Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 72


__ADS_3

satu minggu setelah pemakaman Ibunya, Cinta sudah merasakan lebih tenang. Terlebih lagi saat dia memimpikan Ibunya sebelum pemakaman waktu itu.


Hanya saja kehidupan Cinta kembali sepi, dia tinggal sendirian di rumahnya. Naya berencana untuk mengajaknya tinggal di rumahnya tetapi Cinta menolak.


"Bagaimanapun juga ini adalah satu-satunya yang di tinggalkan oleh Ibu," kata Cinta saat menolak penawaran Naya.


Cinta duduk di teras rumahnya, matanya tak lagi sembap seperti sebelumnya. Dia telah mengikhlaskan kepergian Ibunya, dia sadar manusia akan meninggal pada waktunya.


Tiba-tiba Cinta mendengar suara sepeda motor yang berhenti di depan pagar rumahnya. Cinta memperhatikan dengan seksama, bagaimanapun juga dia tinggal sendiri jadi harus lebih waspada dari biasanya.


"Hai Cinta!" ucap seorang pria yang berjalan menuju ke arahnya.


"Ternyata lo Tang, kirain siapa!" ucap Cinta merasa lega karena ternyata itu adalah temannya sendiri.


"Lo ngapain kesini? ada urusan apa?" tanya Cinta kepada Bintang setelah Bintang berada di sampingnya.


"Gak, gue juma mau lihat lo aja kali aja kesepian. Oh ya gue ada hadiah nih buat lo!" ucap Bintang merogoh tasnya mengambil hadiah yang di maksud untuk Cinta.


"Hadiah apa? lo duduk dulu!" ucap Cinta.


Bintang belum menjawab pertanyaan Cinta, dia mengeluarkan sebuah kotak sambil duduk menyerahkannya kepada Cinta. Dari tampilan kotaknya Cinta sudah mengetahui isinya, dia tidak bisa menerima pemberian yang begitu mahal dari Bintang.


"Gue gak bisa terima ini Tang, ini terlalu mahal untuk gue!" ucap Cinta.


"Tapi ini bukan dari gue," kata Bintang menggantung kalimatnya membuat Cinta penasaran.


"Iya, ini dari Mama gue! Mama yang nyuruh ngasih kamu handphone biar ada apa-apa di sini kamu bisa menghubungi aku, Mama atau teman kamu yang lainnya," ucap Bintang.


"Tapi ini mahal, aku gak bisa bayar nantinya!" kata Cinta merasa tidak enak hati.


"Cinta, yang namanya hadiah tuh gak perlu di bayar. Gimana sih kamu, katanya pintar?" kata Bintang meragukan kepintaran Cinta.


"Iya gue tahu. Tapi gue gak bisa nerima barang yang mahal ini, atau gak gue cicil aja kali ya?"


"Udah gak usah. Kalau lo tolak ini mungkin Mama akan sedih, lo mau Mama gue sedih Cin?" tanya Bintang menggunakan Mamanya sebagai senjata.

__ADS_1


Bintang tahu Cinta orangnya tidak enak hati selain itu juga tidak tegaan. Cinta sudah pasti tidak akan membiarkan orang terdekatnya merasa sedih akibat dirinya sendiri.


"Iya udah deh Tang, sampein makasih buat Ibu lo ya Tang!" kata Cinta yang akhirnya menyerah untuk menolak.


"Iya Cin," sahut Bintang.


"Lo mau makan dulu Tang?" tawar Cinta.


"Gak deh, gue ke sini cuma bawa itu aja. Lo tahu kan cara pakainya?" tanya Bintang.


"Hehe enggak Tang!" kata Cinta nyengir.


"Ya udah gue ajarin dulu deh. Ini udah hidup sih, tadi sudah di setting sama petugasnya cuma kita perlu install aplikasi yang penting aja dulu, yang ini...,"


Bintang mulau mengajari Cinta bagaimana caranya menggunakan handphone tersebut. Dari cara menelepon, mengangkat telepon dan menggunakan aplikasi lainnya. Dengan kepintaran Cinta, dia tidak sulit untuk menghafal sekaligus mempelajari yang di ajarkan oleh Cinta. Dia terus berlatih menggunakan handphone tersebut, namun dia merasa wajahnya dengan wajah Bintang sedikit dekat sehingga membuat tidak fokus.


"Kenapa berhenti Cin?" tanya Bintang.


"Eng...enggak apa-apa kok Tang!" sahut Cinta melanjutkan memainkan handphonenya.


Dari kejauhan seorang pria memandang dengan wajah murung, di tangannya juga menggenggam sebuah kotak Handphone yang rencananya akan di berikan kepada Cinta. Namun Bintang lebih dulu memberikannya daripada dia sehingga dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


...***...


'Sudah seminggu polisi belum menjadikanku tersangka atas pembunuhan Laras, apa mungkin mereka tidak belum menemukan bukti yang cukup kuat?' batin Marchel yang duduk termenung di sofa.


Setelah pemakaman Laras, Marchel tidak hidup denhan tenang. Dia seringkali memimpikan Laras akan balas dendam kepadanya yang membuat Marchel ketakutan.


'Akhir-akhir ini Mas Marchel kenapa banyak diamnya dan melamun ya?' batin Nadia yang memperhatikan suaminya dari kejauhan sana.


Nadia memutuskan untuk menghampiri suaminya.


"Mas ada apa? kenapa akhir-akhir ini Mas selalu melamun?" tanya Nadia dengan suara yang lembut.


"Gak, Mas gak apa-apa kok. Hanya mikirin masalah pekerjaan saja," sahut Marchel.

__ADS_1


Setiap Nadia bertanya jawaban Marchel selalu seperti itu dan tidak berubah. Ini membuat Nadia semakin mencurigainya, dan menganggap Marchel tidak terbuka lagi dengannya.


"Mas kalau ada masalah cerita sama aku, jangan pendam sendiri. Atau jangan-jangan Mas berniat menyembunyikan masalah Mas sendiri?" tanya Nadia mulai mengutarakan perasaannya.


"Gak gitu Nad, aku cuma belum bisa aja cerita sama kamu. Lagipula masalah ini masih bisa ku atasi sendiri kok Nad, kamu tenang aja ya!" kata Marchel sambil mengelus rambut Nadia.


Marchel tidak ingin bertengkar dengan Nadia, itu akan membuatnya semakin menambah beban saja. Jadi mau tidak mau dia harus menenangkan istrinya dulu agar tidak berfikiran buruk terhadapnya.


Beberapa saat Bintang telah kembali dari rumah Cinta, dia pulang dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.


"Apa itu sayang?" tanya Nadia yang melihat Bintang membawa oleh-oleh.


"Aku ada beliin kalian makanan, di makan ya!" ucap Bintang sambil tersenyum ke aran Marchel dan Nadia.


"Tumben anak Mama bawa oleh-oleh? ada apa? lagi senang ya?" tanya Nadia.


"Gak Ma, tadi gak sengaja nemu rumah makan yang baru buka jadi Bintang coba ke sana dan rasanya lumayan enak, Bintang beliin deh buat Mama sama Papa," kata Bintang.


"Baik banget deh anak Mama, makasih ya sayang," ucap Nadia penuh kasih sayang.


"Makasih ya Bintang," kata Marchel.


"Ya udah kalian nikmati dulu makanannya, aku mau ke kamar dulu!" kata Bintang.


Sesampainya di kamar Bintang melamun, dia masih memikirkan keadaan Cinta.


'Gue masih punya uang kok Tang, mungkin kalau sudah gak ada pekerjaan lagi gue bakalan putus sekolah'.


Perkataan Cinta masih terngiang-ngiang di telinga Bintang. Dia ingin membantunya namun Cinta terus menolaknya. Bintang merasa sangat bersalah kepada Cinta setelah dia tahu yang membunuh ibunya adalah Papanya sendiri.


Bintang sempat melihat isi chat Papanya dengan Laras di WhatsApp yang sempat dia sadap. Di sana terlihat bahwa Laras dan Marchel mengadakan janji temu di bangunan tua, persis seperti tempat ditemukannya jasad Laras.


'Gimana kalau Cinta tahu kalau penyebab kematian Ibunya adalah papa? apa dia akan marah sama gue juga?' batin Bintang.


Dia berusaha keras menutupi dari Cinta dan juga Mamanya. Dia tidak mau kedua orang ini tahu kalau pembunuhnya Laras adalah Marchel.

__ADS_1


'Semoga polisi tidak menemukan bukti apapun untuk menjadikan Papa tersangka. Jika tidak, aku tidak tahu apakah Mama sama Cinta akan benci aku atau tidak?' batin Bintang.


Bintang sangat pusing memikirkan masalah ini, dia ingin menyelesaikannya tetapi dia takut Cinta akan membencinya. Saat ini Bintang tak mampu berkutik, dia tidak tega melaporkan papanya ke polisi. Bintang tidak ingin Papanya masuk ke penjara.


__ADS_2