
Nadia pulang kembali ke rumahnya dengan perasaan yang masih mengkhawatirkan Cinta meskipun Cinta berkali-kali menenangkannya.
Namun Nadia juga tidak ada pilihan lain, dia tidak bisa membawa Cinta pulang ke rumahnya.
"Ma, nanti Papa ada urusan sebentar!" ucap Marchel setelah sampai dirumahnya.
"Mau kemana Pa? Kenapa gak tadi saja sekalian?" tanya Nadia.
"Ya soalnya tadi Papa baru baca pesan, katanya teman Papa ada perlu sama Papa dan ingin ketemu Papa!" ucap Marchel.
"Temannya cewek apa cowok?" tanya Nadia yang mulai menaruh curiga kepada suaminya.
"Cowok kok Ma, Mama tenang saja Papa gak akan selingkuh kok!" kata Marchel.
"Ya Udah deh Pa, hati-hati kalau begitu!" kata Nadia.
"Bintang, Papa berangkat dulu ya!" ucap Marchel.
"Iya Pa, hati-hati!".
Setelah mobil Marchel sudah tidak nampak lagi dari halaman rumahnya, Nadia mengajak Bintang untuk masuk ke dalam rumah.
"Ma, kok Papa terlihat aneh ya?" ucap Bintang sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Mama juga merasa seperti itu, sejak dari rumahnya Cinta Papa kamu seperti ketakutan begitu!" kata Nadia.
"Iya, perlakuannya terhadap Cinta pun berubah. Biasanya Papa mengkhawatirkan Cinta, bahkan mengijinkan Mama untuk menjadikannya anak angkat, tapi dari sikapnya tadi Mama rasa Papa kamu menyembunyikan sesuatu!" imbuh Nadia.
"Coba nanti Bintang cari tahu deh Ma," kata Bintang.
Nadia menganggukkan kepalanya.
...****************...
Di sisi lain disebuah restauran...
"Lama tidak berjumpa, mantan pelanggan!" ucap Laras kepada seorang pria yang duduk didepannya.
"Dunia sangat sempit ya, kita bertemu lagi. Katakan Apa maumu?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Jangan buru-buru gitu dong, kita pesan makanan saja dulu. Kamu yang traktir ya!" ucap Laras dengan sikap yang tidak tahu diri.
Laras pun memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan yang mahal.
"Tidak keberatan kan kalau saya pesan yang mahal?" tanya Laras setelah selesai memesan.
"To the point saja! Kamu mau apa dari saya? Mau uang atau apa? Saya akan kasih asal jangan kasih tahu kepada istri dan anak saya tentang hubungan gelap kita di masalalu!" ucap pria itu.
"Mas, Mas! Dulu kamu sepertinya menikmati permainan kita. Tapi setelah aku melahirkan, kenapa aku tidak menerima tanggung jawab dari kamu? Seperti yang anak istrimu dapatkan?" tanya Laras.
Pria itu terdiam, dia menundukkan kepalanya.
"Cinta itu anak kita?" tanya itu.
"Mas Marchel, yang kamu katakan tidak salah!"
"Gimana? Kalau aku kasih tahu anak dan istrimu kira-kira seperti apa tanggapan mereka?" ancam Laras.
"Ja...jangan beritahu mereka!" ucap Marchel dengan gugup.
"Kenapa tidak? Bukankah ini permainan yang sangat menarik?" tanya Laras.
"Kamu kira saya bodoh? Saya sudah bertahun-tahun hidup menderita dan mencari keberadaan kamu, tapi setelah bertemu kamu hanya memberikan uang sekecil itu? Padahal kamu orang kaya loh Mas," kata Laras sembari menyentuh tangan Marchel yang diatas meja.
Namun Marchel dengan cepat menghindar, yang membuat Laras mengeluarkan senyuman aneh.
"Dulu kamu tidak bisa kalau tidak menyentuh aku, tapi sekarang kelihatannya kamu sudah j*jik jika bersentuhan denganku?" ucap Laras.
"Aku sudah punya anak, kamu jangan mengganggu kehidupanku lagi. Cepat beritahu aku apa permintaanmu, kalau tidak aku akan pergi!" kata Marchel.
"Tidak usah buru-buru, lagipula aku hanya minta uang 30 juta setiap bulannya kok!" ucap Laras yang membuat Marchel terkejut.
Laras dengan santainya menyantap hidangan yang dia pesan tadi.
"Kamu g*la ya? Aku mana ada uang segitu?" ucap Marchel dan memukul meja yang ada di depannya.
Marchel tidak sadar akan tindakannya yang dapat menimbulkan perhatian banyak orang kepadanya.
"Bukankah itu harga yang pantas untuk aku dapatkan? Aku sudah susah payah melahirkan dan selama bertahun-tahun aku hidup menderita," ucap Laras.
__ADS_1
"Penghasilanku saja 30juta perbulan, bagaimana dengan nasib anak istriku nanti jika semuanya diberikan kepada kamu?" ucap Marchel yang sudah tidak bisa berfikir lagi.
"Apa aku terlihat peduli sama kalian Mas? Lalu bagaimana dengan aku yang belasan tahun menerima penderitaan dari akibat yang kamu berikan Mas? Kamu selalu memikirkan istrimu, tapi kamu gak pernah memikirkan aku? Aku sampai kehilangan pekerjaanku demi melahirkan anak kita!" ucap Laras dengan nada tinggi.
"Bukankah itu resiko kamu yang bekerja sebagai gadis malam?" tanya Marchel dengan angkuh.
"Aku gak mau tahu, kalau 30 juta tidak sanggup kamu berikan, aku akan memberitahu istri kamu tentang hubungan gelap kita!" ancam Laras kembali.
"Silahkan saja, lagipula kamu juga tidak memiliki bukti apa-apa kan? Bagaimana kamu membuat istri saya percaya, sedangkan kamu saja sudah tidak disukai oleh istri saya sejak awal!" kata Marchel santai.
"Kamu lihat saja nanti, apa aku bisa atau tidak membuat istrimu percaya sama apa yang aku katakan. Ini nomor teleponku, kalau kamu berubah pikiran hubungi aku!" ucap Laras lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Marchel sendirian.
"Arghhh!" Marchel mulai pusing dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi sih? Darimana aku bisa mendapatkan uang dan alasan apa yang harus aku berikan kepada Nadia dan Bintang," ucap Marchel yang sedang bingung.
"Jika seperti ini terus, aku tidak akan memiliki hari bahagia. Dan jika sampai Nadia tahu aku pernah selingkuh darinya sampai memiliki seorang anak, bisa bahaya!. Lagipula kenapa dulu aku iseng sih bermain dengan perempuan malam, padahal istriku lebih cantik dari dia," ungkap Marchel yang baru sadar akan perbuatannya di masalalu.
Marchel bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kasir untuk membayar makanannya. Kemudian Marchel mengemudikan mobilnya kembali, pikirannya sangat kalut di satu sisi dia sangat menyayangi anak istrinya. Namun, disisi lain dia telah menghianati mereka.
Kehadiran Laras memang awal dari bencana yang akan diterima oleh Marchel, tidak hanya berimbas kepada Marchel saja tapi Nadia dan Bintang juga akan terkena dampaknya.
Sesampainya dirumah, Marchel sebisa mungkin tidak memasang raut wajah yang membuat Bintang dan Nadia curiga. Dia berprilaku seperti biasanya terhadap anak dan istrinya walaupun di dalam pikirannya ada banyak sekali masalah yang berputar-putar.
"Papa udah pulang? Teman Papa mau ngapain?" tanya Nadia.
"Bulan depan dia mau minjam uang Ma," ucap Marchel berpura-pura.
"Berapa Pa? Dan untuk apa?" tanya Nadia.
"30 juta Ma katanya untuk buka usaha!" sahut Marchel yang berusaha tetap tenang agar Nadia tidak curiga.
"Kok banyak sekali Pa? Itu kan gaji Papa sebulan? Kita juga punya tabungan sedikit Pa, apa kita bantu dulu kali ya?"
"Papa bingung Ma, Papa juga kasihan melihat dia soalnya dia teman Papa SMK dulu," ucap Marchel dengan cepat memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan.
"Kalau gitu kasih saja deh Pa, Mama juga kasihan sama dia!" kata Nadia.
"Iya deh Ma, makasih ya Ma!" ucap Marchel tersenyum.
__ADS_1
'Untuk sementara seperti ini dulu, untuk jaga-jaga saja. Ternyata Nadia masih seperti dulu, masih mudah untuk di bohongi!' batin Marchel.