
"Kenapa sih Lo, tiap ada orang yang mau datang ke rumah lo pasti panik gitu," Bintang kembali menaruh curiga kepada Cinta.
"Bi..biasa aja," sahut Cinta yang mulai gugup.
"Tuh kan Lo gugup," kata Bintang.
"Biasa aja Tang, udah lo sana aja. Ntar antar aja pakaian Lo ke jalan XX. No ZZ Gang Cempaka ya," ujar Cinta.
"Siap Buk Bos," sahut Bintang, lalu kembali ke tempat duduknya.
'Cinta kok cantik banget ya, baru pertama kali Gue lihat dia dari dekat,' kata Bintang dalam hati.
Memang Cinta jarang berbicara dengan teman sekelasnya selain Erna. Karena dia sibuk mengerjakan tugas, jadi tidak sempat mengobrol kecuali penting. Teman-temannya pun tidak berani mengganggu Cinta, karena mereka tahu bagaimana sifat Cinta.
Cinta akan diam jika dia tidak di ganggu, tapi kalau merasa terganggu mereka bagaikan membangunkan harimau yang sedang tertidur.
...****************...
"Cinta, mana makanan Ibu?" tanya Laras dengan nada tinggi.
Dia sangat marah karena Cinta hanya menghidangkan sambal di dalam piring.
"I-ini Bu. Maaf tadi Cinta tidak membuat masakan yang enak, Cinta sudah tidak punya uang Bu," ujar Cinta.
"Makanya kerja biar punya uang, sok-sokan sekolah," bentak Laras.
Hati Cinta sangat teriris, karena yang seharusnya bicara seperti itu dirinya sendiri dan bukan Laras.
Cinta meninggalkan Laras di meja makan, membiarkan ibunya makan. Dia tidak mau jadi bahan pelampiasan lagi dan memutuskan pergi ke kamar walaupun perutnya masih kosong hanya terisi oleh air saja.
'Tuhan, kenapa cobaan ku berat sekali? Kapan Ibu akan berubah?"keluhnya.
Cinta melupakan itu semua terlebih dahulu, dia tidak mau terlarut dalam kesedihan karena itu hanya membuang tenaga dan waktunya.
"Fokus Cinta. Kamu pasti bisa, kamu pasti kuat. Semangat Cinta," Cinta menyemangati dirinya sendiri, karena tidak ada yang bisa menyemangati dirinya selain dirinya sendiri.
Cinta mengerjakan tugas-tugas temannya yang sebelumnya dan yang tadi. Dia ingin sebagian pekerjaannya selesai, agar tidak menjadi beban bagi dirinya kedepannya.
Sesekali dia melirik jam dinding yang di tempelkan di dekat pintu kamarnya, karena jam 5 sore dia ada janji dengan Bintang.
"Aduh ini kenapa susah banget ya?" keluh Cinta.
Dia tidak menemukan jawaban di buku pelajarannya, membuat dirinya kesusahan. Namun dia menggunakan caranya sendiri untuk berfikir karena sesuai permintaan teman-temannya yaitu tidak boleh benar semua.
__ADS_1
Dia sendiri bahkan tidak tahu jawabannya sudah tepat atau tidak, tetapi selama ini belum ada komplinan dari customernya bahkan dia mendapat beberapa pujian karena nilai mereka di atas KKM jadi mereka tidak perlu mengikuti remedian lagi.
Cinta menulis dan terus menulis, dia tidak bosan melakukan hal itu. Rasa lelah ada, tapi demi bisa melanjutkan sekolah dia rela kelelahan. Di dunia ini dia tidak dapat mengandalkan siapapun selain dirinya.
Dia harus berusaha sendirian, lelahnya hanya dia yang merasakan, tangisannya hanya dia yang mendengar. Orang lain tidak perlu tahu rasa sakit yang Cinta alami, karena dia tidak mau dikasihani. Selama dia mampu, Cinta akan berusaha sebaik mungkin.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sore, dia membereskan bukunya yang berserakan di atas lantai. Sebagian tugas sudah selesai, hanya tersisa 2 tugas saja. Milik dia dan customernya.
Cinta pergi ke meja makan untuk mengecek makanan, karena dia sudah hafal dengan prilaku ibunya. Laras tidak pernah dan tidak akan mungkin mau membereskan sisa-sisa makanannya apalagi mencuci piringnya.
Dan benar saja, sesampainya di meja makan Cinta menemukan piring yang kotor dengan sisa-sisa nasi dan lauknya. Cinta memakan sisa makanan yang disisakan oleh ibunya.
Setelah selesai makan, dia membereskannya dan pergi ke lokasi dimana dia akan mengambil pakaian Bintang untuk di cuci dan di setrika. Beruntung Cinta memiliki setrika, jadi dia tidak perlu meminjam ke tetangganya.
...****************...
"Nih pakaian gue yang harus lo cuci. Berapaan nih segini?" tanya Bintang.
"Seiklas lo aja!" ucap Cinta.
"Yaudah nih!" Bintang menyodorkan selembar uang senilai seratus ribu rupiah.
"Udah ambil aja, katanya seiklasnya tadi!" kata Bintang.
"Tapi gak segini juga Tang," ucap Cinta yang merasa tidak enak hati.
"Yaudah gak apa-apa. Anggap aja bantu teman," ucap Bintang.
"Gue pulang dulu ya, ada urusan!" kata Bintang berpamitan.
"Iya hati-hati, makasih ya Tang!" ucap Cinta
Bintang menganggukkan kepalanya lalu melajukan motornya.
Setelah pulang dari mengambil pakaian, Cinta singgah di sebuah warung yang memang bukanya sore hari. Namun lokasinya lumayan jauh dari rumah Cinta yang membuat Cinta jarang berbelanja di sini.
"Mumpung lewat, lebih baik aku singgah di warung itu saja membeli bahan gorengan agar tidak bangun terlalu pagi," gumamnya.
Dia berjalan menuju sebuah warung yang penjualnya seorang ibu-ibu.
"Bu saya mau beli tempe, ini dan ini ya," kata Cinta menunjuk bahan-bahan yang di perlukan.
__ADS_1
Pemilik warung itu mengambil sesuai dengan pesanan Cinta satu persatu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
"Totalnya berapa Bu?" tanya Cinta.
"35rb Dik," sahut pedagang itu.
Cinta membayar total yang di sebutkan dan mengambil barangnya lalu pamit pulang.
Sesampainya di rumah, Cinta langsung mencuci pakaian tersebut bersamaan dengan pakaian miliknya. Dia sengaja membeli sabun pencuci yang wanginya lebih tahan lama agar tidak mengecewakan Bintang.
Setelah semua pekerjaan Cinta selesai, dia duduk di luar sambil membaca sebuah novel yang dia pinjam di perpustakaan sekolahnya.
Udara di luar rumah Cinta sangat sejuk, selain itu juga membuat Cinta merasa tenang. Terlebih lagi ketika Laras tertidur, tidak ada yang mengganggu ketenangan Cinta saat ini.
****************
Keesokan harinya saat jam istirahat meja Cinta kembali di kerumuni oleh teman sekelasnya.
"Cinta Gue harus dapat gorengannya!" seru salah satu teman sekelasnya.
"Gue juga Cin," tambah yang lain.
Semuanya saling berebutan di meja Cinta, sehingga membuat Cinta berdiri dan berteriak, suasananya berubah menjadi sunyi.
"Tolong ya teman-teman berbaris dengan rapi," kata Cinta sambil tersenyum.
Semua teman-temannya mengikuti perintah Cinta, entah apa yang membuat mereka menuruti perkataan Cinta. Padahal pembeli adalah raja, tetapi Rajanya kalah telak.
"Ambil, pilih dan bayar," kata Cinta kepada seorang teman yang berbaris paling depan sembari menyodorkan plastik merah yang berisi gorengan.
Temannya yang sudah mengambil langsung pergi meninggalkan kelas entah kemana tujuan mereka Cinta tidak tahu dan tidak memperdulikannya.
Satu per satu Cinta menghampiri teman-temannya, dan menerima uang dari mereka. Hingga di baris terakhir tersisa dua dan di borong oleh anak yang berbaris paling akhir.
"Wihhh langsung habis," kata Erna menghampiri Cinta.
"Iya nih, kantin yuk!" ajak Cinta.
"Wow! Seorang Cinta mengajak Gue pergi ke kantin, mimpi apa Gue semalam?" kata Erna sambil menatap langit-langit.
"Lebay Lo," kata Cinta.
"Habisnya tumben Lo ngajak Gue ke kantin, udah gak diet lagi Lo?" tanya Erna.
__ADS_1
"Enggak, lapar Gue. Yuk buruan, ntar keburu habis jamnya," kata Cinta.