
Keesokan harinya sepulang sekolah, Cinta menemui Andika untuk mengingat perjanjian yang dia sebut kemarin pagi.
"Andika, jadi ya sekarang. Lo ikuti aja kita dari belakang nanti lo tunggu gue di dekat-dekat rumah gue," ucap Cinta.
"Terus lo di bonceng Bintang?" tanya Andika.
Bintang yang melihat Cinta dan Andika seperti berbicara serius langsung menghampirinya.
"Cinta jadi gak?" tanya Bintang.
Andika melihat ke arah Bintang yang baru datang itu.
"Sekarang gue udah punya syarat buat lo! Lo harus boncengan sama gue," ucap Andika menatap ke arah Cinta.
"Syarat apa Cin? Bukannya lo mau ke rumah gue?" tanya Bintang.
Cinta yang tidak ingin Bintang tahu bahwa dia tidak di izinkan oleh Ibunya untuk pergi segera mencari alasan. Namun, sebelum dia mengeluarkan alasan Andika keburu berkata, "Cinta gak di izinin pergi ke rumah lo. Dan dia berbohong sama ibunya karena merasa tidak enak hati sama lo!" jelas Andika.
"Benar yang di katakan Andika?" tanya Bintang menatap ke arah Cinta.
"Engg...," Cinta menganggukkan kepalanya dengan perasaan bersalahnya.
"Tapi kenapa lo minta bantuan sama Andika?" tanya Bintang.
"Karena Andika anak dari sahabat Ibu gue, kan gue udah bilang tadi sama lo," sahut Cinta dengan senyuman yang dia paksa untuk menghilangkan rasa canggung.
"Dan juga, kita sudah di jodohkan. Kalau lo suka sama Cinta lebih baik lo menyerah saja," ucap Andika dengan terang-terangan memulai peperangan untuk memperebutkan Cinta.
"Oh ya? Lalu apa gunanya kalian di jodohkan, lo yakin Cinta suka sama lo?" ucap Bintang yang tidak mau menyerah.
"Gue suka sama Andika, Tang. Maaf!" ucap Cinta yang sedari tadi menunduk.
Bintang menatap ke arah Cinta yang sudah mendongakkan kepalanya dengan tatapan pasrah sambil tersenyum palsu.
"Oke Cin, tapi gue minta tolong untuk hari ini saja bertemu sama Mama gue. Gue gak mau merusak suasana hati Mama yang sedang bahagia," kata Bintang.
"Iya Tang," sahut Cinta.
Bintang pun melangkahkan kakinya untuk segera ke parkiran, hatinya sangat hancur begitu mengetahui ada orang yang Cinta suka.
Cinta dan Andika mengikutinya dari belakang. Bukannya hatinya senang karena sudah menyatakan itu, tapi dia masih saja tidak enak hati dengan Bintang.
__ADS_1
'Maaf Tang, gue menghancurkan perjuangan lo secara tiba-tiba. Gue gak mau lo terus-terusan mengejar orang yang salah!' batin Cinta.
"Eh yang lo bilang barusan benar kan?" tanya Andika.
"Gak tahu!" ucap Cinta lalu memperpanjang langkah kakinya dan mendahului Andika.
'Gue sebenarnya suka gak sih sama Andika? Tapi kenapa tiba-tiba gue merasa benci saat dia mengganggu gue tapi ketika dia di kerumuni wanita-wanita itu gue merasa cemburu,' batin Cinta bertanya-tanya pada perasaannya.
Andika dan Cinta mengikuti arah motor Bintang berjalan, hingga Bintang berhenti di sebuah tempat.
"Lo tunggu sini aja, rumah gue udah dekat kok! Nanti gue antar sendiri Cinta ke sini," kata Cinta.
"Oke!" sahut Andika.
Cinta pun pindah ke motor Bintang, dia mencium aroma parfum Bintang yang sangat wangi.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak ada komunikasi sedikit pun hingga mereka sampai di rumah Bintang.
"Huh!" Bintang menarik nafas panjang, bersiap menghilangkan raut wajah sedih yang akan di sembunyikan kepada Ibunya.
Dalam sekejap dia tersenyum ke arah Cinta, dan mengajaknya masuk.
'Bintang terlihat sayang banget sama Ibunya, jelas-jelas tadi dia sangat kecewa sama gue. Ternyata seorang Bintang juga bisa seperti ini, kenapa gue merasa bersalah sama dia?' batin Cinta.
"Iya Tante, makasih!" ucap Cinta.
"Cinta silahkan duduk ya!" ucap Marchel yang baru datang dari dapur membantu istrinya menyiapkan makanan.
Cinta mengangguk sambil memberikan senyuman ke arah Marchel.
"Sebentar ya Cinta, Tante lanjut siapin ini dulu," kata Nadia.
"Iya lanjut saja Tante, gak apa-apa kok," ucap Cinta.
"Duduk Cin!" ucap Bintang mengajak Cinta duduk di sofa ruang tamu.
Cinta mengikuti langkah Bintang dengan perasaan yang masih canggung.
"Mama lo hebat, walaupun punya kemampuan untuk menyewa pembantu tetapi beliau memilih untuk mengerjakannya sendirian di rumah yang sebesar ini!" ucap Cinta.
"Mama memang hebat, makanya gue sangat menyayanginya. Gue gak mau ada yang melukainya meskipun Papa gue sendiri," ucap Bintang.
__ADS_1
"Sebagai anak memang harus begitu, apalagi lo laki-laki harus bisa melindungi Mama lo sendiri!" kata Cinta.
"Iya, gue selalu bersyukur terlahir di keluarga ini. Meskipun gue tahu mereka sedang bertengkar tetapi mereka tidak pernah mengakuinya. Mereka selalu bilang hubungan mereka baik-baik saja," kata Bintang.
Cinta tersenyum, dia membandingkan kehidupannya dengan keluarga hangat ini. Dia ingin memiliki keluarga yang hangat dan lengkap seperti Bintang, tetapi mengingat perubahan Ibunya, Cinta juga bersyukur.
"Cinta sini-sini!" panggil Nadia.
Sudah menjadi kebiasaan ketika Cinta sudah datang ke rumah, mendadak Nadia melupakan anak satu-satunya.
Namun meskipun tidak di panggil, Bintang mengikuti langkah Cinta menuju meja makan yang 5 kali lipat lebih luas dari meja makan Cinta.
Cinta melihat meja makan yang penuh dengan makanan. Ada beberapa kue dan satu kue besar yang berisi tulisan "HBD Nadia" di atas kue tersebut.
"Banyak banget masakannya Tante," ucap Cinta.
"Khusus karena kamu yang datang, makanya Mama masak banyak!" sahut Bintang mewakili Nadia.
"Aku juga gak makan sebanyak ini Tante," kata Cinta sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, nanti Tante juga sudah siapkan untuk kamu bawa pulang!" kata Nadia.
"Makasih Tante!" ucap Cinta.
"Lebih baik kita potong kue dulu yuk!" ujar Marchel.
"Boleh deh!" sahut Nadia.
Mereka berempat pun menyanyikan lagu ulang tahun untuk Nadia, acara yang dibuat kecil-kecilan. Namun di hadiri oleh orang tersayang, pasti sangat bahagia.
'Bahkan Author saja tidak pernah merayakan ulang tahun seumur hidup Author,' jeritan tangis dari Author.
Sedangkan di sebuah tempat dimana Cinta di turunkan, terlihat Andika yang duduk di atas sepeda motornya.
"Cinta beneran suka gak ya sama gue? Kok gue jadi kepikiran gini sama perkataannya?" tanya Andika pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah, yang penting dia sudah mengaku suka sama gue di depan saingan gue!" ucap Andika kembali dengan penuh semangat.
"Mas, mas! Ojek ya? Tolong anterin saya, buru-buru nih!"
Tiba-tiba seorang Ibu-ibu datang menghampiri Andika dan mengira Andika adalah tukang ojek di sana.
__ADS_1
Ibu tersebut tanpa menunggu jawaban dari Andika langsung menaiki sepeda motor Andika, karena dia yakin sudah pasti Andika tukang ojek. Keyakinan itu dikarenakan di belakang Andika tertulis sebuah Plang kecil "Tukang Ojek".
Andika yang tidak mengerti apa-apa, terbengong.