Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 84


__ADS_3

Cinta melangkah dengan gugup, tatapan Andika yang seram membuat Cinta merasa ketakutan menatapnya balik.


"Habis darimana lo? Kenapa keluar malam-malam?" tanya Andika dengan suara datar.


"Apa urusannya sama lo?" tanya Cinta dengan nada tak senang.


"Ada urusannya lah sama gue. Gue calon pacar lo, dan lo keluar malam-malam sama bapak-bapak tua lagi, lo mau jual harga diri lo ya?" ucap Andika yang tidak nampu menahan emosinya lagi.


"Lo ngomong apa sih? Udah lo pergi aja deh daripada harus ribut sama gue di sini!" usir Cinta kepada Andika yang telah menuduhnya yang bukan-bukan.


"Gue nunggu lo udah dua jam di sini. Dan saat lo datang, lo malah usir gue. Gak punya hati lo Cin," ucap Cinta lalu pergi mengambil motor miliknya.


'Andika nunggu gue dua jam? Untuk apa? Apa karena dia khawatir sama gue?' batin Cinta.


Tanpa Cinta sadari, Andika sudah tidak terlihat lagi di halaman rumahnya. Andika telah pergi dan pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal dan kecewa.


Cinta pun merasa sangat bersalah karena telah mengusirnya. Dia berniat untuk menanyakan dengan jelas alasan Andika menunggunya.


'Gue harua bujuk dia besok, kalau enggak mungkin dia gak bakalan mau bantu aku lagi!' batin Cinta.


Andika memarkirkan motornya secara sembarangan di parkiran rumahnya. Dia sangat kesal kepada Cinta yang telah mengusirnya dari rumahnya.


Naya dan David yang melihat Andika berjalan denhan tergesa-gesa menjadi sangat bingung.


"Mana Cinta Dik? Katanya mau di ajak ke sini?" tanya Naya meminta janji yanng di ucapkan oleh Andika.


"Cjnta gak ada di rumahnya Ma!" sahut Andika lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


"Terus ngapain kamu lama banget baru pulang? Hei Mama belum selesai ngomong!" teriak Naya kepada anaknya yang terus berjalan tanpa mempedulikannya.


"Tumben Andika bersikap seperti itu sama Mama, kenapa ya Pa?" Naya bertanya kepada suaminya yang duduk di sampingnya.


"Mungkin ada masalah kali sama Cinta," sahut David.


"Haiss! Anak ini selalu membuat Cinta kesal, pasti kali ini Cinta sudah di buat kesal lagi sehingga muncul pertengkaran!" kata Naya kepada suaminya.


"Belum tentu loh Ma, siapa tahu saja Cinta yang membuat Andika kesal kan?" bantah David.


"Gak mungkin Pa! Pasti Andika yang buat Cinta kesal!" tungkas Naya yang tak mau kalah.


"Kalian para wanita, salah tapi tidak mau di salahkan!" sindir David kepada istrinya.


"Tapi kab memang cowok yang selalu bikin ulah! Kalau cowok tida membuat masalah cewek juga gak bakalan marah dan membuat cowok kesal kan?" ucap Naya yang mulai menggunakan nada tinggi.

__ADS_1


David tahu betul sikap istrinya, saat ini dia tahu Naya akan emosi jadi dia mengalah dan menyudahi pertengkarannya dengan Naya.


"Sudah Ma, Papa yang salah deh, Papa minta maaf ya!" ucap David.


"Emang Papa yang salah kok!" ucap Naya.


"Iya Papa salah, jangan marah lagi ya istriku!" bujuk David.


Naya hanya mengangguk tetapi raut wajahnya menunjukkan kalau dia kesal. Jadi David pun ingin menjahilinya.


"Ma ada kecoak di kaki Mama!" teriak David mengagetkan Naya.


"Mana Pa? Mana?" teriak Naya dan terkejut.


Dia menaikkan kakinya ke sofa dan memeluk David. Naya melihat senyum jahil di wajah suaminya, dan dia mulai mengerti apa yabg sudah terjadi.


"Ih Papa ngerjain Mama ya!" ucap Naya kesal.


"Habisbya Mama marah sama Papa," kata David yabg masih tertawa melihat kelakuan istrinya tadi.


"Tapi gak gitu juga caranya!" kata Naya.


"Ya udah makanya jangan marah lagi ya Mama sayang!" ucap David.


"Iya deh Pa! Mama minta maaf ya!" ucap Naya.


"Iya Papa maafin kok!" kata David memeluk istrinya.


Naya mendorong David dan melepas pelukannya.


"Jadi Mama yabg salah? Katanya Papa yang salah? Kok jadi Mama?" tanya Naya kesal.


'Aduh cobaan apalagi ini Tuhan!' batin David sambil menepuk dahinya.


"Bukan gitu Ma!" kata David kembali menenangkan istrinya.


"Tau ah! Pokoknya malam ini Papa tidur di sofa, awas saja Papa masuk ke kamar!" kata Naya kemudian meninggalkan suaminya.


"Ma, jangan gitu lah! Papa kedinginan kalau tidur di sofa!" ucap David.


Namun Naya tidak menolehkan kepalanya sedikitpun, seperti tidak mempedulikan perkataan David.


"Apa semua wanita seperti ini ya? Ini gara-gara Andika malah aku yang jadi kena imbasnya," kata David memijat keningnya.

__ADS_1


David menyusuli istrinya ke kamar, namun pintu telah di kunci oleh Naya. Jadi David memohon dari balik pintu agar Naya membukakannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka yang membuat David kegirangan.


"Papa tahu Mama gak akan tega membiarkan Papa tidur di sofa!" kata David senang.


BUG!


Naya melempar sebuah bantal dan selimut ke arah David dengan tatapan yang sinis lalu menutup pintu dan menguncinya kembali.


"Ma jangan marah dong!" kata David memohon kepada istrinya.


Namun sepertinya Naya tidak berniat untuk membukakan pintu. Dengan terpaksa David melangkahkan kakinya menuju ke sofa sambil membawa selimut dan bantal yang di berikan oleh istrinya.


"Hais malam ini gak bisa peluk istri terpaksa melampiaskannya ke bantal!" ucap David bersedih seorang diri di sofa.


"Ah daripada aku kedinginan di sini, lebih baik aku tidur di kamar Andika saja!" ucap David.


David bergegas pergi ke kamar Andika dan membawa selimut bantalnya.


"Papa ngapain bawa bantal sama selimut? Mau ngungsi?" tanya Andika setelah membukakan pintu untuk David.


"Mama kamu marah, Papa gak di bolehin tidur di kamar jadi Papa tidur di sini ya!" ucap David.


Tanpa menunggu persetujuan Andika, David langsung masuk dan merebahkan dirinya di atas ranjang anaknya.


"Kenapa kalian bisa berantem? Apa masalahnya?" tanya Andika penasaran.


"Ini semua gara-gara kamu!" kata David.


"Loh kok aku?" tanya Andika kebingungan.


"Ya kamu bersikap sepertu itu sama Mama tadi dan menebak kamu sama Cinta berantem. Mama menyalahkan kamu yang membuat masalah duluan dan Papa menyalahkan Cinta, karena perbedaan pendapat jadi berantem deh!" jelas David.


"Kalau di pikir-pikir ini hanya masalah sepele, kenapa Mama-mu sekejam ini sama Papa?" kata David mengeluh kepada anaknya.


"Mau gimanapun sikap Mama, itu kan pilihan Papa juga. Mau gak mau harus terima, awas saja Papa cari Ibu baru!" kata Andika menuturi Papanya.


"Kamu sama saja sepertu Mama kamu! Lebih baik Papa tidur, besok pagi-pagi bangunin Papa ya. Papa bakalan kembali ke sofa, siapa tahu saat itu Mama lihat Papa kedinginan dan merasa bersalah!" kata David mengajak anaknya untuk berkompromi.


Di sisi lain, Naya tidak bisa tidur karena masih kesal dengan suaminya. Dia kembali ke sofa menjemput suaminya, namun dia tidak menemukan suaminya.


"Sudah ku duga, Papa mana mau susah sedikitpun! Awas aja dia bersandiwara aku gak akan luluh juga buat maafin dia!" kata Naya semakin kesal dengan David.


Naya pun kembali ke kamarnya dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2