
"Makasih ya guys, kalian sudah bantuin gue!" ucap Cinta yang masih malu kepada temannya.
"Gak usah bilang terimakasih Cin, gue udah gagal bikin suasana tenang dan akhirnya lo di bully sama mereka," ucap Riana merasa bersalah kepada Cinta.
Sebagai ketua kelas tentu saja Riana merasa bersalah, bagaimanapun juga dia adalah pemimpin kelas. Layaknya pemimpin menenangkan anak buahnya agar tidak membuat masalah di suatu tempat. Namun Riana gagal melakukan itu, sehingga membuat Cinta mendapat lemparan kertas tersebut.
"Lo jangan begitu Riana, ini bukan salah lo jadi jangan merasa bersalah. Lagipula lo sudah melakukan yang terbaik kok!" ucap Erna.
"Iya yang dikatakan Erna benar Riana. Gue berterimakasih sama lo karena lo masih tegas bukan ikut membuly gue!" ucap Cinta.
Riana tersenyum, meskipun gagal dalam melaksanakan tugasnya tetapi dia tidak di benci oleh temannya.
"Cin, lo gak berterimakasih sama Bintang? kalai buka karena dia yang bertindak cepat melapor ke Pak Yoga lo mungkin masih di lempari kertas saat ini!" kata Agus yang melihat aksi cepat Bintang saat Cinta di lempari kertas oleh teman-temannya.
"Apaan sih lo!" kata Bintang malu-malu.
"Ma...makasih ya Tang, lo udah nolongin gue lagi!" kata Cinta.
"Lagi? maksud lo kapan Bintang nolongin lo yang pertama kalinya?" tanya Riski penasaran.
"Gak, gak ada kok. Cinta salah sebut kali," ucap Bintang malu.
"I...Iya gue salah ngomong!" sahut Cinta gugup.
Sedangkan di toilet beberapa siswa terlihat sedang mengepel dan menyapu lantai toilet sambil menutup hidungnya. Mereka masih tetap menyalahkan Cantika dan Andika yang menjadi biang kerok dari permasalahan tersebut.
"Kalian saat membuly kenapa tidak berfikir bahwa hal ini akan terjadi? dan terus melempar kertas dengan senangnya. Sekarang mau nyalahin gue lagi?" tungkas Andika.
"Kalau bukan lo pemicunya menyebarkan berita bahwa Cinta anak pel*cur kami juga gak akan membuly-nya," ucap salah satu siswa.
"Heh! gue menyebarkan berita? Gue cuma bilang Cinta anak pel*cur, apa gue ada ngomong sama kalian?" tanya Andika menatap mata siswa yang tadi bicara.
"Eng...enggak sih, tapi tetap aja ini semua salah lo!" ucap siswa pria itu yang tam mau kalah.
__ADS_1
"Kalian lucu tahu gak? saat kena hukuman kalian menyalahkan gue, tapi tadi masih asik-asik saja ikut membuly Cinta. Ot*k kalian di jual ya? sehingga untuk berfikir saja tidak mampu," kata Andika.
"Nih kalian sapu sampai bersih, kalau sampai ada yang laporin awas aja kalian ya!" ancam Andika lalu pergi meninggalkan toilet.
"Nih kerjain juga punya gue, jij*k banget sama hal kayak gini!" ucap Cantika yang ikut melemparkan sapu ke lantai dan pergi mengikuti Andika.
Andika pergi ke kantin dengan raut wajah emosi. Dia sangat kesal setelah mendengar teman satu kelasnya menyalahkannya atas hukuman yang mereka dapatkan.
"Bisa-bisanya mereka nyalahin gue. Bahkan di sekolah gue uang dulu gak ada satupun siswa yang berani nyalahin gue apalagi sampai melaporkan gue!" gumam Andika sambil terus melangkahkan kakinya.
Sesampainya di kantin Andika memesan dua porsi bakso kepada ibu-ibu di kantin. Lalu dia duduk di sebuah kursi dan mengurut keningnya.
Cantika yang baru saja datang dan melihat Andika duduk membelakanginya, menghampiri Andika pelan-pelan.
"Andika lo jangan marah lagi. Orang-orang kayak mereka tuh memang gak bisa berfikir jernih, gue tahu kok lo gak salah!" ucap Cantika sambil duduk di depan Andika.
"Ngapain lo ke sini? jangan ganggu mood makan gue!" ucap Andika dengan wajah kesalnya.
"Lo gak usah sok baik sama gue. Gue bisa nenangin diri gue sendiri. Dan lo seorang cewek mau ke bar? ngapain? itu tempat perkumpulan orang-orang nakal! Apa jangan-jangan lo sama seperti mereka? lo gak lebih hina dari Cinta tahu gak," kata Andika pedas.
'Dasar pria brengs*k. Kalau bukan lo ganteng dan kaya mana mungkin gue ngejar-ngejar lo kayak gini?' batin Cantika kesal.
Meskipun perkataan Andika membuat hati Cantika kesal, namun dia bersikeras untuk mengajak Andika ke Bar.
"Ini baksonya ya Dik!" ucap seorang pelayan membawakan bakso yang di pesan oleh Andika.
Pelayan tersebut meletakkan dua porsi bakso yang belum berisi bumbu itu di depan Cantika dan Andika.
"Itu bakso saya pesan untuk saya sendiri, untuk apa Ibu menaruhnya di depan dia seporsi?" ucap Andika marah.
Tatapan matanya mampu membuat pelayan tersebut ketakutan melihat Andika.
"Oh Ma...maaf Dik, saya gak tahu!" ucap pelayan tersebut
__ADS_1
Pelayan itu lalu memindahkan seporsi bakso yang di depan Cantika ke depan Andika. Setelah selesai memindahkannya pelayan tersebut ijin untuk pergi.
"Lo pesan dua porsi bakso untuk lo sendiri? gak kebanyakan Dik?" tanya Cantika.
"Lo gak di bolehkan manggil gue seperti itu, kita gak akrab!" ucap Andika tanpa menjawab pertanyaan Cantika.
"Ih kenapa sih lo, kayak benci banget sama gue?"
"Lo kegatelan jadi cewek, mana mungkin gue suka sama lo!" ucap Andika.
"Ya udah deh sorry! habisnya gue suka sama lo tapi lo gak pernah sekalipun mandang gue," kata Cantika mengeluarkan raut wajah sedih.
Andika tidak mempedulikan perkataan Cantika, dia terus sibuk menaruh bumbu di baksonya lalu memakannya dengan lahap.
Melihat Andika yang tidak mempedulikan dirinya, Cantika mengambil inisiatif untuk mengajak Andika menemaninya ke bar dan berjanji tidak akan mengejarnya lagi.
"Oke, ini lo yang bilang ya!" ucap Andika hang artinya dia menyetujui permintaan Cantika.
"Oke nanti malam lo jemput gue ya?"
"Gak, kita terpisah aja. Ntar sharelock aja Bar yang mau dituju!" kata Andika.
"Ya udah deh!" sahut Cantika.
Cantika pergi meninggalkan Andika, dia kembali ke kelas karena teman lainnya yang di hukum sudah kembali ke kelas.
'Andika, setelah kita pergi ke bar mungkin saja lo gak bisa menghindar dari gue,' batin Cantika.
Cantika telah mengatur beberapa strategi untuk mendapatkan Andika. Dia tidak peduli meski mendapatkan Andika dengan cara kotor. Yang terpenting adalah dia bisa memiliki Andika sepenuhnya.
Melihat kedatangan Cantika ke kelas, siswa yang mendapatkan hukuman tadi menatap Cantika dengan penuh kebencian. Dalam hati mereka memaki perlakuan Cantika dan Andika. Namun apa daya, mereka tidak berani untuk melawan karena takut sesuatu yang tidak mereka inginkan terjadi.
Sekelompok pecundang mana berani melakukan hal yang beresiko tanpa ada yang bertanggungjawab kepada mereka. Itulah sebabnya mereka menerima perlakuan yang tidak adil dari orang yang jahat, bahkan sama jahatnya dengan mereka.
__ADS_1