Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
CHAPTER 9


__ADS_3

"Cepat banget ngilangnya tuh anak!" ucap Agus kepada Riski.


"Biarin ajalah. By the Way kita jadi nongkrong gak nih?" tanya Riski.


"Jadilah. Nonton balap liar kita!"


"Nanti jemput Gue ya! Motor Gua habis bensin, gak punya uang Gue!" kata Riski.


"Ah dasar lo gak modal. Pantesan aja lo gak punya pacar, motor aja gak pernah isi bensin gimana mau bawa pacar jalan-jalan!" ejek Agus.


"Emang Lo punya pacar?" tanya Riski dengan anda merendahkan.


"Ya tentu saja tidak, hehe" kata Agus dengan senyuman yang sangat lebar.


"Ngeledek aja Lo bisanya. Gue kira punya, dasar nih anak minta di gampar apa ya!" sahut Riski emosi.


"Waduhh! jangan ngegas lah Bang, nanti aja kita ngegasnya di motor ya!" ucap Agus sambil menepuk bahu Riski.


"Tau ah! Gue pulang dulu, Ntar malam ingat jemput Gue!" ucap Riski kemudian melajukan motornya yang sudah menyala.


****


Sedangkan Cinta yang sudah sampai di rumah, dia berencana untuk membuat semua pekerjaan temannya agar cepat selesai. Kemudian Cinta masuk ke kamarnya, dia tidak menemukan ibunya di ruang tamu. Namun Cinta juga tidak mempedulikannya lagi. Terakhir kali dia sangat kesal terhadap sang ibu yang mengambil semua uang tabungannya untuk berfoya-foya.


"Capek banget seharian di sekolah. Otakku sampai terasa penuh, tapi kalau gak di kerjain sekarang kapan lagi coba?"


Cinta mengeluh di dalam kamarnya sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Walaupun Cinta mengeluh seperti itu, dia tetap melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tanggungjawab dia.


Meskipun dia ingin sekali merasakan kehidupan seperti teman-temannya yang bisa keluar rumah untuk nongkrong sambil melepas bebannya. Namun Cinta sadar diri, karena menurutnya untuk saat ini dia belum bisa merasakan hal tersebut.

__ADS_1


Di tengah-tengah saat Cinta mengerjakan tugasnya, Laras datang memanggil namanya dan meminta uang.


"Tapi Bu, Cinta gak punya uang lagi Bu. Uangnya hanya cukup untuk modal usaha saja Bu. Kalau Ibu pakai sekarang, nanti kita makan apa Bu?" ucap Cinta dengan raut wajah takut menatap Laras.


"Kamu pikir sendiri caranya. Pokoknya Ibu mau minta uang sekarang buat kumpul sama teman-teman Ibu!" teriak Laras.


"Tapi Bu..,"


"Dasar anak bandel!"


Belum sempat Cinta melanjutkan pembicaraannya, Laras sudah mengambil tasnya Cinta dan membongkar isi tasnya.


"Jangan Bu. Itu buat modal usaha aku," rengek Cinta kepada Ibunya.


Cinta berusaha merebut tasnya yang dipegang oleh Ibunya, namun dia kalah tenaga dengan Laras.


Cinta melihat raut wajah Laras yang tersenyum tipis, itu artinya Laras sudah mendapatkan sesuatu yang dia mau.


"Udah kamu diam saja!" bentak Laras sambil mendorong Cinta.


"Nah ini yang aku cari! Lihat, kamu punya banyak uang kan? Udah mulai berani ya kamu bohongi Ibu?" kata Laras dengan wajah marah menatap Cinta yang tersungkur dilantai.


"Bu aku mohon, sisain sedikit untuk modal usaha aku Bu!" Cinta memegang kaki Laras dan memohon.


"Yaudah, yaudah. Nih Ibu sisain selembar!" ucap Laras sambil memisahkan selembar uang dan dilemparkan ke Cinta lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan Cinta lagi.


"Cuma sepuluh ribu, aku dapat beli apa Bu?" gumam Cinta sambil mengeluarkan air matanya.


Cinta kembali mengejar ibunya, namun berkali-kali Laras menghempaskan tangan Cinta hingga Cinta terduduk dilantai.


"Tuhan, kapan Ibuku akan berubah? Aku sudah cukup bersabar untuk menghadapinya selama belasan tahun ini Tuhan!" ucap Cinta mengeluh kepada yang maha kuasa.

__ADS_1


Cinta meratapi kehidupannya, dia merasa kehidupannya tidak adil dengan kehidupan teman-teman lainnya.


'Kenapa harus aku yang menerima nasib seperti ini? Ayahku kemana? Kenapa dia tidak bertanggungjawab kepada kami? Kenapa aku yang harus mencari nafkah untuk keluarga ini?' batin Cinta dengan penuh kebencian berusaha meluapkan emosinya dengan meremas kertas yang ada di sampingnya.


Beberapa menit setelah dirasa cukup untuk meluapkan amarahnya, Cinta bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sekalian mengambil air di dapir untuk diminum. Cinta tidak ingin dirinya berlarut-larut dalam kesedihan.


"Huh! Aku pasti bisa!" ucap Cinta setelah menarik nafas panjang kembali menyemangati dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan yang pahit ini.


...****************...


"Hai Gadis manis. Kamu harus kuat ya! Jangan menyerah untuk menjalani kehidupan ini, sebentar lagi aku akan datang membantumu!" ucap seorang Pria.


"Kamu siapa?" tanya Cinta kepada pria yang tidak diketahui identitasnya.


"Nanti kamu akan tahu. Kamu tunggu aku ya, saat Aku datang kamu tidak akan kesusahan seperti ini lagi! Ingat jangan sampai kamu membuat diriku ini menyesal, aku pasti akan datang kok. Kamu tunggu aku ya!" ucap Pria itu kembali dan mengecup pipi Cinta.


Kemudian Pria itu perlahan-lahan menghilang dari hadapan Cinta.


"TUNGGU!" teriak Cinta yang membuat dirinya terbangun dari mimpinya.


"Ternyata cuma mimpi!" gumam Cinta.


Namun, Cinta merasakan mimpi itu seperti nyata. Dan dia merasakan kedamaian setelah memimpikan pria itu.


"Apa akan ada orang yang akan datang di kehidupanku? kalau benar siapakah orang itu? Apakah pacar aku atau seorang teman?" tanya Cinta pada dirinya sendiri.


"Sudahlah Cinta, hidup di dunia yang tidak memihak keadilan padamu jangan berharap akan ada orang yang akan membantumu. Jalani saja dan andalkan diri sendiri untuk tetap bertahan di dunia ini," batin Cinta kembali sadar akan dirinya.


Siapakah pria yang muncul dimimpi Cinta? Apakah Cinta akan bertemu orang baru yang siap melindunginya?


Tunggu terus updatenya ya dan jangan lupa di favoritkan agar author lebih semangat untuk lanjutin cerita:)

__ADS_1


__ADS_2