
"Mas kamu kenapa? Kok seperti gelisah seperti itu?" tanya Nadia yang melihat Marchel berkali-kali mengacak rambutnya sendiri.
Marchel terdiam, dia tidak berani menatap istrinya. Marchel merasa bersalah, bagaimana tidak? Dirinya kembali membohongi istri tercintanya. Bahkan dia memberikan wanita lain sebagian uangnya.
"Mas!" Nadia menepuk bahu Marchel pelan.
"Eh i...iya sayang, kenapa?" tanya Marchel gugup.
Wajah kusutnya tak mampu menyembunyikan rasa gelisah nya kepada sang istri.
"Kamu kenapa? Kok akhir-akhir ini kamu nampak gelisah. Kamu ada masalah?" tanya Nadia kembali.
"Gak apa-apa kok Ma, cuma pusing mikirin masalah pekerjaan saja," sahut Marchel berbohong.
Nadia menggenggam tangan Marchel dan membawa kepangkuan nya, dengan senyum yang terukir di wajahnya sambil berkata, "masalah apa? Lebih baik Mas cerita sama aku. Daripada Mas pendam sendirian".
"Cuma masalah kecil saja kok, kamu gak perlu khawatir!" ucap Marchel berbohong lagi.
"Gak mungkin cuma masalah kecil seperti ini membuat kamu pusing Mas," tukas Nadia yang masih menaruh curiga kepada suaminya, Marchel.
"Beneran Ma, aku masih bisa atasi kok,"
"Ya udah deh Mas kalau begitu," kata Nadia mulai menyerah untuk menyelidiki.
"Ma, aku mau ke kemar dulu ya. Capek, mau istirahat," kata Marchel.
Nadia menjawabnya dengan anggukan kepala, dengan begitu Marchel sudah bisa pergi ke kamar untuk beristirahat seperti yang dia katakan kepada sang istri.
'Apa ada yang di sembunyikan sama Mas Marchel ya? Kenapa rasanya ada yang janggal?' Nadia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Ma, ada apa?" suara Bintang berhasil membuat sang Mama kaget.
"Gak apa-apa Sayang. Mama cuma kepikiran, akhir-akhir ini ada apa sama Papa ya? Kamu merasa ada yang berbeda gak dari Papa kamu?" Nadia mencurahkan kecurigaannya terhadap Marchel.
"Mmmm... Ada sih. Papa memang akhir-akhir ini seperti ada masalah, terlihat dari sikapnya yang tidak bisa tenang," sahut Bintang.
"Nah itu, Mama juga mikir seperti itu. Tapi Mama sendiri gak tahu masalah yang Papa kamu punya itu apa".
__ADS_1
"Mama sudah coba tanya ke Papa langsung belum?"
"Sudah, tapi Papa cuma bilang itu hanya masalah kecil di tempat kerjanya. Tapi Mama kurang yakin, dan Mama rasa bukan itu permasalahannya!" ungkap Nadia.
"Jangan terlalu di pikirin Ma, mungkin benar yang dikatakan Papa. Lagipula selama ini kalau Papa ada masalah pasti bicara sama kita kan?" kata Bintang mencoba meyakinkan Mamanya.
Namun Nadia masih ragu dengan apa yang di katakan suaminya. Nadia masih belum bisa menerima alasan suaminya yang penuh teka-teki itu.
...****************...
Malam hari, di rumah Cinta....
"Ibu darimana?" tanya Cinta ketika melihat Laras membawa banyak tas belanjaan ditangannya.
"Habis shoping dong! Bantuin bawa Ibu bawa tas belanja ke kamar ya!" ucap Laras sambil menyodorkan tas belanjaan yang sedari tadi dia bawa hingga membuat tangannya terasa pegal.
Cinta mengambil tas belanjaan tersebut dan bertanya, "kenapa Ibu belanja banyak banget? Kerjaan Ibu lagi lancar ya?"
"Tentu saja lancar! Udah kamu jangan banyak tanya, bawa saja tas belanjaannya ke kamar. Oh iya, tas yang berwarna biru itu untuk kamu, Ibu belikan beberapa pakaian yang bagus. Bosan ibu lihat kamu berpakaian dekil seperti itu!" ucap Laras.
Dengan langkah cepat Cinta membawa tas belanjaan Ibunya ke kamar Ibunya. Setelah itu dia kembali membawa tas berwarna biru ke ruang tamu, Cinta ingin membuka hadiahnya di depan ibunya.
"Wah bagus banget Bu, makasi banyak ya Bu!" ucap Cinta berkali-kali kepada Laras.
Namun Laras terus memainkan handphonenya terlihat seperti tidak peduli dengan kebahagiaan yang dirasakan Cinta. Tetapi Cinta juga tidak terlalu memikirkannya, bagi dirinya Ibunya sudah menjadi apa yang dia inginkan itu sudah lebih dari cukup.
"Makasih Tuhan, engkau sudah mendengar dan mengabulkan doa-doaku,' ucap syukur Cinta kepada Yang Kuasa.
"Masak apa kamu hari ini?" tanya Laras dengan tatapan mata yang masih ke arah handphone yang di genggamnya.
"Ayam goreng, sama telur balado Bu. Itu semua makanan kesukaan Ibu loh, aku yang masak," kata Cinta berharap mendapat sebuah pujian dari sang Ibu yang belum pernah dia rasakan.
"Yaudah, kamu siapin buat Ibu gih!" perintah Ibunya.
Dengan senang hati Cinta berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan Ibunya makanan.
'Selangkah demi selangkah aku akan mempunyai sosok Ibu yang seperti Ibu-ibu pada umumnya. Aku juga akan mendapat kasih sayang dari ibu seperti teman-teman lainnya,' batin Cinta sambil mengambil Nadi di penanak nasi.
__ADS_1
Saat ini tidak ada orang yang mampu menggambarkan betapa senangnya hati Cinta melihat perubahan sang Ibu. Kebahagiaan itu hanya Cinta yang bisa merasakannya.
"Makanannya sudah Cinta siapin di atas meja Bu," ucap Cinta.
"Oke, kita makan bareng yuk!" ajak Laras.
Mendengar ajakan tersebut, betapa senangnya hati Cinta.
"Iya...iya Bu, aku ambil makanan dulu di dapur ya," dengan tergesa-gesa Cinta pergi ke dapur untuk mengambil makanan untuknya.
Ini merupakan pertama kalinya Cinta makan bersama Ibunya lagi setelah beberapa tahun terlewati. Dia sangat khawatir membuat nafsu makan Ibunya hancur seperti yang sudah-sudah. Maka dari itu, sepanjang makan malam itu Cinta bertindak dengan hati-hati.
Meski di rasa cukup menegangkan bagi Cinta, tetapi Cinta sangat senang.
"Biar aku yang cuci piringnya," kata Cinta mengambil piring kotor milik Laras.
"Yaudah, Ibu mau ke kamar ya. Mau tidur!"
"Bu!" panggil Cinta kepada Laras membuat Laras membalikkan badannya yang tadinya hendak pergi ke kamar.
"Ya?" jawab Laras.
"Boleh gak aku tidur sama Ibu?" tanya Cinta dengan keberanian yang dia kumpulkan.
"Kamu kan sudah besar, masa iya mau tidur sama Ibu," ucap Laras sambil tersenyum.
"Hehe, iya...iyaudah deh Bu. Cinta mau lanjut cuci piring dulu ya," ucap Cinta sedikit canggung.
Laras pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Laras masih menggenggam handphonenya.
'Huh, enak juga ya hidup seperti ini. Tanpa bekerja bisa shoping, padahal modal tidur aja!' batin Laras.
Laras membongkar semua tas belanjaannya yang berisi baju-baju yang sudah dia beli tadi. Dia terkagum-kagum melihat pakaian mewah yang ada di hadapannya.
"Selanjutnya, aku gunakan cara apa ya untuk memeras Marchel lagi?" Laras mulai memikirkan rencana liciknya lagi.
"Pakaiannya bagus-bagus banget, akhirnya masa gadisku kembali lagi. Aku kembali bisa menikmati uang tanpa perlu bersusah payah bekerja. Ini semua karena anak yang ku anggap tidak berguna itu, setidaknya dia sudah membantuku menemukan ayahnya. Tidak ada salahnya juga aku bersikap baik padanya. Anak itu, sedikit saja aku beri perhatian hatinya sudah luluh," ucap Laras sembari tersenyum senang.
__ADS_1