
Keesokan harinya di sekolah, Andika menyampaikan kabar bahagia kepada Cinta. Kabar tersebut Andika dengar dari semalam, bawahan Papanya meneleponnya saat dia baru saja ingin tidur.
"Jadi, kabar bahagia apa yang ingin lo sampaikan? Kan sudah di sekolah?" tanya Cinta kepada Andika.
Andika sengaja memperlambat penyampaiannya karena dia ingin ini menjadi surprise untuk Cinta. Melihat Cinta yang tidak sabaran, Andika pun memberitahu informasi tersebut.
"Gue dapat kabar dari bawahan gue kalau pelakunya sudah di tangkap dan di penjara. Dan berdasarkan bukti pelaku mengaku bahwa memang itu miliknya!" kata Andika.
"Lalu kapan kita bisa lihat pelakunya?" tanya Cinta.
"Nanti pulang sekolah!" sahut Andika bersemangat.
"Oke deh!" ucap Cinta tanpa ekspresi.
Andika kecewa melihat ekspresi Cinta yang tampak biasa-biasa saja. Padahal ini seharusnya informasi yamg bisa membuat Cinta senang, tapi malah Cinta tidak menunjukkan rasa senangnya kepada Andika.
'Akhirnya dendam ini terbalaskan Bu! Semoga Ibu tenang di sana ya!' batin Cinta.
Sepulang sekolah sesuai janji Andika dan Cinta pergi ke kantor polisi untuk memastikan siapa pelakunya. Setelah berbicara dengan petugas di sana, Cinta dan Andika di suruh menunggu di bangku yang kosong.
"Kira-kira siapa ya pelakunya? Apakah sesuai dugaan kita?" tanya Cinta kepada Andika.
"Sebentar lagi kita akan lihat!" ucap Andika.
Cinta merasa degdegan, dia berharap itu bukan Papanya Bintang. Namun saat tersangka datang ke hadapannya, Cinta sudah menarik harapan tersebut.
"Cin...Cinta!" ujar Marchel gugup setelah melihat Cinta.
Marchel mengira yang datang adalah Nadia dan Bintang, namun taj di sangka yang datang adalah korbannya.
"Jadi benar Om Marchel pelakunya?" tanya Cinta yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Namun Cinta masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, di hadapannya memang benar Marchel yang merupakan Papanya Bintang. Mau berulang kali pun Cinta mengucek matanya akan tetap terlihat Marchel yang dia kenal pria yang sangat baik dan sosok ayah yang sangat penyayang.
"Iya Cinta!" kata Marchel menunduk.
__ADS_1
"Silahkan duduk Om!" ucap Andika.
"Om apa ada kesalahpahaman antara Ibu sama Om marchel? Sehingga Om melakukan kejahatan tersebut?" tanya Cinta.
"Ini memang salah Om, Cinta!" sahut Marchel yang masih tidak berani menatap Cinta langsung.
"Om, bisa di jelaskan awal mula kejadiannya? Soalnya Cinta tidak mengerti kenapa Om begitu kejam, apakah karema ada dendam atau apa!" kata Cinta meminta penjelasan kembali.
Sudah berulang kali Marchel menjelaskan kepada banyak orang, dan cerita yang sama. Namun dia tidak berfikir kalau ini melelahkan melainkan ini memang dosa yang dia tanggung dari perbuatannya.
Marchel menceritakan dari awal kejadian, hingga Laras memerasnya dengan ancaman hubungan gelapnya dengan Laras. Marchel juga menceritakan bagaimana dia bisa membunuhnya dan ditipu oleh Laras.
"Jadi selama ini Ibu tidak bekerja? Melainkan mendapat uang dari Om secara paksa?" tanya Cinta setelah mendengar cerita Marchel.
"Om tidak berbohong kepada kamu! Om sudah di penjara untuk apalagi Om berbohong kepada kamu!" kata Cinta.
Cinta terdiam, dia tidak mungkin tidak percaya dengan perkataan Marchel. Namun dia masih tidak menyangka bahwa selama ini Ibunya tidak mencari uang dengan benar. Cinta baru sadar Ibunya hanya berubah baik kepadanya, tetapi dalam cara mencari uang dia masih sama.
"Cin, lo tenang dulu ya!" ucap Andika.
Di tengah-tengah kesedihannya, petugas datang dan mengatakan bahwa waktu untuk menjenguk sudah habis. Sebelum amsuk ke dalam sell, Marchel meminta maaf kepada Cinta sekali lagi meskipun dia sudah tahu Cinta tidak akan memaafkan perbuatannya. Bagaimanapun juga Marchel menghilangkan nyawa seseorang yang Cinta sayang dan satu-satunya keluarga yang Cinta punya.
"Cin kita pulang yuk! Lo tenangkan diri lo dulu di rumah! Hari ini lo gak usah bekerja!" kata Andika membujuk Cinta.
"Iya Dik!" ucap Cinta
Andika pun mengantar Cinta pulang sampai Cinta amsuk ke rumahnya. Cinta mempersilahkan Andik untuk duduk ketika sudah sampai di ruang tamu.
"Cin, semua sudah terjadi. Dan di antara mereka sudah mendapat konsekuensinya, jadi lo jangan mikirin mereka lagi ya!" kata Andika menenangkan.
"Iya Dik, gue harusnya gak mempedulikan ini lagi. Gue harusnya pergi kerja sekarang!" kata Cinta.
"Lo gak usah kerja hari ini, nanti gue bilang sama Bos lo!" ucap Andika.
"Makasih Dik!" ucap Cinta lemah
__ADS_1
Andika merangkul Cinta sambil mengelus rambutnya berharap Cinta dapat tenang. Andika sendiri tidak tahu kalau pelakunya adalah papanya Bintang.
Beberapa saat kemudian, Andika tidak tahu bahwa Cinta tertidur dalam pelukannya. Andika masih sibuk memainkan ponsel Cinta untuk mengirim pesan kepada Pak santoso bahwa Cinta izin cuti hari ini.
"Cinta, gue udah minta izin sma Pak Santoso kalau lo cuti hafi ini!" kata Andika.
Namun Cinta tak menyahut, Andika berfikir bahwa Cinta masih seduh sehingga tidak ingin berbicara.
"Cin, jadi gimana? Gue kan udah nemu pelakunya, jadi kita balikan ding ya?" tanya Andika.
Namun Cinta masih tetao diam dan tak menjawab pertanyaannya. Andika pun menoleh ke wajah Cinta dan dia melihat Cinta memejamkan matanya.
"Astaga, gue sudah gila bicara sama orang tidur!" kata Andika sambil menepuk dahinya.
Andika pun mengangkat tubuh Cinta secara perlahan, dia ingin membawa Cinta ke kamarnya untuk beristirahat. Meskipun Cinta lumayan berat namun Andika tetap mengangkat Cinta menuju ke kamarnya.
"Huh! Ternyata lo berat juga ya Cin!" ucap Andika.
Andika duduk di samping Cinta yang sedang tertidur di ranjang. Dia menatap Cinta dengan lembut sambil tersenyum manis.
"Lo lebih cantik saat tidur daripada saat bangun. Gue makin terpesona melihat lo!" kata Andika.
Andika mengelus rambut Cinta dengan lembut, dia ikut berbaring di samping Cinta sambil memeluk Cinta yang sudah tidur terlelap.
"Tidur yang nyenyak ya sayangku! Aku temani kamu sampai kamu terbangun!" ucap Andika sambil mengecup kening Cinta dengan lembut.
Setelah itu Andika kembali memeluk Cinta sambil memejamkan mata. Sesekali Cinta bergerak dari posisinya, namun dia kembali tidur. Cinta merasa sangat nyaman berada di pelukan Andika, tampa dia sadari tangannya memeluk pinggang Andika yang ramping. Dia mengira itu hanya sebuah guling yang sangat nyaman dia peluk.
'Seandainya dia mau peluk gue seperti ini saat dia sadar, pasti gue senang banget. Tapi tak apa, mungkin perlu proses untuk membuat Cinta terbuka sama gue. Gue hanya perlu sabar menunggu' batin Andika.
Andika kembali memejamkan matanya dan akhirnya ikut tidur, pelukannya tidak lepas dari Cinta. Pelukannya lebih erat dari yang tadi, seperti Andika tidak ingin kehilangan Cinta.
Sekitar satu jam, Andika terbangun dari tidurnya. Dia segera bangkit dari tidurnya.
'Gue harus pulang, kalau enggak Cinta mungkin akan berfikiran negatif sama gue,' batin Andika.
__ADS_1