
Setelah selesai makan, Cinta membantu Nadia mencuci piringnya. Cinta sungguh tidak enak hati menumpang hidup di rumah Cinta tanpa melakukan apa-apa. Terlebih lagi, Cinta tahu bagaimana susahnya mencari uang.
"Cinta sebentar lagi saya dan Pak Marchel akan pergi bekerja. Kamu sama Bintang jaga rumah ya!" ucap Nadia sambil membereskan piring-piring yang kotor.
"Iya Tante, kalau begitu biar saya saja yang bawa ini ke dapur Tante. Tante siap-siap saja dulu," kata Cinta sambil tersenyum
"Gak apa-apa nih?" tanya Nadia yang tidak enak hati terhadap Cinta.
"Gak apa-apa Tante, santai aja!" kata Cinta.
"Ya sudah, kalau begitu Tante siap-siap dulu ya. Makasih ya, maaf ngerepotin kamu jadinya," kata Nadia.
"Iya gak apa-apa Tante!" kata Cinta tersenyum.
Setelah itu, Nadia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Bintang dan ayahnya sedang duduk di sofa.
"Loh Pa, gak siap-siap kerja?" tanya Nadia yang kebetulan lewat di depan Bintang dan Marchel.
"Bentar lagi Ma!" ucap Marchel.
"Cepetan Pa, Mama ada meeting hari ini harus berangkat lebih pagi!" ucap Nadia.
"Iya Ma Iya," kata Marchel.
"Ma, Cinta dimana?" tanya Bintang.
"Itu dia lagi nyuci piring kotor!" kata Nadia.
"Kok di suruh nyuci piring kotor sih Ma?" ucap Bintang yang merasa tidak enak hati terhadap Cinta.
"Dia yang mau Bintang, katanya Mama siap-siap aja ke kantor!" kata Nadia menjelaskan.
"Oh gitu, ya udah aku susul Cinta dulu deh," ucap Bintang yang langsung melangkahkan kakinya ke dapur.
"Kamu jangan ganggu dia ya!" teriak Nadia kepada Bintang yang sudah sedikit jauh darinya.
"Iya Ma!" sahut Bintang.
"Pa, buat anak cewek yuk!" ajak Nadia yang duduk di samping suaminya sambil menggenggam tangan Marchel.
"Ih Mama, kita mau ke kantor loh! Nanti malam aja kalau mau bikin!" ucap Marchel yang tersipu malu dengan ajakan istrinya.
"Beneran nih Pa kita buat anak lagi?" tanya Marchel.
"Ya enggaklah Ma, satu aja cukup. Lagipula Bintang sudah mau dewasa masa iya kita bikinin adik lagi," ucap Marchel.
__ADS_1
"Kenapa emang? Gak boleh?"
"Bukannya gak boleh, cuma gak pantas saja!" kata Marchel.
"Ih Papa mah! Lagipula enak loh punya anak cewek apalagi kayak Cinta," ucap Nadia.
"Mama suka ya sama Cinta? Kenapa gak angkat jadi anak kita saja kalau Mama suka sama dia?" tanya Marchel dan memberikan saran kepada Nadia.
"Emang boleh? Dia kan masih punya Ibu. Lagipula nanti dia juga gak bisa tinggal di sini," kata Nadia cemberut.
"Ya gak harus tinggal di sini. Kita aja nanti yang main ke sana atau giliran," kata Marchel.
"Iya juga ya? Mama juga kasihan sama Cinta Pa. Padahal dia anaknya baik, rajin lagi tapi kok Ibunya kayak gitu ya? Gak bersyukur banget," ucap Nadia mengutarakan kesalnya kepada Marchel.
"Namanya juga orang Ma, kan beda-beda sifatnya!" ucap Marchel.
"Ya udah deh Pa, nanti coba Mama ngomong sama Cinta," kata Nadia.
"Ya udah sekarang kita siap-siap aja! Katanya Mama ada meeting, tapi kok ikutan duduk!" sindir Marchel.
"Oh iya, Mama lupa!" kata Nadia menepuk jidatnya.
Nadia bergegas pergi ke kamarnya diikuti oleh Marchel.
"Loh Mama mana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Mungkin masih siap-siap berangkat kerja," sahut Cinta yang berdiri di sampingnya.
"Ya udah deh kita duduk dulu aja!" kata Bintang.
Cinta pun ikut duduk di samping Bintang.
"Cinta, biasanya lo jam segini ngapain?" tanya Bintang.
"Paling juga gue masih masak jam segini!" sahut Cinta.
"Lo hari minggu jualan gorengan juga?" tanya Bintang yang penasaran dengan kehidupan Cinta.
"Tergantung modal sih Tang. Kalau ada modal gue jualan, dititipin di warung sama keliling di kompleks aja!"
"Emang kenapa kok bisa sampai gak ada modal? Padahal kan lo palinh pintar ngatur keuangan?"
"Yah lo tahu sendiri lah Tang, Mama gue selain gak mau kerja dia juga berjudi dan pergi ke salon. Jadi kalau dia minta uang, ya mau gak mau modal usaha dihabisin!" kata Cinta.
"Kok Ibu lo bisa jahat gitu sih sama lo?" tanya Bintang yang masih tidak terpikirkan dengan sikap Laras kepada Cinta.
__ADS_1
"Yah pada umumnya tidak semua Ibu itu baik Tang. Ada juga yang gak menyayangi anaknya, seperti gue contohnya!" kata Cinta dengan ekspresi datar.
"Iya juga sih Cin. Kalau boleh tahu, lo pernah marah gak sama Ibu lo?" tanya Bintang.
"Ya pernahlah Tang! Orang mana juga yang gak marah diperlakukan seperti itu? Tapi ya gue gak terang-terangan benci sama Ibu gue. Gue pendam sendiri," kata Cinta sambil tertawa masam.
"Pernah gak lo bentak Ibu lo?" tanya Bintang kemudian.
"Gak Tang. Gue gak berani, lagipula itu Ibu gue sendiri. Gue takut dosa," kata Cinta.
Bintang hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
"Kayaknya lagi ngobrol serius nih, lagi ngobrolin apa kalian?" tanya Nadia yang tiba-tiba datang ke ruang tamu.
"Mama, bikin kaget aja. Ini cuma ngobrol biasa sama Cinta," sahut Bintang.
"Oh gitu. Oh ya Cinta , nanti kalau kamu lapar ambil saja di dapur atau kalau kamu gak suka suruh aja Bintang pesenin ya. Jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri," kata Nadia memalingkan pandangannya ke arah Cinta.
"Iya Tante, makasih banyak perhatiannya," ucap Cinta sambil tersenyum manis.
'Cepat banget bisa merubah ekspresi. Padahal tadi terlihat sepertu ada kemurungan diwajahnya, tetapi dengan cepat dia mampu mengubahnya menjadi sosok yang ceria. Seperti tidak terjadi apa-apa. Cinta sudah berapa lama kamu merasakan hal seperti ini?' batin Bintang sambil menatap penuh arti kepada Cinta.
"Udah siap Ma?" tanya Marchel yang tiba-tiba sudah berada disamping Nadia.
"Sudah Pa, ayo berangkat. Nanti Mama telat," ajak Nadia.
"Bintang, Cinta, Mama sama Papa berangkat dulu ya!" kata Marchel.
"Iya Pa!"
"Iya Om,"
Nadia mengecup kening putranya dan juga Cinta. Pertama kalinya Cinta dikecup keningnya oleh seaeorang, bahkan Ibunya saja belum pernah.
Cinta merasakan perbedaan suasana dirumahnya dan dirumah Bintang sangat jauh, seperti keterbalikan dari neraka.
"Mama kamu baik banget Tang," ucap Cinta setelah kedua orang tuanya Bintang pergi.
"Mama emang kayak gitu sikapnya, dia memiliki sifat yang penyayang! Bahkan aku yang menjadi anak satu-satunya merasakan betul kasih sayang di berikan Mama," kata Bintang.
"Kapan ya gue punya keluarga kayak lo?" ucap Cinta dengan wajah yang kembali murung.
"Kalau lo mau, lo boleh kok anggap orang tua gue jadi orang tua lo juga. Mama pasti senang kalau lo mau anggap Mama sebagai orang tua lo. Soalnya dia suka banget sama anak perempuan," kata Bintang.
"Makasih Tang," kata Cinta kembali mengeluarkan senyum palsunya itu.
__ADS_1