
"Ngapain hal kayak gini lo urusin sih Rin?" tanya Agus memprotes.
"Ya karena itu merupakan tugas gue buat menyampaikan kepada kalian. Ini juga demi kebaikan lo semua kali," ucap Riana.
"Alah, baru jadi ketua kelas aja belagu amat. Gimana jadi presiden nantinya," ucap salah satu temannya.
"Lebay banget sih Lo! Kalau mereka gak mau catat ya udah sih, repot amat hidup lo!" teriak Cantika yang berada di belakang Erna.
"Eh Lo bisa diem gak sih?" ucap Erna kembali membalikkan badannya ke arah Cantika.
"Mulut-mulut gue, kenapa lo yang atur!" sahut Cantika.
"BUG!"
Semua orang yang berada di kelas tersebut terkejut mendengar suara keras dari pukulan meja. Mereka menoleh ke arah Cinta dengan tatapan yang bingung.
"Kalian semua kenapa gak bisa hargai usaha orang sih? Riana itu udah capek-capek menulis di papan tulis agar kalian bisa mencatat, tapi kenapa kalian tidak menghargainya?" ucap Cinta dengan nada tinggi.
Seketika kelas yang tadinya ramai berubah menjadi hening, namun mereka masih bersyukur tidak memilih Cinta untuk menjadi ketua kelas.
"Riana, kalau mereka gak mau nulis hapus saja tulisannya. Biarin aja yang mau-mau saja kamu berikan salinan soalnya, nanti juga mereka sendiri yang kena marah sama Pak Yoga!" ucap Cinta lagi.
Riana pun menuruti perkataan Cinta, setidaknya dirinya sudah menyampaikannya seperti yang dikatakan Cinta.
"Bagi yang ingin mencatat silahkan ke tempat duduk Riana. Dan bagi yang sudah selesai mencatat diharapkan untuk memberikan pinjaman kepada teman yang lainnya!" ucap Cinta.
Mereka yang ingin mencatat bergerombolan datang ke meja Riana, namun karena meja yang tidak terlalu luas dan tempat duduk tidak ada sebagian dari mereka hanya bisa menunggu.
Suasana menjadi hening, siswa yang tadinya ribut mendadak diam. Ada juga yang keluar dari kelas karena merasa kesal dengan Cinta.
'Oke juga kemampuan cewek ini. Memamg pantas menjadi cewek yang disukai oleh Andika!' batin Andika.
Setelah beberapa menit, seluruh siswa sudah selesai mencatat soal yang dititipkan oleh Pak Yoya. Bahkan siswa yang tadinya menolak untuk mencatat juga ikut mencatat karena Cinta.
Mereka kembali membuat keributan, namun Cinta tidak mempedulikannya lagi karena itu pilihan mereka dan juga tidak merugikan orang lain.
Sedangkan Cinta mengerjakan tugasnya terlebih dahulu karena akan di kumpul minggu depan.
"Cinta, boleh ajarin gue gak? Gue paling gak bisa nih soal matematika!" ucap Bintang mendekatkan kursinya ke meja Cinta.
"Iya boleh Tang, sini gue ajarin. Yang mana yang lo gak ngerti?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Semuanya!" kata Bintang sambil senyum dengan menunjukkan giginya.
"Eh Cin, kenapa lo gak jadi guru gue aja sih?"
"Maksud lo?" tanya Cinta.
"Ya kayak gue les privat gitu, nanti lo ajarin gue dan gue bayar lo gitu!"
"Emang lo mau belajar?" tanya Cinta ragu.
"Ya maulah asal lo yang ajarin!"
"Tapi gue gak suka loh ngajarin orang setengah-setengah! Nanti lo sanggup gak pikiran lo terkuras?" tanya Cinta memastikan.
"Kalau itu sih gue gak yakin ya, tapi apa salahnya mencoba!"
"Yaudah deh, nanti lo bisa datang ke rumah gue atau gue kerumah lo ya!"
"Kalau bisa sih sepulang sekolah aja setiap hari senin, rabu sama jumat" kata Bintang.
"Tapi lihat situasi dulu ya!" kata Cinta membuat kesepakatan.
"Andika, lo mau kenalan sama gue gak?"
"Andika, gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama lo. Lo mau jadi pacar gue gak?"
Cinta tanpa sengaja mendengar perkataan yang menurutnya sangat menj*j*kan dari teman ceweknya.
Cinta melihat ke arah Andika, terlihat Andika sedang di kerumuni teman-teman ceweknya.
"Maaf, gue sudah punya pacar!" sahut Andika cool.
"Hah? Siapa pacar lo? Cantika ya?" tanya wanita itu.
"Bukan! Dia pacar gue!" sahut Andika menunjuk ke arah Cinta yang sedang menatapnya.
"Hah sejak kapan?" tanya wanita-wanita itu.
"Sejak barusan. Sejak gue mengklaim dia sebagai pacar gue!" sahut Andika enteng.
Seluruh wanita yang menggeromboli Andika menatap sinis ke arah Cinta.
__ADS_1
Sedangkan Cinta masih bingung, dan ingin protes alhasil dia menghampiri Andika.
"Hai sayang!" sapa Andika ketika Cinta datang menghampirinya.
"Sayang, sayang. Sejak kapan lo pacaran sama gue? Bahkan gue sama sekali gak suka sama lo!" ucap Cinta.
"Tapi gue suka sama lo!" ucap Andika.
"Sorry gue gak suka sama lo. Lain kali lo jangan mengklaim seenaknya dong ngaku-ngaku jadi pacar gue!" ucap Cinta.
"Belagu amat sih lo jadi cewek. Diluaran sana banyak yang ngejar-ngejar Andika, awas aja lo nyesel nanti ketika tahu satu sekolah ini akan menjadikan Andika sebagai pujaan hatinya!" ucap Cantika menghampiri Andika ke mejanya.
"Hah? Gue nyesel? Gak salah dengar tuh? Cowok yang kaya gini gue udah nemu berkali-kali. Dan dia bukanlah cowok langka!" balas Cinta.
"Udahlah, malas gue ladenin lo pada! Buang-buang waktu gue saja!" kata Cinta kemudian kembali ke mejanya.
"Menarik juga!" ucap Andika setelah Cinta kembali ke mejanya.
Wanita yang bergerombolan di meja Andika, dibubarkan oleh Cantika. Cantika kesal melihat penggemar Andika tersebut, baginya mereka tidak pantas untuk bersaing dengannya.
"Andika! Lo kenapa harus suka sama cewek miskin itu sih? Apa yang lo suka dari dia?" tanya Cantika.
"Lo gak tahu aja Cantika. Dia spesial menurut gue," sahut Andika yang membuat Cantika sakit hati.
"Gue udah ngejar lo bertahun-tahun sejak kita SMP, kenapa lo gak pernah pandang gue sih?" tanya Cantika.
"Gue udah anggap lo sebagai sahabat gue sendiri Can," ucap Andika sambil megelus rambut Cantika.
Hanya dengan belaian dari Andika saja sudah membuat Cantika luluh, dia pun kembali ke mejanya. Baginya bisa dekat dengan Andika saja sudah cukup, daripada seperti fans-fans nya Andika.
'Huh dasar cowok itu! Bikin aku dalam masalah saja, seenaknya dia ngaku-ngaku jadi pacarku. Bisa-bisa kalau gue gak protes tadi bakalan jadi musuh bebuyutan cewek-cewek sekelas gue' kesal Cinta dalam hati.
"Lo gak apa-apa Cin?" tanya Bintang yang melihat Cinta menancapkan pulpennya ke kertasnya dengan sekuat tenaga.
"Eh, eng...enggak apa-apa kok Tang. Gue cuma kesal sama saja tuh cowok! Tapi lupakan aja deh, lebih baik kita lanjutkan pelajarannya!" ucap Cinta.
'Bisa-bisanya anak baru itu mengaku sebagai pacar Cinta, untungnya Cinta menolak dengan terang-terangan. Tapi gue harus lebih berhati-hati, jangan sampai Cinta kepincut sama itu cowok!" batin Bintang.
Cinta dan Bintang melanjutkan pelajarannya kembali.
Cinta juga berencana untuk memberikan tugas-tugas pelanggannya, namun dia akan mengerjakan tugasnya terlebih dulu. Lagipula dia takut kalau nanti ada guru di dalam kelas pelanggannya.
__ADS_1