sakit perutnya ya?" tanya Erna yang menyadari teman sekelasnya tidak masuk kelas dalam beberapa hari terakhir.


"Gak tahu juga. Mungkin masih sakit kali ya!" sahut Cinta.


"Tapi kalau sakit kok dia tidak ada kabarnya? Bahkan teman sekelas gak tahu semuanya, setiap masuk kelas guru selalu bertanya tentangnya namun semua tidak tahu info mengenai kenapa dia tidak masuk kelas!" kata Erna.


Erna dan Cinta terus membicarakan tentang Cantika hanya Riana yang diam dan masih menikmati makanannya.

__ADS_1


"Eh Ri lo kok diam? Apa benar dugaan gue kalau Cantika hamil?" tanya Erna kepada Riana.


Riana terkejut setelah mendengar perkataan Erna, dia tersedak oleh makanannya. Cinta dengan cepat memberikan minuman kepada Riana.


"Uhuk! Uhuk! Lo apaan sih Erna. Jangan mikir macem-macem tentang teman kita," kata Riana berusaha menutupi semua hal yang dia tahu.


Padahal Riana juga mencurigai hal yang sama, namun dia takut itu adalah kebenaran sehingga membuatnya menjadi aib untuk Cantika.


"Iya juga sih, habisnya terakhir kali dia masuk dia bawa testpack jadi gak ada salahnya dong kita curiga seperti itu!" kata Erna.


"Udah Erna, biarkan itu menjadi urusan dia!" kata Cinta.


Beberapa menit saat mereka berbincang, Bintang menghampiri Cinta yang semakin hari semakin jauh darinya. Bintang ingin mendekati Cinta kembali setelah dia tahu bahwa mereka tidak ada ikatan keluarga.


"Cin gue mau ngobrol sama lo boleh gak?" tanya Bintang kepada Cinta di depan Erna dan Riana.


"Mau ngobrol apa?" tanya Cinta.


"Ya ngobrol biasa aja, lagipula selama ini lo sibuk terus sama Andika dan gak ada waktu buat kita ngobrol lagi. Jadi gak ada salahnya dong gue minta ngobrol sama lo?" ucap Bintang.


"Iya deh Tang, nanti di kelas aja ya!" ucap Cinta.


"Iya, kalau gitu gue balik duluan ke kelasnya! Ucap Bintang.


"Eh Cin, kayaknya Bintang suka deh sama lo!" ucap Erna.


"Iya, gue juga mengira seperti itu. Dapat di lihat dari tatapannya," kata Riana menimpali.


"Ya emang dulu dia pernah bilang suka sama gue tapi gue tolak!" sahut Cinta.


"Kok gitu Cin? Di bandingkan dengan Andika gue lebih setuju lo sama Bintang Cin. Dia jarang membuat ulah di kelas!" ucap Erna mengatakan pendapatnya.


"Tapi Andika pintar dan idaman para wanita di sekolah Erna!" tungas Riana.


"Percuma pintar kalau dia nyakitin lagipula Bintang juga idaman cewek-cewek kok," sahur Erna yang tak mau kalah.


"Udah, Udah! Kalian ini kenapa bandingin mereka sih? Atau jangan-jangan kalian suka sama mreka ya?" tebak Cinta mencurigai kedua temannya itu.


"Gak lah Cin! kita tuh cuma pingin lo milih cowok yang tepat biar gak sakit hati lagi karena salah pilih!" kata Erna menjelaskan.


"Yang di katakan Erna tuh benar Cin, kita mana berani bersaing sama lo. Udah pintar, cantik di idamkan oleh kedua cowok populer di sekolah pula!" kata Riana.


"Husss! Gue gak mau sama salah satu dari mereka. Kalian jangan ribut tentang mereka lagi, oke?" kata Cinta.


"Masa lo buang dua cowok ganteng itu sih? Kalau gue jadi lo gue mungkin akan pacari mereka berdua!" kata Erna mengkhayalkan dirinya.

__ADS_1


"Halu lo! Mau lo mimpi berapa kali pun itu gak bakalan terjadi!" ucap Riana yang segera membuyarkan khayalan temannya.


"Kalian ni lucu banget deh! Lebih baik kita ke kelas aja yuk!" ajak Cinta.


"Baru tadi lo bilang gak pingin keduanya tapi sekarang lo udah gak sabaran buat ngobrol sama Bintang," sindir Erna.


"Gak gitu Erna! Lagipula kita sudah selesai makan ngapain lagi kalau bukan ke kelas!" ucap Cinta membantah pendapat temannya itu.


"Iya deh iya percaya!" ucap Erna.


Akhirnya mereka bertiga pun kembali ke kelasnya. Setelah sampai di kelas mereka duduk di bangku mereka masing-masing.


"Hai Tang!" sapa Cinta setelah sampai di mejanya.


Cinta sempat menoleh ke arah meja Andika namun dia tidak menemukan pemiliknya, jadi dia cuek-cuek saja.


"Hai Cin!" sahut Bintang.


"Kita udah lama gak kayak gini, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk!" ajak Bintang.


"Gue cari waktu dulu ya Tang, soalnya lagi sibuk banget nih!" ucap Cinta merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa, gue bakalan tungguin lo sampai lo punya waktu!" ucap Cinta.


"Makasih Tang!"


'Bintang begitu pengertian, beda sama Andika yang selalu tidak pernah mengerti kondisiku. Andika selalu memaksaku dan tidak peduli sama situasi ku,' batin Cinta.


'Eh tunggu! Kenapa gue jadi ikut-ikutan bandingin dia sama Bintang?' batin Cinta kembali setelah beberapa saat tersadar.


Saat itu juga Cinta melihat Andika datang ke kelas . Andika melirik ke arahnya dan menatap dengan raut wajah yang kesal.


'Ada apa sama anak itu? Kenapa tatapannya seram banget?' tanya Cinta pada dirinya sendiri.


"Cin, lo gak apa-apa?" tanya Bintang.


"Gak, gue gak apa-apa!" sahut Cinta.


'Gak peduli ah! Mau gimanapun dia bukan urusan gue!' batin Cinta.


Sedangkan Andika merasakan kesal yang teramat kesal melihat Cinta berbicara dengan Bintang.


"Katanya mau bikin senang? Eh belum lewat 1 jam udah bikin rasa kesal gue ke dia bertambah 3 kali lipat!" gumam Andika.


Dengan sabar dia memendam emosinya, dia bingung sendiri kenapa mencintai wanita yang seperti Cinta.

__ADS_1


__ADS_2