Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 67


__ADS_3

Jam satu siang Marchel bersiap-siap untuk pergi menemui Laras sesuai kesepakatan. Marchel tidak tahu tujuan Laras mengajaknya bertemu, Laras juga tidak bilang dia membutuhkan uang. Marchel tidak mempedulikan hal tersebut, dia langsung bergegas menemui Laras.


Namun kali ini Marchel memilih tempat yang sepi dengan alasan agar tidak ada orang lain yang melihatnya. Marchel juga akan melihat situasi di sana, jika memungkinkan dia akan menjalankan rencananya di sana. Marchel berangkat dari kantornya, kebetulan mendapat jam istirahat dia menggunakan waktunya untuk bertemu Laras di bangunan tua.


Setelah sampai di sebuah gedung tua tanpa penghuni, Marchel masuk ke dalam rumah tersebut untuk menemui Laras. Marchel melihat Laras berdiri menunggu kedatangannya.


"Laras!" panggil Marchel.


"Kamu sudah datang Mas," ucap Laras dengan nada suara rendah.


"Jangan basa-basi lagi, untuk apa kamu bertemu denganku? Kalau untuk masalah uang aku masih belum punya," ucap Marchel.


"Bukan, bukan itu Mas. Aku mau bicara jujur sama kamu Mas,'" kata Laras menggantung kalimatnya yang membuat Marchel kebingungan.


"Maksud kamu?" tanya Marchel yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Laras.


"Ya aku mau jujur sama kamu sekaligus ingin minta maaf sama kamu karena telah memanfaatkan kamu," ucap Laras.


"Udahlah jangan bertele-tele lagi. AKu gak ngerti apa yang kamu maksudnya," kata Marchel yang mulai emosi dengan Laras yang berbicara tidak langsung pada intinya.


"Sebenarnya Cinta bukan anak kamu Mas, aku berbohong sama kamu. Aku minta maaf sama kamu Mas," ucap Laras menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Marchel.


"Apa kamu bilang? kamu membohongiku?" tanya Marchel dengan mata melotot.


Marchel sangat emosi setelah mengetahui bahwa Laras telah membohonginya. Dia telah mengalami kerugian besar, bukan hanya soal uang tetapi juga soal rasa cemas yang dia rasakan selma ini.


"Lalu bagaimana dengan uang yang aku berikan? kamu menipu uangku begitu banyak, bagaimana kamu akan mengembalikannya?" tanya Marchel emosi.


"Aku akan mengembalikannya setelah aku mendapatkan pekerjaan Mas," ucap Laras.


"Menunggu kamu mendapatkan pekerjaan? bahkan kalau kamu mendapatkan pekerjaaan jua tidak akan mampu membayar uangku dengan cepat!" kata Marchel.


"Aku akan mencicilnya Mas, tolong beri aku waktu," ucap Laras memohon kepada Marchel.


'Sial wanita ini benar-benar membohongiku dan membuat kerugian besar, lalu apa untungnya aku mengetahui kebenarannya? aku akan membunuh wanita ini bagaimanapun juga aku dulu pernah bersamanya walaupun tdiak sampai memiliki anak kedepannya akan sangat berbahaya jika Nadia tahu hubunganku sama dia,' batin Marchel.

__ADS_1


Marchel melihat sebuah kayu yang berukuran besar di dekatnya, diam-diam dia mengambilnya tanpa sepengetahuan Laras.


"Aku tidak butuh kata maafmu, aku butuh nyawamu. Bagaimanapun juga aku pernah berhubungan sama kamu dulu," ucap Marchel.


Laras ketakutan saat melihat ada kayu di tangan Marchel dia pun berlutut di hadapan Marche memohon agar tidak membunuhnya.


"Aku gak akan bilang kepada siapa-siapa tentang hubungan kita Mas, tolong jangan bunuh aku," ucap Laras memohon.


Marchel melepaskan kayu yang ada di tangannya dan menyuruh Laras berdiri.


"Kali ini aku maafin kamu. Sekarang kamu pergi," ucap Marchel.


"Ba-baik!" kata Laras lalu melangkahkan kakinya dan berbalik.


Saat itu Marchel dengan cepat mengambil kayu itu kembali dan memukuli kepala Laras hingga Laras tak sadarkan diri. Meskipun sudah tak sadarkan diri Marchel masih dengan kejamnya memukul kembali tubuh Laras. Setelah dirasa cukup, Marchel dengan tangan gemetarnya melepas kayu tersebut. Dia sadar telah membunuh orang.


Perlahan-lahan Marchel mendekati tubuh Laras yang sudah berlumuran darah, dia mengecek denyut nadinya dan ternyata Laras sudah tak bernyawa. Marchel semakin gemetar setelah mengetahui Laras tidak bernyawa lagi, dia segera lari meninggalkan Laras di sana.


Marchel dengan tergesa-gesa memasuki mobilnya dan pergi dari lokasi kejadian. Di tengah perjalanan dia terus-menerus menenangkan dirinya.


Hingga sampai di kantornya Marchel masih belum bisa tenang. Dia terus memikirkan aksi pembunuhannya, rasa takut terus menghantuinya. Bahkan sampai tidak fokus untuk bekerja.


'Aku lupa menyingkirkan kayu itu, jika ketahuan ada pembunuhan di sana pasti polisi akan mendapatkan sidik jariku. Tapi kalau aku pergi ke sana sekarang takutnya sudah ada orang di sana,' batin Marchel.


Marchel masih bingung harus bertindak apa, dia masih panik.


...****...


Sedangkan di sekolah, Cinta masih belum tahu keadaan Ibunya. Sebentar lagi jam pulang sudah tiba, karena jam pembelajaran kosong Cinta memasukkan buku-bukunya.


Cinta memejamkan matanya, dia merasa capek menghadapi sikap keras kepala Andika yang terus menerus minta maaf kepadanya. Dari pagi Andika terus menghampirinya ke mejanya. Untungnya ada Bintang yang selalu membantu Cinta untuk mengusir Andika.


"Lo ngantuk Cin?" tanya Bintang menatap ke arah Cinta.


"Sedikit, kurang tidur gue," ucap CInta membuka matanya.

__ADS_1


"Kenapa? masih mikirin Andika semalam?"


'Enggak, apaan sih lo!" tungkas Cinta yang tak mengakuinya.


"Saran gue lupain aja Andika, dia gak pantas lo tangisi," ucap Bintang.


"iya Tang, makasih sarannya," kata Cinta tersenyum.


'Yang di katakan Bintang ada benarnya, gue gak seharusnya menangisi Andika, ini hanya membuat Ibu semakin merasa bersalah. Lebih baik gue lupain dia, dengan begitu gak ada lagi rasa sakit yang gue rasakan,' batin Cinta.


Kring....


Bel pulang berbunyi, Bintang dengan sengaja mengulur waktu Cinta untuk pergi dari kelas. Bintang mengajak Cinta mengobrol, ada sesuatu hal yang akan diberikan kepada Cinta oleh dirinya dan teman-teman yang lainnya.


"Kapan gue bisa pulang nih?' tanya Cinta.


"Sebentar lagi," sahut Bintang dengan gelisah.


'Duh Riana dan yang lainnya mana sih? kok belum datang?' batin Bintang.


"Lama ah gue pulang dulu deh ya!" ucap Cinta kesal karena waktunya diulur 10 menit.


Namun tiba-tiba teman-temannya datang sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Cinta. Dia baru teringat kalau hari ini adalah ulang tahunnya, ini adalah pertama kalinya dia merayakannya.


"Happy Birthday Cinta!" ucap Riana sambil membawa kue.


Cinta meniup lilinnya, lalu berkata,"makasih teman-teman semuanya".


"Sama-sama Cinta," sahut teman-temannya secara serempak.


Sebelum kelas di kunci, Cinta memotong kuenya dan menyuapi teman-temannya. Di mulai dari Erna, Riana lalu BIntang dan yang lainnya. Saat itu juga teman-temannya Cinta yang pernah membuly nya meminta maaf kepada Cinta.


"Iya gue maafin kok, gue tahu kalian semua kena hasutan," ucap Cinta.


"Makasih ya Cinta, lo emang orang yang baik!" ucap salah satu temannya.

__ADS_1


Cinta tersenyum, hari ini adalah hari kebahagiannya. Dia berencana untuk merayakan ulang tahunnya bersama Ibunya di rumah. Dia ingin mengambil momen pertama kalinya merayakan ulang tahun bersama Ibunya di rumah.


__ADS_2