
"Gimana Cin? lo mau kan maafin gue?" tanya Andika.
"Maaf gue belum bisa maafin lo Andika!" sahut Cinta lalu membalikkan badan ingin masuk, namun Andika menarik tangannya.
"Cin, pliss lo maafin gue. Gue pasti bakalan lakuin apapun yang lo mau Cin," kata Andika.
"Gak bisa. Lo sudah menghina Ibu gue, gimana gue bisa maafin lo dengan mudah?" teriak Cinta menghempaskan tangannya dari genggaman Andika.
Cinta yang masih benci merasa j*jik bersentuhan dengan Andika. Yang dulunya sangat senang dan berdebar-debar saat di genggam tangannya, sekarang hanya merasakan kebencian.
"Gue udah minta maaf Cin, lagipula gue sudah mendapat hukuman dari sekolah, kenapa susah buat maafin gue?" tanya Andika yang mulai emosi.
"Sekarang gue tanya, lo sayang gak sama tante Naya?" tanya Cinta dengan suara rendah.
"Gu...Gue sayang lah!"
"Gimana perasaan lo saat Tante Naya di hina oleh orang lain, apa lo senang? Apa lo bakalan gampang memaafkan orang yang sudah menghina Ibu lo sendiri?" tanya Cinta.
Andika menggelengkan kepalanya dengan pelan, dia baru mengerti setelah membalikkan posisinya kepada dirinya sendiri.
"Iya Cin, gue sudah paham. Gue balik dulu," ucap Andika dengan pasrah.
Cinta berdiri mematung melihat kepergian Andika. Setelah Andika sudah tak terlihat barulah Cinta mengeluarkan air matanya. Hatinya sangat sakit, setiap melihat Andika rasa benci terus muncul. Namun juga ada rasa sedih ketika dia mengingat kenangannya bersama Andika selama satu bulan terakhir.
Cinta masuk ke kamarnya dengan pipi yang masih basah, dia merebahkan badannya ke atas ranjang lalu menangis tersedu-sedu untuk meringankan rasa sakit di hatinya.
"Kenapa harus lo yang menghina Ibu gue? gue gak bisa benci sama lo tapi juga gue ga bisa memaafkan kesalahan lo ini," ucap Cinta di tengah-tengah tangisannya.
Hatinya menjerit kesakitan, ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya untuk meringankan rasa sakitnya. Cinta menangis cukup lama, sarung bantalnya sudah basah akibat air mata yang dia keluarkan hingga akhirnya dia tertidur dengan rasa sakit dihatinya.
...****...
Keesokan harinya Cinta mendapati matanya yang mulai membengkak meskipun sudah mencuci muka namun tidak juga menghilangkan sembap dimatanya akibat menangis semalam. Cinta bingung bagaimana cara menutupi matanya yang sembap itu, tiba-tiba Laras datang ke kamarnya.
"Kamu kenapa Cinta? kok belum keluar dari kamar?" tanya Laras.
__ADS_1
Biasanya Cinta sudah keluar dari kamar untuk sarapan, namun hari ini Cinta cukup lama di dalam kamar sehingga membuat Laras sedikit khawatir dan menghampirinya.
"Bu, mata Cinta sembap. Gimana ini? Cinta gak mungkin sekolah dengan mata yang sembap ini," ucap Cinta dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Sebentar Ibu ambilkan air dingin dulu, nanti kamu kompres pakai itu ya," ucap Laras lalu pergi ke dapur untuk mengambil air dingin.
Setelah selesai mengambilkan air dingin, Laras kembali ke kamar Cinta untuk mengompres matanya Cinta.
"Kompres dulu ya Cin," ucap Laras sambil menempelkan selembar kain kecil ke mata Cinta yang sembap itu.
Laras membiarkan kain tersebut menempel beberapa menit di mata Cinta kemudian mengangkatnya, dia melakukan itu berulang kali hingga di rasakan cukup.
"Udah. Meskipun tidak sepenuhnya hilang tetapi sudah lebih ringan dari yang tadi. Sekarang sarapan dulu ya, gak usah khawatir kalau di tanya bilang saja salah tidur,'" kata Laras menenangkan anaknya.
"Iya Bu,'" ucap Cinta tersenyum.
Cinta menggendong tasnya keluar kamar mengikuti Laras dari belakang. Sesampainya di meja makan terlihat sepotong roti sudah berada di atas piring, di sampingnya juga ada segelas susu yang di siapkan Laras untuk putrinya. Cinta merasa bersyukur Ibunya telah berubah yang dulunya sangat membencinya sekarang justru berbalik menyayanginya.
Yang dulu seperti menganggapnya anak tiri, sekarang sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. SElama bertahun-tahun menunggu akhirnya Cinta mendapat kasih sayang seorang Ibu seperti teman-temannya yang lain. Dulu biasanya Cinta hanya bisa iri melihat teman-temannya yang di ayang oleh Ibunya, tetapi sekarang dia sudah bisa merasakannya sendiri.
"Makasih Bu," ucap Cinta kepada Laras ketika Laras duduk di kursi tepatnya di samping Cinta.
Cinta memeluk Ibunya erat-erat, dia tidak ingin semuanya berubah. Cinta ingin selamanya bisa seperti ini dengan Ibunya, meskipun tanpa ayah hanya ada seorang Ibu Cinta sudah bersyukur sekali.
"Udah, udah. Kamu makan dulu, nanti telat ke sekolahnya,," ucap Laras yang masih di peluk oleh Cinta.
Cinta melepas pelukannya dari Ibunya, dia makan rotinya dan meminum susu yang sudah hampir dingin itu.
"Bu aku pergi ke sekolah dulu ya," ucap Cinta berpamitan kepada Laras sambil mencium punggung tangan Laras.
"Iya hati-hati ya Cinta," ucap Laras.
Cinta berjalan menuju ke tempat penungguan angkot. Dia berangkat sekolah seperti biasanya, tidak lagi di antar jemput oleh Andika.
Beberapa menit setelah Cinta pergi, Naya datang mencari Laras.
__ADS_1
"Laras!" panggil Naya ketika melihat Laras hampir masuk ke dalam rumah.
Laras menolehkan kepalanya ke belakang, dia melihat sahabatnya, Naya sedang berjalan ke arahnya. Laras tersenyum kepada sahabatnya itu.
"Ada apa kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Laras eti sahabatnya sudah berada di hadapannya.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Naya.
"Kayaknya serius nih, masuk dulu yuk!" ajak Laras.
Mereka berdua pun masuk ke dalam, Laras mempersilahkan Naya duduk di sofa sedangkan dirinya pergi ke dapur untuk membuatkan Naya segelas teh.
"Mau bicara apa sih sampai pagi-pagi buta kesini?" tanya Laras sambil menyuguhkan teh yang sudah di buatnya tadi.
"Masalah anak-anak kita. Kamu sudah tahu kan kalau mereka sudah putus? Dan juga Andika menghina kamu di sekolah dan mempermalukan Cinta. Cinta pasti sangat sedih dipermalukan oleh Andika. Aku ke sini untuk minta maaf sama kamu," ucap Naya tanpa banyak basa-basi lagi.
Naya merasa sangat bersalah kepada Laras terutama kepada Cinta. Apalagi dia sepat menjodohkan Cinta dengan Andika atas permintaan Cinta.
"Udah mereka masih anak-anak, belum bisa mengatur emosinya," kata Laras tersenyum.
"Laras makasih ya. Tujuanku ke sini bukan hanya itu saja, aku juga mau menawarkan pekerjaan yang benar-benar pekerjaan untuk kamu. Aku mohon Laras, kamu jangan menipu pria itu lagi jika Cinta tahu mungkin dia akan membencimu," pinta Naya yang memang sudah tahu dengan perekonomian sahabatnya ini.
"AKu memang berencana untuk bertemu Marchel nanti siang untuk menghentikan ketidakjujuran ini. Aku juga ingin mengaku sama dia dan mengganti rugi uangnya setelah mendapatkan pekerjaan. Tetapi aku tidak bisa menerima pekerjaan yang kamu berikan," kata Laras yang memang sudah menyiapkan semuanya dengan matang beberapa hari ini.
"Kenapa?" tanya Naya.
"Ya kamu tahu sendiri Andika masih membeni Cinta, bagaimana mungkin aku bekerja sama kamu," kata Laras.
"Tebnang saja, ini teman aku kok yang nawarin. Pekerjaannya di sebuah toko mereka lagi ,mencari karyawan dengan posisi dikasir. Aku rasa kamu masih buisa untuk sekedar menjadi kasir,"
"Yang benar? kalau begitu apa saaj persyaratannya?" tanya Laars bersemangat.
"Gak ada. Aku sudah bilang ke dia untuk merekrut kamu sebagai karyawannya. Kalau kamu mau besok aku antar kamu, kalau sekarang aku masih ada urusan," ucap Naya.
"Wah makasih ya Naya. Maaf sudah merepotkanmu," kata Laras.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kita kan sahabat," ucap Naya.
Setelah selesai mengucapkan apa yang perlu di sampaikan, Naya pamit untuk meninggalkan Laras dan kembali bekerja.