
"Bu aku pulang!" ucap Cinta ketika memasuki pintu rumahnya.
"Eh Cinta udah pulang kamu, kenalin nih sahabat Ibu yang juga mamanya Andika!" ujar Laras ketika melihat Cinta memasuki rumahnya.
"Halo Tante," sapa Cinta.
"Oh jadi ini toh anakmu, cantik banget. Cocok sama Andika!" ujar Naya senang ketika melihat kecantikan Cinta.
"Ah maksudnya gimana Tante?" tanya Cinta merasa ada yang sedikit aneh.
Cinta mencari posisi duduk di sofa ruang tamu.
"Kami mau menjodohkan kalian, kamu mau kan?" tanya Naya.
"Ahh? Ta...tapi kan aku masih sekolah Tante, Andika juga sama kan?" ujar Cinta.
Padahal dalam hati Cinta ada rasa senang, hanya saja dia malu untuk menunjukkannya kepada Naya dan Laras.
"Ya gak masalah, kan gak ada salahnya kalian mengenal dulu selama pacaran setelah itu baru kalian menikah," kata Naya.
"Nah benar tuh Cinta, daripada nanti kamu pusing nyari pacar mendingan pacaran sama Andika. Lagipula Andika anak dari sahabat Ibu," kata Laras.
"Yaudah deh Bu, nanti Cinta pikir-pikir dulu!" kata Cinta.
"Yaudah gak apa-apa. Tapi katanya Andika sudah pernah nyatain cintanya ke kamu ya?" tanya Naya memastikan.
"Hah? Tante tahu darimana?" tanya Cinta terkejut.
"Dari Andika lah!" sahutnya.
'Aduh! Andika kenapa harus cerita ke Tante Naya sih' batin Cinta.
"Udah gak usah malu, kalau emang kamu cinta sama anak tante ya udah terima aja dia," ucap Naya.
"Benar tuh Cin, biar kita tenang juga!" dukung Laras.
Kedua orang tua dari mereka sudah memberikan dukungan, namun Cinta masih ragu untuk menjalani hubungan yang serius dengan Andika. Terlebih lagi dia tidak enak hati dengan Bintang, dia tidak ingin ada yang tersakiti.
"Cinta masuk kamar dulu ya Bu, Tante!" ujar Cinta.
"Eh ingat pikir-pikir soal Andika!" ucap Naya bersemangat.
"Hehe iya Tante, pasti kok pasti!" ucap Cinta lalu segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Cinta gak mau di godain lagi sama mereka.
BUG!
Cinta menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, dia tidur terlentang dan menikmati rasa lelah yang kian menghilang.
__ADS_1
"Kira-kira kalau gue pacaran sama Andika, gimana ya para fansnya Andika? Belum lagi Bintang? Pasti mereka sakit hati!" ucap Cinta pada dirinya sendiri.
Cinta masih bingung dengan perasaannya.
...****************...
Di rumah Andika....
"Mama sudah ngomong sama Ibunya Cinta dan dia setuju untuk menjodohkan kalian," ucap Naya setelah pulang dari rumah sahabatnya.
"Beneran Ma?" tanya Andika seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya benar," sahut Naya tersenyum.
"Wah kalau kayak gini sih aku lebih gampang dekati Cinta, makasih ya Ma," ucap Andika sambil mencium kening Ibunya yang tubuhnya lebih pendek darinya.
"Ma, buatin kopi dong!" teriak David dari ruang tamu.
David merupakan suami dari Naya, dan dia adalah orang yang paling di benci oleh Andika.
"Papa sudah pulang, kamu istirahat dulu ya!" ucap sang Mama kepadanya.
"Iya deh Ma," ucap Andika.
"Ma!" panggil Andika ketika Naya sudah membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Andika?" tanya Naya.
"Masalah perjodohan ini, jangan kasih tahu Papa ya!" pesan Andika.
"Iya sayang," ucap Naya sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan Andika di kamarnya.
Alasan Andika membenci Papanya karana David tidak pernah mendukungnya dalam bidang apapun. David yang seharusnya mendukung dan membimbing Andika tetapi justru adalah orang yang paling menginjak harga diri Andika.
Kejadian masa lalu....
Saat Andika kelas 2 SMP, dia pernah bermimpi menjadi pemusik namun David tidak mendukungnya.
"Pa, aku mau belajar musik ya lagipula di sekolah juga sering mengadakan lomba musik!" ucap Andika dengan semangat.
"Gak perlu, belajar musik juga harus punya alat. Mau dapat uang darimana kamu?" tungkas David.
"Papa bisa belikan dulu sebuah gitar buat Andika, nanti kalau Andika sudah mahir Andika akan menghasilkan uang dan Andika akan membayarnya," bujuk Andika berharap Papanya setuju.
"Gak! Buang-buang uang saja. Kamu tuh masih kecil, punya impian seperti ini juga pasti sementara. Belum sampai sebulan pasti kamu bosan!" ucap David.
"Pa biarin saja lah anak kita mencoba hal yang dia sukai, siapa tahu saja dia benar mahir dalam bidang musik kan kita juga yang senang," ujar Naya membela Andika.
"Gak, anak kita terlalu di manja Ma. Apa-apa harus di turuti, nanti pas dia sudah tumbuh dewasa dia akan semakin ngelunjak!" ucap David yang kekeh dengan keputusannya.
__ADS_1
Tanpa sepatah katapun Andika pergi meninggalkan orang tuanya ke kamar.
'Padahal cuma sebuah gitar juga gak bikin papa bangkrut!' gerutunya dalam hati.
Namun beberapa saat kemudian, Naya datang ke kamar Andika dan merasa iba ketika melihat anaknya bersedih.
"Andika, sudah sayang jangan sedih lagi. Nanti pas Papa berangkat kerja kita ke toko gitar buat beli gitar ya sayang," ucap Naya mengusap rambut anaknya itu.
"Yang benar Ma?" tanya Andika.
Seketika wajah Andika kembali ceria dengan harapan yang diberikan oleh Mamanya.
Namun itu tidak berakhir bahagia, setelah Andika mendapatkan gitarnya dia melihat Naya dimarahi oleh David dan mereka pun berantem.
Setelah Andika menginjak di sekolah menengah atas, dia mengikuti lomba internasional ke luar negeri. Namun David juga tidak menyetujuinya dengan alasan,"Nanti kamu akan merepotkan kami ketika kamu di sana. Lebih baik kamu di rumah saja, percuma juga kamu ikut lomba tidak menghasilkan uang!"
"Tapi kalau menang aku bisa mendapat beberapa uang Pa walaupun tidak seberapa," tukas Andika.
"Iya kalau menang, kalau kalah? Sia-sia kan?" ucap David memandang remeh Andika.
Harusnya dalam situasi ini David mendukung anaknya apalagi ini adalah hal positif. Namun pikiran David selalu tentang uang, dia akan menyetujui tindakan Andika asal dia menghasilkan uang yang sudah pasti.
Sejak saat itu, apapun yang Andika rencanakan dan inginkan dia tidak akan memberitahu David. Dia hanya bercerita kepada Naya yang masih peduli terhadapnya.
Kembali ke masa sekarang....
"Andika mana Ma?" tanya David ketika Naya sudah menyuguhkan secangkir kopi di atas meja.
"Andika lagi tidur Pa," sahut Naya yang duduk di samping suaminya.
"Andika gak bikin ulah kan di sekolah barunya?" tanya David yang masih berfikir negatif tentang Andika.
"Gak kok Pa. Papa jangan terus menerus mencurigai Andika dong Pa, sesekali kamu dukung dia. Papa gak merasa Andika tidak terlalu dekat dengan kamu?" Naya memberikan suaminya nasehat.
"Papa cuma gak mau manjain dia. Apa-apa dikasih, lihat sekarang karena ulah kamu dia seenaknya sekarang. Mau bertindak apa dia tidak minta izin ke kita!" ujar David.
"Tapi dia bilang ke aku Pa," ucap Naya.
"Berarti kamu yang izinin dia? Waktu dia nekat ke luar negeri untuk mengikuti lomba kamu izinin juga?" tanya David terkejut ketika istrinya tahu semua itu.
"Iya Pa, lagipula itu semua kan positif!" ujar Naya.
"Positif? Bagaimana kalau dia merepotkan kita? Anak itu jangan kamu manjain Ma, masih untung dia gak menyusahkan kita waktu dia lomba ke luar negeri," ucap David.
"Aku gak manjain Pa, aku cuma mendukung apa yang Andika minati. Papa terus berfikiran anak kita manja, darimananya dia terlihat manja Pa? Bahkan dia sebelum membencimu selalu bersusah payah untuk mandiri melakukan segala hal sendiri demi mendapat perhatian dari kamu!" ujar Naya menjelaskan kepada David berharap dia paham dengan apa yang Naya katakan.
"Toh juga hasil lomba Andika diberikan ke Papa, dia menang Pa! Bahkan saat itu Papa tidak memberikan sebuah pujian untuk anak kita, Papa malah mengatainya!" sambung Naya.
David terdiam, tidak bisa menjawab karena merasa bersalah. Saat ini dia baru sadar kalau dia berprilaku buruk terhadap anaknya. Padahal yang dia harapkan adalah Andika menjadi anak yang mandiri walaupun dia terlahir dari keluarga kaya, namun yang David lakukan justru membuat Andika membencinya.
__ADS_1