
Di rumah Andika, terlihat kedua orang tua Andika sedang mengobrol.
"Pa, Mau tahu sesuatu gak?" tanya Naya kepada suaminya.
"Apaan sih Ma?" tanya David penasaran.
"Anak kita sudah punya pacar loh!" ucap Naya sangat senang.
"Wah, kapan dia pacaran? Dan sama siapa?" tanya David yang ikut senang mendengar anaknya yang sudah memiliki pacar.
Karena dari dulu Naya dan David tidak pernah mendengar anaknya memiliki seorang pacar. Bahkan dengan para cewek saja dia bersikap dingin. Gak peduli secantik apapun cewek itu Andika tidak tertarik, membuat Naya dan David khawatir anaknya tidak bisa menikah di masa depan.
"Baru kemarin katanya, dia kelihatan senang banget saat bercerita sama Mama. Dan pacarnya itu sahabatnya Mama, kayaknya Andika memang mencintai Cinta deh, bahkan dia bisa meluluhkan hati Cinta," kata Naya dengan raut wajah senang.
"Maksud kamu anaknya Laras itu?" tanya David.
Seketika kesenangan David berubah menjadi suram, terlihat raut wajahnya yang nampak tidak menyetujui hubungan keduanya.
"Iya Pa, kenapa emangnya?" tanya Naya yang bingung dengan perubahan ekspresi wajah David.
"Kan Papa bilang tidak setuju kalau Andika sama anak teman Mama itu, gimana sih? Nanti dia bisa mempermalukan keluarga Ma. Lagipula kenapa tidak kita jodohkan saja Andika dengan anak yang orang tuanya setara dengan kita sih?" ucap David mengutarakan ketidaksetujuannya kepada Naya.
Naya yang mendengar hal tersebut berubah menjadi kesal, ini adalah kebahagiaan putranya tentu saja Naya menyetujuinya. Sedangkan David, Naya bahkan tidak pernah melihat David begitu perhatian dengan Andika. Bahkan selama ini Naya merasa bahwa David selalu menghalangi jalan kebahagiaan anaknya sendiri.
Setiap bertindak sesuatu Andika selalu tidak mendapat persetujuan dari David. Sehingga membuat hubungan antar ayah dan anak ini menjadi renggang.
"Pa, cinta gak bisa di paksakan. Kali ini biarkan saja Andika melakukan apa yang dia mau, lagipula dia sudah besar!" ucap Naya menahan amarahnya.
"Tapi Ma, Laras itu Papa tahu gimana prilakunya, dan Papa yakin sifat buruk Laras pasti menurun kepada anaknya. Kamu gak malu apa nantinya punya menantu yang seperti itu di masa depan?" ucap David yang terus menolak setuju.
"Pa, Andika masih sekolah dia masih memiliki masa depan yang panjang. Lagipula belum tentu juga Andika akan menikah dengan Cinta, bisa saja cinta Andika kepada Cinta semakin lama menjadi pudar," kata Naya.
"Mencegah lebih baik daripada mengobati Ma. Gimana kalau Andika tetap mencintai Cinta?" tanya David sambil memegang kepalanya yang dirasa sedikit pusing karena memikirkan masalah anaknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apalah Pa, selama Andika bahagia kenapa kita harus menghalangi jalannya?" sahut Naya.
"Ahhh! Udahlah Ma intinya Papa tidak akan merestui hubungan mereka. Ingat, Andika adalah satu-satunya orang yang akan menjadi penerus Papa. Dia tidak boleh mencemarkan nama baik keluarga kita karena menikahi anak dari pelac*r," kata David sambil berdiri dan melangkah meninggalkan istrinya.
"Pa, kamu gak boleh egois seperti itu. Pa!...Pa!" Naya berteriak memanggil suaminya yang tidak peduli dengan apa yang dia bicarakan.
Dia menghembuskan nafas dengan kasar, dia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Naya menyandarkan bahunya ke belakang sofa, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mama kenapa?" Naya di kejutkan oleh suara Andika yang baru saja pulang sekolah.
"Eh, ka...kamu kapan pulang? Kenapa tidak terdengar suara motornya?" tanya Naya gugup.
"Barusan kok Ma. Mama kenapa? Ada masalah ya?" tanya Andika yang melihat Naya gusar.
"Enggak kok, Mama cuma lagi lelah aja bekerja seharian," ucap Naya mencari alasan.
'Kira-kira Andika tadi dengar aku sama Mas David bertengkar gak ya? Kalau sampai Andika dengar maka tingkat kebenciannya akan semakin meningkat kepada Mas David,' batin Naya.
"Ma, aku izin pergi jalan-jalan sama Cinta ya!" ucap Andika.
Meskipun Andika sangat di sayang oleh Naya, namun Naya tidak akan membiarkan anaknya masuk ke dalam pergaulan yang merugikan dirinya. Dia tetap memberikan aturan kepada Andika agar Andika terhindar dari sebuah geng-geng yang gak jelas. Apalagi zaman sekarang lagi rame dengan geng-geng motor yang berkeliaran di jalanan. Selain itu club malam yang bisa menyesatkan para anak muda.
"Mama tenang saja, Andika pasti akan menjaga Cinta kok!" ucap Andika.
"Yaudah kamu ganti baju dulu terus makan ya," kata Naya sambil tersenyum.
"Okey Mama!" sahut Andika melangkahkan kakinya ke arah kamarnya.
Naya yang melihat kepergian anaknya merasa waktu berjalan cepat.
'Anakku sudah tumbuh dewasa, sebentar lagi dia akan lulus dari sekolah. Entah Andika mau atau tidak melanjutkan ke Universitas atau akan bekerja. Dari dulu anak ini menolak untuk sekolah karena kejeniusan yang sudah dia punya. Namun mencari pekerjaan tanpa memiliki ijazah juga tidak akan mendapatkan pekerjaan,' batin Naya, senyum terukir di wajahnya yang bulat itu.
...****************...
__ADS_1
Beberapa hari terakhir ini Cinta msndapat banyak job dari pelanggannya. Dia mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, agar kejadian tadi tidak terulang lagi. Dia sungguh malu di hukum seperti itu, jadi mulai sekarang dia harus lebih teliti memeriksa tugasnya sebelum berangkat ke sekolah.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu terdengar dadi luar pintu, Cinta melirik jam dinding yang tertempel di tembok tersebut.
"Siapa jam segini datang? Perasaan Ibu gak ada keluar deh," ucap Cinta.
Cinta bergegas datang ke depan dan membukakan pintu, dia melihat Andika yang sedang berdiri di depan pintu yang telah dia buka.
"Ada apa lo datang ke sini?" tanya Cinta.
"Mau ajak lo jalan!" kata Andika sambil tersenyum.
"Gak ah, gue banyak job nih!" tolak Cinta.
"Masa gak mau sih nemenin pacar jalan-jalan. Tugas kan bisa di kerjain nanti," kata Andika.
"Gue gak mau kelupaan lagi Andika, tanggungjawab gue besar nih!" ujar Cinta.
"Yaudah gue tungguin deh dan bantu kerjain," kata Andika.
"Eh ga usah, ga usah!" tolak Cinta dengan melambai-lambaikan tangannya di depan Andika.
"Gak apa-apa, gue bantuin biar cepat kelar. Lo ngeraguin kepintaran gue ya?" ucap Andika seolah-olah menunjukkan bahwa dirinya tersinggung.
"Ya... Yaudah deh. Lo masuk dulu, gue mau ambil buku ke kamar!" ucap Cinta.
Andika pun masuk ke rumah Cinta dan menunggu di ruang tamu sambil duduk, sedangkan Cinta bergegas mengambil buku di kamarnya.
Andika melihat sekeliling rumah Cinta, dia melihat beberapa atap yang hampir roboh.
'Cinta kok bisa ya tinggal di rumah kumuh seperti ini?' batin Andika.
__ADS_1
"Sorry ya lama nunggunya!" ucap Cinta sambil membawa beberapa buku di tangannya.
Buku tersebut Cinta letakkan di atas meja, lengkap dengan alat tulis lainnya seperti pulpen, pensil dan yang lainnya yang dia simpan di sebuah dompet.