
Jam Istirahat...
"Hai Cin! Kantin yuk!" ajak Bintang.
"Gak deh Tang," tolak Cinta.
"Kenapa?" tanya Bintang.
"Lo kaya gak tahu aja. Sekarang fans lo kan udah banyak, bisa-bisa gue di keroyok sama mereka," ujar Cinta mencari alasan.
Padahal sebenarnya dia tidak mau Bintang berharap lagi padanya, Cinta tidak mau Bintang kecewa.
"Hmm... Ya udah deh Cin. BTW Mama gue dua hari lagi ulang tahun, lo datang ya untuk meramaikan acara," ucap Bintang penuh harap.
"Ya udah deh nanti gue ke sana," ucap Cinta.
"Gue jemput lo ya?"
"Iya deh boleh!" sahut Cinta.
Setelah sepakat, Bintang memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Dalam hati dia merasa sangat sedih, padahal dirinya tidak beda jauh dengan Andika tetapi mengapa dia yang di jauhi.
'Gue kira dengan menjadi ganteng lo bakalan tertarik dengan gue Cin, tapi ternyata lo makin menjauh karena fans gue,' batin Bintang.
Beberapa menit kemudian, Cinta di datangi oleh Rian.
"Ada apa bos ku?" tanya Cinta ketika Rian menghampirinya ke meja.
"Nih gue ada tugas. Tolong kerjain ya, nanti gue bayar!" ucap Rian tanpa basa basi.
"Ya udah bentar gue lihat dulu, biasanya pelajaran kakak kelas lebih susah!" ujar Cinta.
Cinta memperhatikan tugas yang diberikan oleh Rian.
"30 ribu!" ucap Cinta membuka harga.
"Oke, nih gue tambahin lagi 20 ribu!" ucap Rian memberikan selembar uang 50 ribuan.
"Serius lo?" tanya Cinta memastikan.
"Iya lah. Ya udah gue pergi dulu ya, tugasnya di kumpul minggu depan," ucap Rian.
"Oke sip!" Cinta mengacungkan jempolnya ke arah Rian.
Setelah lomba selesai, Cinta baru mendapatkan satu pelanggan, yaitu Rian. Meskipun Ibunya sudah bekerja, tetapi Cinta tidak mau bersantai-santai. Hitung-hitung mendapat uang jajan tambahan.
Di depan kelas Rian bertabrakan dengan Cantika yang sedang membawa makanan ke dalam kelas.
"Ahh!" Cantika menjerit karena makanan yang dia bawa tumpah semua.
"Lo!" dengan serempak Cantika dan Rian saling tuding.
"Sorry, sorry. Gue gak sengaja," ucap Rian walaupun dia tahu yang salah itu Cantika yang tidak melihat jalan.
"Lo yang ada di taman waktu itu kan? Ngapain lo ke kelas gue? Mana jajan gue jatuh lagi. Ganti rugi gak lo?"
__ADS_1
"Ya gue kan udah minta maaf, lagipula lo yang jalan gak pakai mata!" kata Rian menyalahkan Cantika.
"Ish! Gue gak mau tahu, pokoknya lo ganti rugi!" ujar Cantika kekeh dengan pemikirannya.
"Yaudah berapa? Nih gue kasih uang 30 ribu!" kata Rian menyodorkan uang 10 ribuan 3 lembar kepada Cantika.
"Eh!?" Cantika menatap ke arah Rian dengan bingung.
Biasanya orang lain akan berdebat dengannya dan tidak mau ganti rugi. Tapi dia juga gak peduli asal dia mendapatkan uangnya.
"Udah kan?" tanya Rian.
"Lo belum jawab, ngapain lo ke kelas gue?" Cantika mengulangi pertanyaannya.
"Bukan urusan lo!" sahut Rian kemudian meninggalkan Cantika.
'Ngeladenin cewek yang kayak gitu cuma buang-buang waktu istirahat gue aja. Lebih baik gue ke kantin,' batin Rian.
"Tapi gue penasaran!" ucap Cantika dengan suara yang sedikit keras sambil mengikuti Rian.
"Suka banget sih lo ngurusin urusan orang lain," ucap Rian yang tidak menghentikan langkahnya.
"Yaudah deh gue traktir lo, tapi lo bilang ya!" pinta Cantika.
"Apaan sih lo! Gue tuh punya uang, gak perlu lo traktir!" sahut Rian.
"Ish! Dasar cowok nyebelin!" Cantika mempercepat langkahnya pergi ke kantin untuk membeli kembali makanan yang tadi jatuh.
'Dasar cewek sinting!' batin Rian.
...***...
Cinta yang tadinya fokus menulis, mendongakkan kepalanya menatap pria yang memberikan sebuah roti itu.
"Thanks ya!" ucap Cinta kepada pria tersebut.
"Lo lagi apa?" tanya Andika.
"Lagi buat tugas nih, mending lo jangan ganggu gue. Nanti fans lo malah waspada sama gue," ujar Cinta.
"Gue gak bakalan ganggu lo kok, dan fans gue juga gak akan berani ke sini lagi," ucap Andika.
"Senang kan lo di kerumuni cewek-cewek tadi," ejek Cinta.
"Kenapa? Lo cemburu?" tanya Andika.
Wajah Cinta mulai memerah, dia tidak mengakui bahwa dirinya cemburu saat fans g*la Andika mengerumuni Andika.
"Kalau cemburu bilang aja, gak apa-apa kok!" ujar Andika.
"Siapa juga yang cemburu. Gue kan cuma nanya," kata Cinta.
"Udah ah lo pergi aja sana. Gue mau lanjutin tugas gue dulu!" ujar Cinta.
"Setidaknya temenin gue makan dulu," pinta Andika.
__ADS_1
"Tapi gue lagi kerjain tugas!"
"Kan bisa nanti di rumah, sekarang makan dulu yuk! Isi perut dulu biar nanti konsen," ucap Andika.
"Ah lo kelamaan!" Andika menarik tangan Cinta untuk di ajak makan di luar kelas.
"Yaudah bentar jangan tarik gue, gak sabaran banget sih jadi orang!" ucap Cinta berusaha mengikuti langkah kaki Andika agar tidak terseret.
Dari kejauhan Tasya memperhatikan Cinta dan Andika yang terlihat akrab. Dia sangat kesal dengan pemandangan tersebut, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Makan," ucap Andika.
Cinta membuka rotinya, dia menggigit rotinya sedikit demi sedikit.
"Gue coba ya!" ujar Andika yang langsung menggigit roti Cinta tanpa persetujuan Cinta.
"Ih lo apaan sih, niat ngasih gak sih!" ujar Cinta pura-pura kesal, padahal dia senang bisa makan roti bersama Andika.
"Kan mau icip punya lo juga," ucap Andika.
Dari kejauhan beberapa pasang mata masih menatap Cinta dengan rasa benci.
"Gak usah di lihat lagi. Toh juga kamu gak bisa berbuat apa-apa!" ucap Cantika yang tiba-tiba sudah berada di samping Tasya.
"Maksud lo apa?" ucap Tasya kesal.
"Lo mau nyerah gitu aja?" tanya Tasya.
"Mau gimana lagi kan? Mereka gak bisa di pisahin. Mau ngerjain Cinta gak akan bisa, dia bersama dengan Andika terus!" ucap Cantika.
"Udahlah ya, nyerah saja kalau memang gak mampu!" ucap Cantika dengan sengaja memancing emosi Tasya agar dia merencanakan sesuatu yang jahat untuk Cinta.
Cantika pergi setelah berkata seperti itu, dalam hatinya dia menganggap Tasya sebagai tumbal dari kesalahannya.
"Dasar wanita sialan. Awas aja kamu, aku pasti akan buktikan kalau aku bisa memisahkan mereka!" ucap Tasya kesal.
Rasa kesalnya menjadi berlipat ganda setelah Cantika datang hanya untuk meremehkannya.
...****************...
"Ngomong-ngomong, emangnya ada tugas ya?" tanya Andika.
"Gak ada sih, itu tugas Rian kakak kelas kita!" ucap Cinta.
"Jadi lo buatin tugas kakak kelas lo? Kenapa, lo di ancam sama dia?" tanya Andika khawatir.
"Engakk Andika, tenang dulu! Itu kan memang pekerjaan gue," kata Cinta.
"Maksudnya?" tanya Andika yang belum paham dengan apa yang dimaksud oleh Cinta.
"Jadi dari dulu tuh gue emang buka jasa buat ngerjain tugas kakak kelas dan adik kelas kita, dan mereka bayar ke gue tergantung banyaknya tugas, tingkat kesulitan dan waktu yang diberikan!" jelas Cinta.
"Oh jadi gitu, kalau gitu kerjain tugas gue ya nanti gue bayar!" ucap Andika.
"Gak bisa lah. Lo gak dengar tadi? Yang gue buka hanya untuk kakak kelas dan adik kelas, tambahan teman selain kelas kita!" jelas Cinta.
__ADS_1
"Ahh kirain bisa!" ujar Andika sedikit kecewa.
Tak lama setelah mereka berbincang, bel pelajaran kembali berbunyi. Seluruh siswa pun masuk ke dalam kelas masing-masing.