Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 59


__ADS_3

Teman-teman sekelas cinta sudah mendengar bahwa Andika dan Cinta mengalami kecelakaan dan masih di rawat di rumah sakit. Keadaan kelas berjalan seperti biasa hanya saja Bintang terlihat murung berada di pojokan.


Agus dan Riski yang melihat sahabatnya memasang wajah murung langsung menghampirinya berniat untuk menghibur.


"Tang lagi mikirin apaan sih lo?" tanya Agus berbasa-basi.


"Gak ada!" sahut Bintang singkat.


"Lo pasti mikirin Cinta ya?" tebak Riski yang duduk di bangku Cinta tepatnya di sebelah Bintang.


"Lo masih suka sama Cinta Tang?" tanya Agus.


"Ya gitulah!" kata Bintang yang masih memasang raut wajah yang sedih.


"Astaga Tang, Tang! Cinta sama Andika tuh udah jadian bahkan dia kecelakaan katanya karena jalan-jalan sama Andika. Lo masih suka sama dia? lupain aja lah Tang, cewek mah banyak di luaran sana!" jelas Agus yang tak mau Bintang berharap kepada Cinta lagi.


"Benar yang di katakan Agus, Tang. Kita sebagai sahabat lo cuma mau ngingetin lo aja gak bermaksud menghasut yang bukan-bukan. Kita peduli sama lo!" kata Riski lagi.


"Ya gue tahu maksud kalian baik. Tapi gak semudah itu untuk Move On, bagi gue Cinta satu-satunya cewek yang cocok sama gue!" kata Bintang kepada kedua sahabatnya.


"Astaga! susah amat ngomong sama orang bucin ya!" kata Agus sambil menepuk jidatnya.


"Gak! gue gak mau lupain Cinta. Kalian harus bantu gue bertindak agar gue bisa dapatin Cinta dan merebutnya dari Andika!" tegas Bintang.


"Sudah terlambat Tang!" kata Agus


"Gak peduli! pokoknya gue harus bikin Cinta merasa suka sama gue dan tergila-gila sama gue!" ucap Bintang penuh tekad.


Agus dan Riski yang melihat tingkah temannya tak biasa saling menatap satu sama lain, mereka mengkhawatirkan sahabatnya itu. Tetapi mereka juga tidak terlalu memikirkannya, mereka hanya menganggap jika itu semua hanyalah tekad yang di miliki Bintang untuk mengejar cintanya. Mereka sendiri yakin Bintang tidak mungkin akan memaksa Cinta untuk balik mencintainya.


"Guys gue sama Erna mau ke rumah sakit jenguk Cinta sepulang sekolah, bagi yang mau ikut silahkan berkumpul di kelas saat jam pulang ya!" ucap Riana memberikan pengumuman kepada teman sekelasnya.


"Gimana Tang? lo ikut gak?" tanya Agus.


"Pasti ikut lah!" sahut Bintang pasti.


Sedangkan di sisi lain, seseorang tampak mengeluh dan tidak suka untuk menjenguk teman sekelasnya dan siswa itu adalah Cantika. Meskipun dia ingin ke sana dia hanya ingin menjenguk Andika saja bukan Cinta.


'Nyebelin banget sih si Cinta itu, udah bikin celaka Andika sekarang dia malah mendapat prihatin dari teman-teman!' batin Cantika kesal.


...***...

__ADS_1


Setelah pulang daru sekolah, sesuai kesepakatan sekelas Riana mengumpulkan teman-temannya di kelas untuk menjenguk Cinta dan Andika ke rumah sakit.


"Oke! semua masih ada di sini kan? sekali lagi ini bukan paksaan, jika ada yang sibuk silahkan pulang dan bagi yang sibuk dan ingin menjenguk kedua teman kita mari sama-sama ke sana!" ucap Riana kepada teman sekelasnya.


Karena tidak ada yang keluar lagi, Riana dan teman-temannya segera berangkat ke rumah sakit. Tentu saja yang tahu jalan akan menjadi pemimpin di depan. Orang yang ikut hanya sedikit, jadi nantinya tidak akan terlalu banyak pengunjung di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di rumah sakit. Cinta dan Andika terkejut melihat kedatangan teman-temannya, namun ada rasa senang karena teman-temannya masih peduli sama mereka.


"Hi Cinta, gimana keadaan lo?" tanya Erna menghampiri sahabatnya yang sedang terbaring di bangsal.


Teman-teman yang lain sebagian melihat keadaan Andika di bangsalnya.


"Cinta kenapa lo bisa kecelakaan? gimana ceritanya?" tanya Riana yang ikut menyusul Erna.


"Gue juga gak tahu pasti, yang gue ingat tiba-tiba saja gue sama Andika sudah terpental dan akhirnya menimbulkan beberapa luka," kata Cinta.


"Duh hati-hati dong Cinta, katanya lo nabrak truk ya? sekarang emang harus hati-hati soalnya banyak banget truk yang bermunculan di jalan raya. Mereka biasanya jalan melambat karena muatannya yang berat, jadi hati-hati saja!" jelas Erna yang tampak mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Iya Na, lagipula bukan salah sopir truknya kok, ini murni kesalahan kami sendiri karena saat itu kami sedang mengobrol, mungkin Andika gak lihat jadinya tertabrak deh!" ucap Cinta.


"Oh begitu ya!" sahut Erna.


"Lo gimana keadaannya Dik?" tanya Cantika yang berada di bangsal Andika.


Andika tidak senang dengan kedatangan Cantika, itu membuat Andika merasa risih dan ada perasaan benci di hatinya.


"Lo udah makan belum? gue bawain lo buah-buahan loh. Mau gak lo?" tawar Cantika.


"Gak usah, gue udah makan kok!" kata Andika menolak.


"Oh ya udah deh!" ucap Cantika langsung duduk di kursi dekat bangsal Andika.


"Lo ngapain duduk fi sana?" tanya Andika yang merasa j*jik berdekatan dengan Cantika.


"Ya Gue capek berdiri!" sahut Cantika mulai menggenggam tangan Andika.


"Argh! jangan pegang-pegang, tangan gue sakit!" ucap Andika menghempaskan tangan Cantika.


"Oh sorry, sorry!" ucap Cantika dengan wajah ketakutan.


Cantika mulai mengelus kepala Andika tanpa malu, namun segera tangan itu di turunkan oleh Andika sendiri.

__ADS_1


"Gak boleh pegang itu juga?" tanya Cantika tanpa rasa malu.


Dari bangsal sebelah terlihat sepasang kata sedang menatap ke arah Andika. Tatapan yang sangat menakutkan itu berasal dari mata Cinta, matanya seperti akan menghidupkan api yang bersiap membakar Andika dan Cantika hidup-hidup.


Meskipun Cantika tahu Cinta kesal, dia tidak menghiraukannya. Justru Cantika lebih berani untuk menyentuh Andika.


'Rasain lo, sakit hati kan lihat gue bermesraan sama Andika? Andika tuh cuma buat gue, lo mah cuma pelampiasan aja!' batin Cantika penuh percaya diri.


"Andika kamu makan buah ya, aku udah potongin loh!" ucap Cantika sambil melirik ke arah Cinta berharap dia masih memperhatikannya.


"Gak usah gue udah kenyang!" tolak Andika lagi.


"Dasar gak tahu malu!" ucap Erna mengatai Cantika.


"Lo gak kesal Cin, pacar lo di godain?" kata Riana


"Lo gak lihat pacar gue menolak Cantika mentah-mentah, ngapain gue kesel!" kata Cinta.


"Siapa tahu aja dia bersikap seperti itu hanya di depan lo aja, di belakang lo beda lagi," ucap Riana.


"Gak mungkinlah, gue percaya Andika kok!" kata Cinta penuh yakin.


'Gimana kalau yang dikatakan oleh Erna benar?' batin Cinta ragu.


"Ayolah Andika, aku udah capek-capek loh potongin!" kata Cantika.


"Gue bilang enggak ya enggak!" bentak Andika dengan suara keras.


"Tapi...,"


"Mbak, kalau pasiennya sudah kenyang jangan di paksa untuk makan. Lebih baik apel yang sudah kamu potong untukku saja, kebetulan aku lapar nih Mbak!" ucap Cinta memotong pembicaraan Cantika.


'Cinta?!' batin Andika sambil melirik ke arah Cinta.


"Siapa yang kamu bilang Mbak-mbak hah?" tanya Cantika yang merasa tersinggung dengan panggilan tersebut


"Ya kamu lah! emang salah ya? masa iya aku panggil kamu Mas?" ucap Cinta yang semakin membuat Cantika kesal.


"Ya juga sih! tapi kan kalau lo panggil gue mbak terkesan gue sudah tua!" protes Cantika.


"Ya bodo amat, emang lo udah tua kok!" sahut Cinta.

__ADS_1


"Ihhh dasar nyebelin! awas ya lo!" ancam Cantika lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Cantika tidak berani berbuat sesuatu karena ini adalah rumah sakit.


__ADS_2