Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 18


__ADS_3

Setelah beberapa menit mereka berbincang, akhirnya Bintang dan kedua orang tuanya memutuskan untuk pulang. Mereka sudah tenang ketika melihat perlakuan Laras baik terhadap Cinta. Mereka tidak lagi mengkhawatirkan Cinta.


"Sering-sering mampir ke sini ya Tante!" ucap Cinta.


"Iya Cinta, kami pulang dulu ya!" ucap Nadia.


"Iya Tante!"


Marchel pun mengemudikan mobilnya dan pergi meninggalkan Cinta bersama Ibunya.


"Syukurlah Ibunya sudah bersikap baik terhadap Cinta, jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan Cinta lagi!" kata Nadia saat sedang di perjalanan.


"Tapi kok Bintang merasa aneh ya Ma?" ucap Bintang yang masih tidak percaya dengan perubahan sikap Laras.


"Aneh kenapa?" tanya Nadia.


"Aneh aja gitu Ma, masa Ibunya Cinta berubah dalam satu hari saja?" ucap Bintang yang mencurigai Laras.


"Ya siapa tahu tuhan sudah membuka hatinya. Kita berdoa saja ya untuk kebaikan Laras," ucap Nadia.


"Iya deh Ma!" sahut Bintang.


Beberapa menit kemudian, Nadia baru tersadar akan Hp-nya.


"Pa kayaknya HP Mama ketinggalan dirumah Laras deh!" ucap Nadia.


"Kok bisa sih Ma, coba cek sekali lagi!" kata Marchel.


"Gak ada Pa, tadi Mama genggam HP mama terus taruh di sofa mungkin gak sadar!" kata Nadia.


"Ya udah kita putar balik aja!" kata Marchel.


Akhirnya mereka pun putar balik menuju ke rumah Cinta lagi.


"KAMU BENAR-BENAR ANAK DURHAKA YA! MENINGGALKAN IBU SENDIRIAN DI RUMAH TANPA ADA MAKANAN ATAUPUN UANG SEPESERPUN!" teriak Laras kepada Cinta sembari memukul badan Cinta kembali.


"Ampun Bu! Ampun! Aku gak akan seperti itu lagi Bu, aku janji," ucap Cinta memohon ampunan sembari menahan rasa sakit yang sudah sangat familiar di tubuhnya.


"GAK ADA AMPUNAN LAGI UNTUK KAMU! KAMU BERHARAP SAYA BERUBAH HAH?? JANGAN MIMPI KAMU!" ucap Laras lagi dengan nada tinggi.


Cinta menangis sesenggukan, dia tidak menyangka Ibunya hanya berpura-pura baik.


Setelah puas melampiaskan amarahnya kepada Cinta, laras pun pergi meninggalkan Cinta yang bersimpuh di ruang tamu.


'Bu, aku kira Ibu sudah berubah. Tapi kenapa seperti ini lagi? Apakah Ibu benar-benar tidak menyayangi aku?' tanya Cinta dalam hati.

__ADS_1


"CINTA!" seru Bintang yang tanpa disadari oleh Cinta sudah berada di depan pintu masuk.


"Cinta kamu kenapa?" tanya Bintang menghampiri Cinta yang duduk bersimpuh di lantai.


Kedua orang tuanya Bintang ikut masuk dengan ekspresi yang sangat terkejut.


"Kamu kenapa balik lagi?" tanya Cinta.


"Handphone Mama aku ketinggalan, tadi aku lihat pintunya terbuka jadi aku masuk dan melihat kamu seperti ini. Kamu kenapa lagi Cinta?" tanya Bintang yang berjongkok di samping Cinta.


"Aku...aku gak apa-apa kok Tang!" ucap Cinta.


Nadia menghampiri Cinta dan memapah Cinta untuk duduk di sofa lalu duduk disampingnya.


"Cinta, kamu kenapa? Kamu bisa cerita sama Tante. Oh ya Ibu kamu kemana?" tanya Nadia sembari memegang tangan Cinta.


"Ssshhh!" Cinta meringis kesakitan ketika Nadia memegang tangannya.


Cinta memakai pakaian lengan panjang dan juga celana panjang, wajar saja jika Nadia tidak tahu ada memar yang habis terkena pukulan di badan Cinta.


"Kamu kenapa?" tanya Nadia.


Bintang yang juga berada di samping Cinta dengan sigap memeriksa tangannya Cinta dan menarik pakaian yang menutupi tangannya.


Namun Cinta hanya terdiam saja, dia tidak menjawab pertanyaan Bintang. Ini membuat Bintang semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


Beberapa menit kemudian, Laras keluar dari kamarnya dan terkejut melihat kedatangan keluarga Bintang.


'Kenapa mereka bisa datang lagi sih?' gerutu Laras dalam hati.


Laras langsung mengubah ekspresinya menjadi ramah dan tersenyum menghampiri Nadia dan Marchel.


"Eh Jeng, kok balik lagi? Ada yang ketinggalan ya?" tanya Laras ramah.


"Tante gak usah basa basi! Pasti Tante kan yang mukul Cinta lagi?" ucap Bintang dengan nada tinggi.


"Maksud kamu apa ya? Emang Cinta kenapa?" tanya Laras yang langsung mendekati Cinta seperti Ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.


"Tante gak usah acting lagi deh! Kita sudah tahu semuanya," teriak Bintang.


"Bintang, kamu gak boleh gitu!" ucap Marchel yang sedari tadi terdiam.


"Pa, yang dibilang Bintang juga ada benarnya. Mana ada seorang Ibu memukul anaknya dan bahkan berpura-pura baik di depan kita," ucap Nadia membenarkan anaknya.


"Maaf, maksud kalian apa ya? Saya acting gimana maksud kalian?" tanya Laras yang menunjukkan sedikit emosinya berharap Bintang dan Nadia tergertak.

__ADS_1


"Cinta kamu jelasin. Kamu dipukul sama Ibumu lagi kan?" tanya Bintang kepada Cinta yang berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Cinta kamu jangan diam saja, gak usah takut. Ada aku kok!" ucap Bintang geram.


Cinta hanya menjawabnya dengan gelengan kepala saja yang membuat Bintang dan Nadia tercengang.


"Lihat, anak saya saja tidak mengakui kalau saya yang sudah memukulnya!" ucap Laras dengan rasa percaya dirinya.


"Sudahlah Ma, lebih baik kita pulang. Tidak baik terlalu ikut campur dengan urusan orang lain!" ucap Marchel yang mendadak berubah.


"Papa kok gitu sih? Kan Papa sendiri yang bilang boleh menjadikan Cinta anak angkat? Kok jadi seperti ini sih Pa?" tanya Nadia yang penuh emosi.


"Ya, tapi kan Cinta juga punya keluarga Ma. Cinta juga masih memiliki Ibu yang mau mengurusnya," ucap Marchel.


"Papa gak lagi menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Nadia dengan penuh curiga.


"Enggak Ma. Papa bisa nyembunyiin apa dari Mama?" tanya Marchel balik.


"Yaudah kalau Mama khawatir, kita kasih saja uang untuk memenuhi kehidupannya mereka!" ucap Marchel berusaha membujuk istrinya.


"Tidak usah repot-repot Pak, saya masih mampu bekerja kok!" ucap Laras.


"Kerja apaan? Biasanya juga Cinta yang mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari!" ucap Bintang.


"Yaudah Cinta, ini Tante ada sedikit uang untuk kamu. Kamu pergunakan dengan baik ya, jangan sampai di curi sama tikus dirumah ini," ucap Nadia memberikan uang kepada Cinta sambil menatap Laras sinis.


'Dasar wanita tidak tahu diri!' batin Laras.


Walaupun Laras mencaci-maki Nadia di dalam hatinya, namun dia tetap memasang wajah yang penuh senyuman.


"Maaf saya tidak bisa menerima uang Tante, aku masih bisa kok nyari uang," tolak Cinta.


"Tidak apa Cinta, kamu terima saja. Kalau kamu seperti ini, Mamanya Bintang akan merasa khawatir dan tidak tenang dirumah!" ucap Marchel.


"Iya Cinta, kamu terima ya!" imbuh Nadia.


Cinta melirik ke arah Laras, dia menatapnya dengan rasa takut dan khawatir.


'Aku terima gak ya? Kalau aku terima, Ibu pasti akan menggunakan uang ini untuk berjudi. Tapi kalau gak diterima Ibu pasti akan marah nanti!' batin Cinta kebingungan.


Belum sempat Cinta menjawab, Laras sudah mengambil uang ditangan Nadia tanpa rasa malu.


"Kalau seperti itu terimakasih banyak ya Jeng! Ini pasti dipergunakan dengan sangat baik kok!" ucap Laras sambil tersenyum.


Melihat prilaku Laras yang tidak tahu malu, Nadia merasa sangat j*jik.

__ADS_1


__ADS_2