
Satu bulan kemudian...
"Gue harus bisa pisahin Cinta dan Andika. Mungkin saja Andika belum mengetahui rahasia ibunya Cinta, apa gue sampein aja kali ya?" pikir Bintang sambil rebahan di kasurnya.
Bintang bersikeras untuk mendapatkan Cinta, dia tidak bisa melupakannya satu-satunya cara adalah memilikinya. Melihat hubungan Andika dan Cinta belakangan ini sedikit renggang Bintang ingin menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan hubungan mereka.
Namun, Bintang sendiri tidak tahu ada permasalahan apa antara hubungan Cinta dengan Andika sehingga mereka nampak tak seperti biasanya. Bintang berniat untuk menyelidikinya.
Keesokan hari seperti biasa Bintang berangkat sekolah setelah selesai sarapan. Dia berniat menjalankan aksinya untuk merebut Cinta dari Andika.
Di dalam kelas, Bintang tampak seperti menantikan kedatangan Cinta.
"Ngapain lo melamun?" tanya Agus yang tiba-tiba menghampirinya.
"Ganggu aja lo!" kata Bintang tidak senang dengan kehadiran Agus.
"Kedatangan teman dibilang mengganggu coba cewek yang duduk di sebelah lo datang pasti lo senang," kata Agus mengejek Bintang.
"Iyalah, secara dia pujaan hati gue. kalau lo sih ogah ya,"
"Yahh pujaan hati lo panjang umur, gue pergi dulu ya. Semangat!" ucap Agus mengepalkan tangan dan memberikan Bintang semangat untuk kembali mengejar Cinta.
"Ada apa sama Agus? kenapa pergi dengan tergesa-gesa?" tanya Cinta yang sempat berpapasan dengan Agus.
"Gak tahu, orang aneh!" sahut Bintang.
Cinta meletakkan tasnya ke atas mejanya dan duduk di bangkunya. Bintang memperhatikan Cinta dengan seksama, ingin sekali rasanya bertanya soal hubungan Cinta dan Andika. Tetapi Bintang takut pertanyaannya membuat Cinta marah.
Cinta yang merasa di perhatikan oleh Bintang merasa sedikit risih.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? ada yang salah ya sama gue?" tanya Cinta.
Tatapan Bintang kepada Cinta membuat Cinta kurang percaya diri dengan penampilannya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa kok, lo masih cantik seperti biasa!" sahut Bintang menggombal.
"Bisa aja lo!" sahut Cinta malu-malu.
Beberapa saat kemudian Andika datang ke kelas dengan mengenakan seragam yang melanggar aturan sekolah. Bajunya tidak di masukkan ke dalam celana dan juga melipat lengan bajunya. Belakangan ini Cinta melihat perubahan Andika yang secara tiba-tiba. Cinta seperti melihat Andika yang tidak seperti sebelumnya.
Melihat raut wajah Cinta yang sedih, Bintang memutuskan untuk bertanya.
"Lo belakangan ini kenapa jarang ngobrol sama Andika? hubungan lo baik-baik saja kan?" tanya Bintang.
"Gue udah putus sama dia!" sahut Cinta yang berhasil membuat Bintang terkejut sekaligus senang.
"Loh? kok bisa?" tanya Bintang.
"Ada masalah sama latar belakang keluarga gue!" sahut Cinta yang terlihat murung.
Melihat Cinta sedih, Bintang merasa tidak tega. Bintang merasa kalau Cinta seperti sangat mencintai Andika.
"Lo yang sabar ya Cin, masih ada gue kok. Hati gue selalu terbuka untuk lo!" kata Bintang.
Kring....
Bel masuk berbunyi, pembelajaran pun dimulai. Para guru keluar dari ruang guru dengan buku yang tergenggam di tangannya. Masing-masing dari mereka masuk ke ruangan sesuai jadwalnya.
Hari ini Pak Yoga yang merupakan guru matematika di kelas Cinta masuk ke dalam kelas. Tampak semua murid dengan ekspresi tegang duduk dengan rapi. Mereka semua takut dengan kemarahan Pak Yoga, oleh karena itu mereka tidak pernah membuat masalah saat pelajaran Pak Yoga.
Menit per menit waktu berjalan, hingga tiba saatnya Pak Yoga selesai memberikan penjelasan dan memberikan soal kepada siswa yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan.
"Silahkan dikerjakan soalnya, saya kasih waktu 15 menit untuk mengerjakan 3 soal yang saya berikan!" ucap Pak Yoga.
Sebagian murid nampak panik terlebih lagi untuk yang tidak mengerti dengan materi yang di ajarkan oleh Pak Yoga tadi.
Di meja belakang terlihat Cinta dengan lancar menulis sambil membolak-balikkan bukunya untuk menghitung. Dia menggunakan rumus yang telah diajarkan oleh Pak Yoga tadi, dengan begitu Cinta mendapatkan jawaban dengan mudah.
__ADS_1
15 menit berlalu, kini Pak Yoga sudah bersiap-siap akan menunjuk siswa untuk maju ke depan. Cinta bersikap dengan tenang karena telah selesai mengerjakannya. Begitupula dengan Andika dan Bintang, mereka tidak gelisah seperti teman yang lainnya.
"Riski, Erna, dan Agus maju ke depan!" perintah Pak Yoga kepada mereka.
Seketika raut wajah mereka panik karena mereka sama sekali belum mengerjakannya. Namun mereka bertiga tetap maju ke depan menyerahkan nasib mereka kepada Pak Yoga.
"Nilai kalian di pelajaran saya terlalu rendah hingga tidak memenuhi KKM, jadi saya memberikan kesempatan kepada kalian untuk menambah nilai dengan cara mengerjakan soal ini," ucap Pak Yoga kepada tiga siswa yang sudah berdiri di sampingnya.
"Riski kerjakan soal nomor 1, Erna kerjakan soal nomor 2 dan Agus kerjakan soal nomor 3. Kalian boleh melihat buku kalian jika tidak hafal rumusnya!" lanjut Pak Yoga.
Pak Yoga memberikan sebuah spidol kepada Riski yang akan mengerjakan soal nomor 1. Riski menerima spidol itu dengan tangan gemetar, buku tulisnya tidak berisi jawaban satupun. Dia hanya mencatat soal yang di berikan oleh Pak Yoga saja.
2 menit Riski masih diam dan belum menulis, akhirnya Pak Yoga menggantinya dengan Erna untuk mengerjakan soal nomor 1. Namun hal yang sama juga terjadi, buku Erna. Dan Pak Yoga kembali menggantinya dengan Agus dan terulang kembali, Agus pun tak bisa menjawab soal nomor 1 tersebut.
"Ya sudah saya kesempatan lain untuk kalian. Kalian bebas pilih soal yang ingin kalian kerjakan!" kata Pak Yoga.
Namun Riski, Erna dan Agus terdiam dengan kepala menunduk tidak berani menatap ke arah Pak Yoga.
"Ketiga soal ini kalian tidak bisa mengerjakan? bahkan satu saja?" tanya Pak Yoga kepada 3 siswa yang masih berdiri di sampingnya.
Ketiga siswa tersebut menggelengkan kepalanya serentak dengan posisi masih menunduk.
Pak Yoga mengurut keningnya melihat perilaku ketiga siswa tersebut. Akhirnya Pak Yoga menyerah dan meminta perwakilan dari siswa lain yang mau menjawab soal tersebut.
Cinta mengangkat tangannya, Riana dan Bintang juga ikut mengangkat tangannya. Pak Yoga memanggil mereka bertiga untuk maju ke depan.
"Cinta kamu mau mengerjakan soal yang mana?" tanya Pak Yoga.
"Bebas saja sih Pak!" sahut Cinta.
"Ya udah kamu jawab soal nomor 1 saja, setelah itu kamu jelaskan cara mencari jawaban yang kamu dapatkan kepada teman-teman kamu!" kata Pak Yoga kepada Cinta.
"Baik Pak!" sahut Cinta.
__ADS_1
Tidak seperti 3 siswa yang di panggil sebelumnya, Cinta langsung mengerjakan soal tersebut setelah menerima sebuah spidol dari Pak Yoga. Sebentar melihat catatan di bukunya, kemudian kembali menulis di papan tulis hingga selesai mengerjakan satu soal.