Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 71


__ADS_3

Marchel pria yang telah nekat membunuh Laras juga tidak bisa menjalani kehidupannya dengan tenang.


Sudah dua hari berlalu, Marchel tidak dapat melupakan kejadian tersebut. Setiap mengingat kasus pembunuhan tersebut, dia terus merasa ketakutan.


Nadia yang melihat tingkah suaminya merasa curiga telah terjadi sesuatu pada suaminya itu. Sempat dia bertanya namun Marchel mengatakan tak ada masalah apapun yang terjadi.


Namun Nadia tidak percaya begitu saja, dia merasakan suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi ketika Nadia ingin bertanya kepada suaminya, Bintang berteriak dengan keras memanggil namanya.


"Ada apa sih Bintang berteriak seperti itu?" tanya Nadia melihat Bintang berjalan dengan tergesa-gesa dan wajah yang nampak sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Ma, Ibu... Ibu Cinta telah meninggal dunia Ma," ucap Bintang yang seketika membuat kedua orang tuanya terkejut terutama Marchel.


"Apa? Ibunya Cinta..., kenapa bisa?" tanya Nadia sambil menutup mulutnya karena tidak menyangka berita buruk akan tersampaikan ke telinganya.


"Darimana kamu bisa tahu? dan bagaimana polisi bisa menemukannya?" tanya Marchel panik.


"Aku tahu dari Cinta, polisi menemukannya karena ada laporan dari warga yang mencium bau busuk dari sebuah bangunan yang sudah tidak terpakai. Salah satu warga tersebut melapor ke polisi," ucap Bintang.


"Apa polisi sudah tahu penyebabnya apa?" tanya Marchel.


Marchel berusaha mencari informasi mengenai pelakunya, dia takut polisi sudah mengetahui bahwa pelakunya adalah dirinya.


"Belum ada bukti yang kuat Pa, hanya ada sebuah kayi bekas darah. Mungkin polisi akan mencari sidik jari di kayu tersebut! Dan juga di temukan handphonenya, mungkin polisi juga akan mengecek riwayat panggilan atau chatnya dari sana" sahut Bintang.


"O-ohh gitu,"


'Papa kenapa terlihat panik dan bukan khawatir? apa mungkin ini ada hubungannya sama Papa?' batin Bintang yang sadar dengan raut wajah Papanya.


"Kita ikut ngelayat yuk Pa, Ma!" ajak Bintang.


"Baik, kalau gitu kita siap-siap sekarang ya," kata Nadia.


Mereka bertiga pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah duka. Setelah selesai mereka berangkat ke rumah duka yang di lakukan di rumah Cinta sendiri.

__ADS_1


"Kasihan sekali Cinta, dia hanya memiliki seorang Ibu dan Ibunya meninggalkan dirinya," ucap Nadia yang merasa iba dengan keadaan Cinta saat ini.


"Bintang juga merasa kasihan dengan Cinta Ma, dia sekarang hanya seorang diri dan penderitaannya di mulai lagi sekarang," kata Bintang.


'Gawat jika polisi membaca chatku dengan Laras di Handphonenya atau panggilanku dengan dia,' batin Marchel dengan panik.


Sesampainya di rumah duka, Nadia masuk ke pekarangan rumah Cinta. Nadia melihat Cinta sedang menangis tersedu-sedu, disampingnya seorang wanita sedang menenangkannya.


Nadia segera menghampiri Cinta dengan wanita itu.


"Cinta Tante turut berduka ya!" ucap Nadia.


Cinta hanya mengangguk, dia tidak mampu berkata-kata lagi. Dadanya sangat sesak akibat dari menangis tiada henti.


Cinta sudah menangis beberapa hari setelah mendapat kabar dari polisi tentang ibunya. Rasa sakit di hatinya lebih sakit saat dia putus cinta dengan Andika. Dia mengingat kenangannya dengan ibunya sewaktu dia di rawat di rumah sakit. Laras begitu perhatian padanya saat itu tetapi sekarang Cinta kembali merasakan kesepian yang dulu pernah dia alami.


'Bu, kenapa tuhan memanggil Ibu secepat ini? padahal Cinta varu saja menikmati kasih sayang dari Ibu. Tapi kenapa Ibu ninggalin Cinta secepat ini?' batin Cinta.


Dadanya semakin sesak, air matanya mengalir terus menerus, pipinya basah akibat air mata yang terus mengalir. Cantika tidak bisa menahan kesedihan ini, satu-satunya orang yang dia sayangi telah meninggalkannya. Cinta bahkan belum tahu bagaimana dia akan menjalani hidupnya tanpa seorang Ibu.


Sedangkan Andika dan David masih sibuk mengurus para tamu. Mereka tidak tega melihat Cinta, mereka berdua hanya bisa membantu Cinta seperti ini saja.


Lalu bagaimana dengan Marchel? dia hanya mematung di samping anak dan istrinya tanpa berkata apapun. Rasa bersalah dan takut tercampur aduk, dia tidak menyangka bahwa dirinya sendiri bisa membunuh orang.


Bintang yang awalnya sudah curiga kembali memperhatikan sikap Marchel. Dia menepuk pundak Marchel hingga membuatnya terkejut.


"Papa kenapa? kok dari tadi diam terus?" tanya Bintang menatapnya dengan penuh kecurigaan.


"Gak apa-apa, hanya tidak menyangka Ibunya Cinta akan di panggil dengan cepat oleh Tuhan!" sahut Marchel gugup.


"Ooohhh!"


'Kenapa semakin ke sini semakin mencurigakan? apa benar ada yang di sembunyikan oleh Papa?' batin Bintang.

__ADS_1


"Kalian para tamu duduk saja dulu, Cinta biar saya saja yang tenangkan!" ucap Naya kepada Nadia.


"Saya di sini saja Bu, saya juga ingin menenangkan Cinta di sini. Suami saya sama anak saya biar mereka membantu untuk mengurus para tamu," ucap Nadia.


"Kalau gitu aku sama Papa ke sana dulu ya menyapa para tamu!" ucap Bintang lalu mengajak Marchel untuk menyambut para tamu.


"Kalau boleh tahu hubungan Ibu sama Cinta apa ya? kelihatannya dekat sekali?" tanya Nadia basa-basi kepada Naya.


"Oh saya sahabat dari almarhum," sahut Naya.


"Oh seperti itu!"


Kemudian suasana kembali hening setelah Naya menganggukkan kepalanya. Mereka masih bersedih untuk Cinta, beberapa kali Nadia dan Naya menawari Cinta makan namun Cinta tetap menolaknya.


'Bagaimana mungkin aku bisa makan di saat hari pemakaman Ibu?' batin Cinta.


"Tante, apa aku punya banyak dosa di kehidupan dulu? kenapa bahkan di hari ulang tahunku sendiri Ibu meninggalkanku?" tanya Cinta dengan air mata yang masih mengalir.


"Kamu jangan berbicara seperti itu Cinta, Ibu kamu pasti sedih melihat kamu menyalahkan dirimu sendiri," kata Naya.


"Tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan ini Tante. Aku masih ingin Ibu menemaniku di sini, merawatku seperti sebulan lalu saat aku di rumah sakit. Kenapa saat Ibu berubah menjadi baik dan perhatian sama aku, Tuhan malah mengambilnya dariku? apa aku hidup tidak diperbolehkan untuk bahagia?" keluh Cinta panjang lebar kedua Naya dan Nadia.


"Cinta jangan berbicara seperti itu lagi. Kalau kamu sedih seperti ini terus Ibu kamu gak bakalan tenang, kamu mau Ibu kamu merasa bersalah dan tidak tenang seperti ini?" tanya Nadia yang sekaligus memenangkan Cinta melalui kata-katanya.


"Itu memang salah Ibu kok! kenapa dia meninggalkan Cinta sendirian? kenapa gak ngajak Cinta untuk pergi?" ucap Cinta.


Tangisannya semakin keras, dadanya pun semakin sesak rasanya Cinta ingin menyusul Ibunya namun dia takut Ibunya akan marah dengannya.


Beberapa saat setelah banyak mengeluarkan air mata, Cinta akhirnya tertidur. Naya dan Nadia tersenyum lega melihat Cinta bisa tertidur dengan lelap. Mereka sama-sama mengkhawatirkan Cinta, bagaimanapun juga mereka telah menganggap sebagai anak mereka masing-masing.


Di dalam mimpi Cinta bertemu dengan sang Ibu. Ibunya berpesan agar Cinta menjalani hidupnya dengan baik dan kuat menghadapi kerasnya dunia.


"Ibu pasti akan selalu menemani kamu! Kalau kamu rindu Ibu kamu keluarlah tatap bintang di langit, kamu akan merasakan kehadiran Ibu. Ingat, Ibu selalu ada saat kamu butuh!" kata Laras di dalam mimpi Cinta.

__ADS_1


Cinta terbangun setelah mendapatkan mimpi tersebut, dia mulai mengerti maksud ibunya. Meskipun ibunya sudah tiada namun di hatinya Laras tidak selalu ada dan tidak pernah tergantikan.


'Aku sayang Ibu. Ibu tenanglah di saja!' batin Cinta.


__ADS_2