Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 68


__ADS_3

Sepulang sekolah, Cinta singgah di toko kue, dia ingin merayakan ulang tahunnya dengan Laras.


"Mbak beli kue yang itu satu ya!" ucap Cinta menunjuk pada sebuah kue kecil tersebut.


Penjualnya mengambilkan kuenya dan membungkusnya untuk Cinta.


"Berapa Mbak?" tanya Cinta kepada penjualnya.


"40 ribu Dik," sahut penjual kue tersebut.


Cinta memberikan uang sesuai dengan harga yang harus dia Bayar. Setelah melakukan transaksi, Cinta pun membawa kue tersebut pulang ke rumah.


Singkat cerita Cinta sudah sampai di rumah, namun dia tidak menemukan ibunya di rumah. Cinta masuk ke dalam kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya sambil menunggu kedatangan Ibunya.


"Ibu kemana ya? apa masih kerja kali ya?" pikir Cinta setelah mengganti pakaiannya.


Cinta menunggu kedatangan Laras sambil membaca buku di teras rumahnya. Beberapa jam setelah lama menunggu, Cinta memilih untuk istirahat sejenak di dalam kamarnya. Matanya sudah mulai mengantuk setelah membaca buku beberapa halaman.


...***...


"Dik kita jadi kan nanti malam ke Bar?" tanya Cantika kepada Andika di telepon.


"Iya jadi!" sahut Andika dengan nada datar.


"Oke deh, lokasinya yang kemarin aja ya, jam 7 malam kita ketemu di sana," kata Cantika yang sangat senang.


"Oke!" sahut Andika.


Lalu telepon di matikan oleh Andika yang membuat Cantika kesal. Meskipun seperti itu Cantika tidak terlalu peduli dengan hal itu lagi karena sebentar lagi mereka akan segera bertemu.


"Gue pakai baju yang mana ya? apa yang kemarin aja kali ya biar bisa menarik perhatian Andika?" pikir Cantika.


Di tengah-tengah saat dia memilih pakaian di dalam kamar, handphonenya berdering kembali. Cantika menjawab telepon tersebut yang ternyata dari pengawalnya yang menginformasikan bahwa dia sudah memesan kamar hotel sesuai perintah Cantika.


"Oke! kamu bawa ke sini kunci kamarnya ya!" perintah Cantika.


Cantika tinggal dengan orang tuanya, namun mereka sangat sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga jarang berada di rumah. Cantika tidak memiliki saudara, dari kecil dia di urus oleh pembantu rumahnya yang di ganti setiap tahun, ini bertujuan agar Cantika tidak terlalu dekat dengan pembantunya yang membuat Cantika menganggap pembantu tersebut adalah Ibunya.


Karena kurangnya waktu dari orangtuanya tuanya, Cantika jarang mendapat kasih sayang dari orang tua. Lama-kelamaan semakin Cantika beranjak dewasa tumbuh rasa benci di hati Cantika terhadap orang tuanya karena merek tidak pernah memperhatikannya. Setiap orang tuanya memberikan perintah kepada Cantika, dia tidak pernah menurutinya. Hal ini sengaja di lakukan oleh Cantika untuk membuat orang tuanya marah. Cantika tidak takut jika orang tuanya marah, justru dia akan sangat senang jika orang tuanya marah.


"Kali ini rencana gue gak boleh gagal seperti kemarin," ucap Cantika penuh tekad.


Jam 7 malam kemudian, Andika dan Cantika sudah berada di Bar yang sama, mereka bertemu di tempat yang sudah di tentukan.


"Dik kita duduk sana yuk!" ajak Cantika menggandeng tangan Andika.


"Iya, iya ah! gak usah pegang-pegang kali!" ucap Andika menghempaskan tangan Andika dari tangannya.

__ADS_1


"Iya deh sorry! yuk duduk sana. Lo harus temani gue minum ya!" ucap Cantika.


Andika bersabar menghadapi tingkah Cantika demi menghindarinya. Dia tahu betul tentang teman lamanya itu yang suka membuat masalah.


Andika dan Cantika masuk ke Bar tersebut dan mencari tempat duduk lalu memesan sebotol minuman.


"Lo yakin mau minum di sini? nanti kalau lo mabuk jangan ngerepotin gue ya!" pesan Andika sebelum semuanya terjadi.


"Iya, iya bawel banget sih!" kata Cantika.


Setelah minumannya datang, Cantika menuang minuman tersebut ke dua gelas yang ada di depannya. Cantika menyodorkan gelas yang sudah berisi minuman tersebut kepada Andika.


"Gue gak minum! gue takut mabuk!" tolak Andika.


"Minum lah Andika! kan lo udah janji mau temani gue, gimana sih!" ucap Cantika menunjukkan raut wajah kesalnya kepada Andika.


Akhirnya Andika pun menurutinya, dia berjanji minum tetapi tidak sampai mabuk dan Cantika pun menyetujuinya.


"Gue ke kamar mandi dulu ya!" ucap Andika.


'Ini kesempatan gue untuk menaruh obat ke minuman Andika,' batin Cantika.


Dia mengeluarkan obat perangsang dari dalam tasnya ketika Andika sudah pergi, lalu menuangkannya ke dalam minuman Andika.


'Sebentar lagi lo akan menjadi milik gue Andika!' batin Cantika dengan senyuman miring terukir di wajahnya.


Beberapa menit kemudian Andika balik dari kamar mandi dan mengajak Cantika untuk pulang. Kepala Andika sangat pusing setelah minum beberapa gelas kecil tadi, dia memang tidak bisa minum-minuman seperti itu.


"Lihat, lo aja udah mabuk kayak gitu. Lebih baik gue antar lo pulang!" ucap Andika.


"Gak perlu! gue belum mabuk kok! Nih gue masih bisa minum!" kata Cantika mengambil segelas minuman yang tadinya akan diberikan kepada Andika.


Cantika tidak sadar sudah mengambil minuman yang tercampur dengan obat tersebut.


"Tuh lihat kan gue masih belum mabuk!" kata Cantika


Cantika berdiri dari tempat duduknya dan jatuh ke pelukan Andika karena kakinya tak kuat menahan badannya.


"Tuh lihat, jalan lo aja udah gak benar. Dah mending gue antar lo pulang dari lo bikin repot gue nantinya!" ucap Andika sambil menyeret Cantika keluar.


Andika menemukan mobil Cantika, dia pun menghampiri mobil tersebut yang ternyata ada seorang sopir di dalamnya.


"Nah kebetulan Bapak di sini! Tolong antar Cantika pulang ya, dia mabuk!" ucap Andika kepada sopir Cantika.


"Loh udah selesai? kok cepat banget?" tanya sopir tersebut yang memang sudah kenal dekat dengan Andika.


"Iya Pak! lihat majikan Bapak sudah mabuk seperti itu. Tolong di antar pulang ya!" ucap Andika.

__ADS_1


"Baik Den!" sahut sopir tersebut dengan raut wajah yang sedikit bingung.


Setelah menitipkan Cantika kepada sopirnya, Andika pergi mengambil sepeda motornya. Meskipun kepalanya pusing, Andika nampaknya masih sanggup untuk sekedar pulang sendirian.


"Aneh, katanya mau ajak Den Andika ke hotel kenapa menjadi seperti ini?" pikir sopir tersebut.


"Ah sudahlah! Tugasku hanya mengantarkan Nona pulang dengan selamat!" ucap Sopir tersebut kembali.


Di tengah perjalanan, Cantika mulai meracau memanggil nama Andika. Dia merasa sedikit panas sehingga tanpa sadar membuka sedikit pakaiannya.


"Andika lo dimana? kenapa badan gue panas?" racau Cantika.


"Andika! lo cuma bisa jadi milik gue. Lo jangan pergi Andika!" ucap Cantika.


Sopir yang bertugas mengantar Cantika merasa sangat khawatir dengan kondisi majikannya. Dia menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah.


Sesampainya di rumah, Sopir tersebut dengan panik mengetuk pintu memanggil pembantu yang biasa bekerja di rumah Cantika. Namun lama tidak mendapat jawaban, akhirnya sopir tersebut meneleponnya.


"Nem, kamu dimana? Nona mabuk tolong bukain pintunya, kamu bawa masuk Nona!" ucap sopir tersebut kepada Inem, pembantu tersebut.


"Kamu lupa ya kalau hari ini saya izin cuti! kamu bawa aja masuk ke kamar Nona. Nona punya kunci cadangan kok, cari saja di sana! Udah ya aku lagi sibuk," ucap Inem langsung mematikan teleponnya.


"Arghh! Dasar Inem tidak berguna!" ucap sopir tersebut dengan wajah panik.


Sopir yang bernama Pak Rusmadi tersebut kembali ke mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Dia melihat Cantika yang masih menyebut nama Andika.


"Maaf ya Non, saya izin geledah tasnya!" ijin Pak Rusmadi kepada Cantika yang masih belum sadar dari mabuknya.


Pak Rusmadi mencari kunci yang di maksud oleh Inem tadi. Dan akhirnya dia menemukan kunci yang dia cari. Pak Rusmadi segera bergegas membuka pintu rumah, lalu kembali ke mobil membawa Cantika masuk.


Namun Pak Rusmadi sempat melihat tubuh Cantika yang terlihat mengg*da. Syukurnya dia mampu tersadar dari niat buruknya tersebut.


Tanpa menunggu lagi, Pak Rusmadi segera membawa Cantika masuk ke kamarnya sebelum hal buruk terjadi.


"Andika jangan tinggalin gue!" racau Cantika lagi.


Pak Rusmadi segera merebahkan tubuh Cantika ke atas ranjang. Dia melihat Cantika yang masih belum sadarkan diri dan masih meracau.


Cantika membuka matanya, dia melihat Pak Rusmadi sebagai Andika. Cantika pun menarik tangan Pak Rusmadi membuat Pak Rusmadi terkejut.


"Nona apa yang Nona lakukan? saya bukan Andika!" ucap Pak Rusmadi ketika Cantika menganggapnya sebagai Andika.


"Andika badan gue panas! bantu hangatkan gue pliss!" pinta Cantika yang masih melihat sopirnya sebagai Andika.


Pak Rusmadi yang hanya seorang pria biasa juga tak bisa menahan dirinya. Terlebih lagi ketika Cantika mulai melepaskan pakaiannya. Melihat lekuk tubuh majikannya, Pak Rusmadi akhirnya tergoda dengan rayuan Cantika yang menganggapnya Andika.


"Jangan salahkan saya bersikap tidak sopan ya Non!" ucap Pak Rusmadi sebelum melakukan aksinya.

__ADS_1


Pak Rusmadi menghampiri Cantika yang terbaring di atas ranjang. Perlahan Pak Rusmadi membuat Cantika merasakan kenikmatannya.


"Tak sia-sia aku menjaganya, akhirnya aku bisa melakukannya denganmu Andika! lo jadi milik gue sekarang!" racau Cantika kembali.


__ADS_2