Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
CHAPTER 17


__ADS_3

Sekitar jam 9 pagi, Cinta izin kepada Bintang untuk mengerjakan beberapa tugas yang belum sempat dia kerjakan.


"Oh ya, gue juga bawa buku gue nih! Tapi tas gue di kamar gue," kata Bintang.


"Ambil aja, gue juga mau ngerjain tugas di kamar aja!" kata Cinta.


"Ya udah deh," ucap Bintang.


Mereka pun pergi ke kamar Bintang, dimana tempat Cinta tidur kemarin.


"Ini gue ambil semua buku-buku lo, gue takutnya lo akan tinggal di sini lama!" kata Bintang.


"Makasih ya Tang. Tapi baju-baju lo masih dirumah gue Tang, gimana dong?" ucap Cinta.


"Ya gak apa-apa. Taruh saja di rumah lo dulu," kata Bintang.


"Apa gue balik aja ya Tang? gue juga khawatir sama ibu gue. Dia pasti belum makan, gak mungkin juga dia pegang uang buat makan!" kata Cinta.


"Kalau gitu nanti saja tunggu orang tua balik kerja. Biar nanti kalau terjadi apa-apa ada orang yang melindungi kita," kata Bintang memberikan saran.


"Iya deh Tang. Tapi sekarang Ibu gue pasti kelaparan," kata Cinta yang masih mengkhawatirkan ibunya.


"Yaudah, gue pesankan makanan aja buat ibu lo," kata Bintang yang tidak ingin melihat Cinta khawatir.


"Makasih ya Tang. Lo catat saja pengeluaran gue selama gue tinggal di sini, nanti gue bayar kalau sudah punya uang!" kata Cinta yang masih sungkan.


"Gak usah. Lagian kalau lo mau balas, jadi pacar gue aja!" ucap Bintang.


Cinta pun terdiam, dia masih belum bisa menerima Bintang.


"Yaelah, bercanda kali!" ucap Bintang dengan wajah meledek.


"Ah lo, bikin gue kaget aja," kata Cinta sedikit kesal.


'Gue tahu lo masih belum bisa nerima gue, tapi gue pasti akan selalu menunggu lo kok!" ucap Bintang dalam hati.


...****************...


Karena terjadi sesuatu dikantor, Mama dan Papanya Bintang pulang lebih awal. Jam 11 mereka sudah sampai dirumah, kebetulan tempat kerja mereka sama.


"Kira-kira Bintang sama Cinta lagi apa ya dirumah?" tanya Nadia kepada suaminya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh Ma," sahut Marchel lalu turun dari mobilnya.


"Ya kan Mama cuma nanya aja Pa, bukan mikir yang aneh-aneh!" sahut Nadia sambil berjalan mengikuti langkah kaki Marchel.


"Tapi pertanyaan Mama berkata lain Ma," kata Marchel.


"Ih dasar si Papa nih!" gerutu Nadia dari belakang Marchel.

__ADS_1


"Papa istirahat dulu di kamar ya Ma," ucap Marchel.


"Iya Pa!" sahut Nadia.


"Bintang!" teriak Nadia ketika tidak menemukan Bintang diruang tamu.


Nadia berjalan menuju ke kamarnya Bintang, dan ternyata mereka sedang belajar bersama di sana.


"Loh Mama kok pulang cepat hari ini?" tanya Bintang yang melihat Nadia masuk ke kamarnya.


"Iya, pekerjaan Mama sudah selesai!" ucap Nadia.


"Kalian lagi belajar ya? Semangat ya!" ucap Nadia memberi semangat.


"Iya Ma, oh ya ada yang mau Cinta omongin sama Mama!" ucap Bintang.


Seketika Nadia menatap ke arah Cinta yang sedari tadi memperhatikan mereka berbicara.


"Ada apa Cinta? Ada masalah apa?" tanya Nadia lembut dan duduk disamping Cinta.


"Tante maaf ngerepotin Tante, aku mau pulang saja sekarang ya. Soalnya kasihan Ibu dirumah," ucap Cinta.


"Kok gitu sih Cinta? Kok buru-buru banget?" tanya Nadia sedih.


"Iya soalnya Ibu aku pasti gak punya uang sekarang untuk makan. Kalau aku di sini terus, takutnya Ibu kelaparan dirumah!" ucap Cinta memberikan penjelasan.


"Kalau gitu Tante kasih uang saja ke Ibu kamu ya?" ucap Nadia.


"Tapi lo beneran gak apa-apa Cin? Gue takut lo dipukuli lagi sama Ibu lo," ucap Bintang yang ikut berbaur.


"Gak apa-apa Tang," sahut Cinta ragu.


Bahkan dirinya saja tidak tahu apa yang akan terjadi lagi, akankah ibunya sadar atau malah akan memarahinya. Tapi, jika Cinta berlama-lama di sini juga tidak akan menyelesaikan masalah.


"Yaudah deh kalau begitu kita antar saja ya Cinta?"


"Iya Tante, boleh kok. Lain kali kalau ada waktu Tante boleh kok berkunjung ke rumahku, tapi ya gitu rumahku tidak semewah dan sebersih rumah tante ini," kata Cinta.


"Ya gak apa-apa Cinta, Tante gak pandang itu kok. Yaudah kalau gitu kita siap-siap saja, Tante mau panggil Om dulu!" ucap Nadia sambil tersenyum.


"Iya Tante,"


Nadia pun pergi dari kamar Bintang, sedangkan Cinta membereskan buku-bukunya.


"Lo... Beneran gak apa-apa Cin?" tanya Bintang yang sangat mengkhawatirkan Cinta.


"Beneran Bintang, lo gak usah terlalu mengkhawatirkan gue," kata Cinta.


"Gue kan sahabat lo sekarang, wajar dong gue mengkhawatirkan lo!" kata Bintang.

__ADS_1


"Tapi beneran gue gak apa-apa Tang. Percaya deh sama gue," ucap Cinta berusaha meyakinkan Bintang.


"Iya deh Tang. Gue...gue boleh peluk lo gak? Anggap saja pelukan ini pelukan persahabatan," ucap Bintang gugup.


"I...iya boleh Tang!" kata Cinta.


Bintang pun memeluk tubuh pendek Cinta, memeluknya dengan erat dan berbisik, "Lo jaga diri baik-baik ya. Gue gak mau besok ada luka baru di tubuh lo!"


"Iya Tang, gue janji!" ucap Cinta.


Mereka pun melepaskan pelukan itu, jantung Cinta berdebar dengan kencang saat di peluk oleh Bintang.


Setelah selesai membereskan buku-bukunya, Cinta dan Bintang menemui Nadia dan Marchel diruang tamu. Lalu mereka berangkat ke rumah Cinta.


...****************...


Di rumah Cinta, terlihat Laras yang sedang duduk santai di teras rumahnya.


"Tadi siapa yang kirim makanan ke rumah ya? Apa orderannya kesasar kali ya?" tanya Laras pada dirinya sendiri.


"Tapi bodoamat lah yang penting aku kenyang. Untung makanan itu gak beracun," ucapnya.


Beberapa menit kemudian, Laras melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.


"Siapa itu?" Laras mendongak-dongakkan kepalanya berharap bisa melihat orang yang ada di depan mobil.


Dan betapa terkejutnya Laras ketika melihat orang yang turun dari mobil tersebut adalah anaknya bersama teman sekolahnya yang kemarin. Mereka ditemani oleh sepasang orang dewasa.


'Sepertinya teman Cinta yang kemarin anak orang kaya!' batin Laras.


"Akhirnya kamu pulang juga cinta!" ucap Laras kepada Cinta ketika rombongan yang ada di mobil sudah sampai diteras.


"Iya Bu," sahut Cinta yang tersenyum.


"Maafin Ibu ya Cinta, ibu merasa bersalah sama kamu!" kata Laras memeluk Cinta.


"Iya Bu gak apa-apa," sahut Cinta.


'Apa Ibu sudah berubah ya?' batin Cinta yang baru pertama kali merasakan pelukan Laras.


"Eh, ini siapa Cinta?" tanya Laras mengalihkan pandangannya ke orang tua Bintang.


"Oh iya, kenalin Bu ini Tante Nadia sama Om Marchel ini orang tuanya Bintang teman sekelas aku," ucap Cinta memperkenalkan mereka.


"Oh mari masuk Bu, Pak!" ucap Laras ramah.


'Ini pertama kalinya aku melihat Ibu tersenyum dan ramah terhadap orang. Terimakasih Tuhan engkau sudah mengabulkan doaku' batin Cinta senang.


"Duduk Bu, maaf tempatnya kotor seperti ini maklumlah Bu," kata Laras ketika orang tua Bintang dan Bintang sudah masuk kerumahnya.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa Bu," kata Nadia.


"Tante, terimakasih banyak sudah mengantar saya pulang ke rumah. Om makasi banyak ya!" ucap Cinta kepada kedua orang tuanya Bintang.


__ADS_2