
"Tumben lo ubah penampilan lo? Ada apa?" tanya Cinta ketika pembelajaran sudah selesai.
"Pingin aja sih berpenampilan yang baru, biar gak gitu-gitu terus, bosan!" sahut Bintang.
Bintang tidak menjelaskan bahwa dia mengubah penampilan demi agar Cinta tertarik padanya, dia cukup malu untuk mengakuinya.
"Tapi gue juga gak nyangka bisa dikerumuni banyak cewek tadi, sampai kepala gue pusing buat mikir gimana caranya gue ngusir mereka. Emang gue ganteng ya Cin berpenampilan kayak gini?" Bintang berpura-pura menanyakan pendapat Cinta, padahal yang sebenarnya dia harapkan adalah pujian dari Cinta.
"Ya ganteng sih, lebih rapi juga dari biasanya. Emang gak salah sih kalau cewek-cewek tadi pada mengerumuni lo!" ucap Cinta.
"Gue jadi malu!" ucap Bintang tersipu malu.
"Gak usah malu lah. Lo harus percaya diri sama penampilan lo sendiri," kata Cinta.
"Iya deh Cin," ucap Bintang.
Tak lama setelah itu, Andika menghampiri Cinta untuk mengajaknya ke perpustakaan karena kebetulan jam kosong.
"Gue pergi ke perpustakaan dulu ya!" pamit Cinta.
Bintang mengangguk dengan pasrah, Andika yang melihat ekspresi Bintang yang sedih itu mengejeknya melalui raut wajah yang dia buat.
'Kenapa lo gak nawarin ke gue mau ikut apa enggak?' batin Bintang sedih.
Namun tak lama setelah Cinta keluar dari kelas, Agus dan Riski pergi menghampiri Bintang.
"Lo kenapa gak cegah mereka? Sebenarnya lo niat apa gak sih ngejar Cinta?" omel Agus kepada Andika.
"Yah mau gimana lagi, gue gak punya keberanian itu Gus," sahut Bintang dengan raut wajah yang lesu.
Agus dan Riski yang melihat raut wajah temannya yang sedih menjadi iba. Mereka tidak ingin Bintang sedih karena soal wanita. Ini pertama kalinya Bintang seperti ini di depan mereka. Dulu sebesar apapun masalah yang Bintang punya dia tidak akan mengeluarkan ekspresi sedih seperti ini.
"Tang, kenapa lo bandel banget sih jadi orang. Sadar Tang, Cinta gak suka sama lo! Kalau dia suka sama lo, dia gak akan pergi sama Andika. Dia pasti suka sama Andika," ucap Riski.
"Udah dong Ris, jangan bikin gue down lagi dan berfikiran buruk. Gue gak mau benci sama Cinta nantiny," ucap Bintang.
"Gue bukannya mau komporin lo, tapi gue peduli sama lo. Gue sama Agus gak mau lihat lo seperti ini!" ucap Riski dengan nada tinggi berusaha meyakinkan Bintang.
Namun suara Riski yang terdengar sedikit keras membuat teman-teman lainnya menoleh ke arah mereka.
"Lo pelanin dikit suaranya!" ucap Agus memarahi Riski.
"Ya sorry! Gue gak tahu kalau suara gue bakalan sekencang itu!" kata Riski meminta maaf.
__ADS_1
"Guys, gue ucapin makasih banyak kalian sudah mengkhawatirkan gue dan peduli sama gue. Tapi kalian gak akan pernah tahu gimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Gue tahu ini sakit, tapi gue juga gak bisa lupain Cinta," ucap Bintang.
"Astaga ni anak, bucin banget sama si Cinta!" ucap Agus pelan.
"Ya mau gimana lagi, susah kalau orang lugu jatuh cinta!" ejek Riski.
"Udahlah, setidaknya lo jangan sampai b*doh cuma karena masalah percintaan. Kalau lo sudah tidak di hargai lebih baik lo pergi!" ucap Agus.
"Iya gue tahu!" kata Bintang masih lemas.
"Yaudah gue mau ke kantin, sama Riski, lo mau ikut gak?" tanya Agus.
"Gak ah, gak berani gue masih jam pelajaran!" tolak Bintang.
"Ah culun amat sih lo! Yaudah kalau gitu kita duluan ya!" ucap Agus sambil menepuk bahu Bintang lalu pergi.
'Kenapa ya Cinta bisa gak suka sama gue? Padahal gue cinta banget sama dia,' batin Bintang.
Bintang memutuskan untuk tidur di mejanya, dia gak mau berprasangka buruk sama Cinta lagi.
...****************...
TOK! TOK! TOK!
"Eh Naya! Ada apa kemari?" tanya Laras ketika melihat sahabatnya sekaligus Mama dari Andika ini singgah ke rumahnya.
"Gak, aku cuma mau ngobrol aja sama kamu. Boleh kan?" tanya Naya.
"Iya boleh dong, kebetulan aku gak sibuk!" ucap Laras.
"Ayo masuk, masuk. Kamu sendirian ke sini? David mana?" tanya Laras ketika melihat Naya sendirian tanpa suaminya.
"Dia masih kerja!" sahut Naya.
"Oh gitu, duduk dulu Naya!" ucap Laras mempersilahkan Naya duduk di sofa ruang tamu.
"Enak ya kamu punya suami, aku sampai sekarang masih belum nemuin jodoh!" kata Laras.
"Ya sabar aja, mungkin belum!"
"BTW, kamu kerja dimana sekarang?" tanya Naya.
"Aku gak kerja sih Nay, sudah lama sejak aku melahirkan!" ucap Laras.
__ADS_1
"Terus kamu dapat uang darimana untuk kebutuhan hidupmu? dan bisa membesarkan anakmu?" tanya Naya terkejut ketika mengetahui bahwa Laras tidak bekerja setelah melahirkan.
Naya memang sudah tahu pekerjaan Laras seperti apa, hanya saja dia nampak sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Yah dulu aku masih punya simpanan cukup untuk menghidupi aku dan anaku. Tetapi setelah anakku berusia 9 tahun semua simpananku sudah habis, belum sekolahin anak. Aku pusing waktu itu, jadi aku menyuruh anakku untuk mencari uang Nay," ucap Laras.
"Astaga Laras! Kenapa kamu tega kayak gitu sama anakmu? Dia masih kecil loh,"
"Mau gimana lagi Nay? Aku cari kerja juga sudah gak pasti gak dapat jadi aku mengorbankan dia. Lagipula salah dia kenapa lahir di dunia ini," ucap Laras yang tidak merubah sikapnya.
"Dari dulu kamu tidak berubah ya Laras. Kamu selalu menyalahkan orang lain atas kesalahanmu!"
"Itu memang salahnya lahir ke dunia dan merepotkanku!"
"Terus sekarang anakmu masih kerja?"
"Enggak, sekarang aku sudah bisa menghasilkan uang!" ucap Laras senang.
"Oh ya? Syukurlah, emang kamu kerja dimana?" tanya Naya.
"Gak kerja sih, kebetulan aku bertemu sama 'pelanggan' aku yang dulu. Jadi aku membohonginya bahwa Cinta adalah anak dia, dan mengancamnya untuk memberitahu istrinya jika dia tidak memberikanku uang 30 juta sebulan!"
"30 juta???" Naya terkejut mendengar nominal angka yang di minta oleh Laras.
"Ras, lo kenapa gak bisa berubah sama sekali sih? Kenapa lo gak nyari pekerjaan yang halal?" tanya Naya yang masih mengkhawatirkan Laras.
"Udahlah mau halal atau haram yang penting uangnya bisa buat belanja!" kata Laras yang tidak mau mendengar nasehat.
"Ras lo mendingan berhenti deh nipu dia, nanti kalau ketahuan bisa-bisa lo di penjara Ras. Lo bisa kerja di perusahaan gue, lagipula lo dulu selalu membantu gue saat gue susah jadi lo jangan sungkan sama gue!" ucap Naya berusaha memberikan bantuan kepada Laras.
"Gak usah Nay, gue cuma mau titip anak gue aja nanti. Kalau lo setuju kita nikahkan aja anak kita, lagipula mereka sudah saling kenal kok. Gue gak mau anak gue ngikuti jejak gue, walaupun gue gak sayang sama dia tapi dia anak yang lahir dari rahim gue sendiri!" ucap Laras.
"Oh ya mengenai soal perjodohan, anakku juga pingin di jodohin sama anak kamu. Dia naksir sama anak kamu sejak pindah sekolah,tapi ya gitu Cinta selalu galak sama dia. Kemarin dia meminta bantuan aku untuk di jodohkan sama Cinta katanya,"
"Kalau gitu bagus dong!" ucap Laras.
"Ya tapi anakmu ini yang susah, dia bakalan mau gak sama anakku?"
"Pasti mau kok, nanti aku nasehati deh!" ucap Laras.
"Boleh juga sih, semoga aja mereka jodoh!"
"Iya, aku juga berharap hal yang sama!" ucap Laras tersenyum.
__ADS_1
'Meskipun aku membencinya, tetapi yang namanya seorang Ibu yang menemani dia tumbuh dewasa juga tidak akan pernah rela jika di rusak oleh para pria br*ngsek' batin Laras.