Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 58


__ADS_3

"Mama begitu mempercayai Papa, bagaimana kalau Mama tahu kalau Papa pernah mengkhianatinya? apakah aku harus menyuruhnya untuk berpisah? lalu aku akan ikut dengan siapa?" tanya Bintang pada dirinya sendiri.


Pertanyaan yang bertubi-tubi itu muncul setelah Bintang mendapat jawaban dari sang Mama. Bintang tidak tega untuk memberitahu kepada Mamanya. Alhasil dia hanya bisa melakukan tes DNA terlebih dahulu apakah benar Cinta adalah anak papanya.


"Untuk sementara biarkan seperti ini dulu, jika ini terus di pikirkan aku yakin kepalaku akan pecah saat ini juga!" ucap Bintang mencoba menenangkan dirinya.


Dia tidur terlentang, merilekskan tubuhnya lalu memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian dia akhirnya tertidur.


...***...


Sedangkan di rumah sakit, Cinta harus masih menginap di rumah sakit untuk beberapa hari karena kakinya yang masih di jahit dan perlu mendapat beberapa penanganan dari dokter.


"Ibu darimana?" tanya Cinta ketika melihat Laras telah kembali ke ruangannya.


"Maaf Cinta, tadi Ibu pergi keluar sebentar ada urusan!" ucap Laras lembut.


Ini pertama kali Cinta merasa Laras sangat peduli terhadapnya dan cara bicara Laras juga berbeda dengan sebelumnya. Akankah Laras benar-benar merubah sikapnya kepada Cinta? atau hanya sementara saja?.


"Maafin Cinta ya Bu. Saat ini Ibu pasti pusing memikirkan biaya rumah sakit aku," kata Cinta bersedih.


"Lo gak usah khawatir Cin, biaya rumah sakit biar orang tua gue yang bayar!" kata Andika.


"Yang di katakan oleh Andika itu benar, Ibu tidak susah sama sekali kok!" ucap Laras berbohong.


"Makasih ya Dik! kali ini gue benar-benar butuh bantuan lo. Suatu saat nanti gue pasti akan bayar semuanya kok!" ucap Cinta.


"Sama-sama Cin," kata Andika.


Kini di ruangan pasien hanya mereka bertiga, sedangkan Papa dan mamanya andika sedang pergi bekerja. Walaupun mereka bos di perusahaan dan memiliki banyak cabang, mereka juga tidak bisa libur seenaknya. David dan Naya juga harus mengurus pekerjaan yang tidak bisa di tangani oleh bawahan mereka.


"Bu, Ibu istirahat saja dulu. Tidur di samping Cinta saja," kata Cinta yang tidak tega melihat ibunya terus menerus duduk di sofa.


"Gak apa-apa Cin, Ibu duduk saja di sini!" tolak Laras.


"Bu temani aku sekali aja, aku ingin pelukan Ibu!" kata Cinta memohon.


"Ah kamu ini dasar manja. Ya udah Ibu peluk," kata Laras menghampiri Cinta.


Cinta menggeser badannya secara perlahan untuk memberikan ruang Ibunya tidur. Cinta kasihan melihat Laras yang tidak dapat tidur nyenyak karena terus menjaganya.

__ADS_1


"Makasih Bu," ucap Cinta kepada Laras ketika Laras memeluknya.


"Ya udah kamu tidur, kan sudah Ibu peluk!" kata Laras.


"Ibu juga ya!" ucap Cinta.


Cinta memejamkan matanya, dia ingin menikmati kasih sayang Ibunya yang baru kali ini di rasakannya. Rasa hangat dan bahagia ketika Laras memeluknya membuat Cinta tidur nyenyak dan terlelap.


Di saat Cinta sudah tertidur, Laras kembali memikirkan uang yang sudah dia tabung di Bank untuk biaya rumah sakit Cinta. Laras tidak mau merepotkan sahabatnya itu, meskipun itu kesalahan Andika tetapi tetap saja Laras tidak mau lepas dari tanggung jawab kepada Cinta.


Laras memikirkan itu hingga dia tida merasa kalau dirinya ketiduran. Rasa lelah yang fi rasakan Laras membuat dia cepat tertidur.


Andika yang melihat kedua orang di samping bangsalnya tersenyum. Dia melihat hal yang sangat indah, seperti melihat dirinya sewaktu kecil. Andika merasakan kasih sayang Ibunya sejak kecil berbeda dengan Cinta yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.


...***...


Hari telah sore, Laras terbangun dari tidurnya.


'Syukurlah perawat belum datang, jika mereka datang aku bisa di marahi karena tidur di bangsal!' batin Laras.


Laras melihat jam di layar ponselnya, sebentar lagi waktu Cinta untuk makan. Laras duduk di sofa menunggu makanan Cinta dan Andika datang.


"Taruh di sana saja Tante, aku bisa makan sendiri kok!" ucap Andika.


"Kamu yakin bisa makan sendiri? tanganmu masih ada luka loh!" ucap Laras yang tidak yakin.


"Bisa kok Tante!" kata Andika meyakinkan Laras.


"Ya udah deh, kalau begitu Tante soapi Cinta dulu ya. Kamu kalau perlu apa-apa suruh Tante saja!" kata Laras.


"Iya Tante!"


Laras berpindah ke bangsal putri satu-satunya, dan menaruh makanan itu di atas meja. Perlahan dia membangunkan Cinta yang masih tertidur lelap.


"Cinta! bangun nak, waktunya makan!" ucap Laras sambil menyentuh pipi putrinya itu hingga bangun.


"Ehmmmmmm!" Cinta terbangun dari tidurnya dan masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya.


"Makan dulu Cin, biar cepat sembuh dan kita bisa sekolah bareng lagi!" ucap Andika yang sudah menyuapkan makanannya beberapa kali.

__ADS_1


"Iya Dik! Lo juga makan yang banyak ya!" ucap Cinta perhatian.


"Kalian ini ya, cocok banget tahu. Semoga aja kalian langgeng bida sampai nikah ya!" ucap Laras.


"Ih Ibu, masih kecil kok udah main nikah-nikah aja!" ucap Cinta tersipu malu.


"Ya udah, Ya udah! minum air dulu gih!" kata Karas mengambilkan Cinta segelas air.


Setelah minum air, Cinta melahap makanan yang di suapi oleh ibunya hingga makanan tersebut habis.


"Cepat juga lo makannya!" ucap Andika melirik ke arah Cinta.


"Ya dong! suapan Ibu gue enak tahu, daripada makan sendiri," kata Cinta berniat menyombongkan diri karena di suapi oleh Ibunya sedangkan Andika tidak.


"Sombong lo!" ucap Andika.


"Sudah-sudah, kamu jangan memancing pertengkaran Cinta. Nuh minum obat dulu!" kata Laras memberikan dua butir pil dan segelas air kepada Cinta.


"Andika sudah selesai belum makannya?" tanya Laras menghampiri Andika.


"Sudah nih Tante!" ucap Andika.


"Ya udah, Andika juga minum obat dulu," kata Laras sambil mengambil obat Andika, setelah itu memberikannya kepada Andika.


"Makasih Tante," ucap Andika sambil menerima obatnya.


Tepat pukul 20.00 WIB, David dan Naya datang menjenguk Andika dan juga Cinta. Mereka membawa makanan untuk di berikan kepada Laras yang sudah mereka susahkan menjaga anaknya.


David dan Naya melihat anak-anak sudah pada tidur, mereka tidak mau membangunkannya jadi mereka pun berbicara dengan suara pelan.


"Laras, kamu makan dulu ya! Anak-anak biar aku yang jaga!" kata Naya.


"Aku gak ada nafsu makan Nay, kamu aja sama David yang makan ya. Kalian pasti capek habis bekerja seharian!" tolak Laras.


"Gak boleh gitu, kamu harus makan agar tetap sehat. Nih makan dulu jangan khawatirin kami, kami sudah makan kok!" kata Naya membujuk Laras.


"Benar kata Naya, lagipula jangan sampai membuat Cinta sedih. Makan saja dulu," ucap David yang ikut membujuknya.


"Ya udah deh. Makasih ya Naya, David!" ucap Laras.

__ADS_1


Meskipun Laras menerima makanan tersebut, tetapi dia tidak merasakan enak pada makanan itu. hatinya masih gundah gulanda memikirkan anaknya yang sakit dan masih di rawat di rumah sakit. Dia makan hanya sedikit setelah itu membuangnya diam-diam agar tidak ketahuan Naya dan David.


__ADS_2