Gadis Sebatang Kara

Gadis Sebatang Kara
Chapter 93


__ADS_3

Keesokan harinya, Cinta terbangun karena bunyi dari alarm. Jam sudah menunjukkan jam 05.00 pagi, dia tida menyangka telah tidur terlalu lama.


"Eh, siapa yang bawa gue ke kamar ya? perasaan kemarin...," Cinta mengingat-ingat kejadian kemarin setelah pulang dari kantor polisi.


"Jangan-jangan Andika yang bawa gue ke kamar?" tanya Cinta pada dirinya sendiri.


KRINGG!!!!


Suara handphone Cinta saat ada panggilan masuk berbunyi, Cinta mengambil handphone yang berada di sampingnya. Cinta bangun dari tidurnya dan melihat jelas nama kontak yang meneleponnya pagi-pagi buta.


"Halo Dik, ada apa?" tanya Cinta stelah mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Lo udah bangun ternyata, kirain belum!" ucap Andika di telepon.


Udah, ini baru aja gue bangun!" kata Cinta.


"Nyenyak ya tidurnya kemarin malam?" tanya Andika.


"Seperti biasanya sih. Kenapa lo nanya-nanya kayak gitu?" tanya Cinta yang merasa aneh dengan sikap Andika.


"Ya kan lo pacar gue sekarang!" ucap Andika dengan penuh percaya diri.


"Mana ada!" tungkas Cinta.


"Menurut perjanjian seharusnya mulai hari ini, eh salah. Mulai dari kemarin lo sudah menjadi pacar gue!" ucap Andika.


"Jangan bilang lo lupa sama perjanjian kita Cin," lanjutnya.


"Ma...mana ada. Gue ingat kok, gue cuma bercanda tadi!" kata Cinta berbohong karena sebenarnya dia memang melupakan perjanjiannya dengan Andika.


"Benar lo gak lupa?" tanya Andika dengan nada curiga.


"Benar, untuk apa gue bohong!" sahut Cinta.


"Ya udah deh sayangku, kamu mandi dulu ya. Aku juga mau mandi, dadahh! I love you!" ucap Andika dengan mesra di telepon.


"Iya Dik!" sahut Cinta acuh tak acuh.


"Gue bicara panjang lebar lo malah cuma jawab iya aja? Lo gak balas kata i love you gue Cin?" tanya Andika.


"Iya sorry, gue gak pernah pacaran!" sahut Cinta kebingungan.


"Ya udah lo jawab i love you gue dulu!" kata Andika memaksa Cinta.


"Emang harus ya?" tanya Cinta sedikit tidak terbiasa.


"Harus! Kalau enggak gue gak bakalan matiin teleponnya!" ancam Andika.


"Ya udah deh I love you too!" sahut Cinta.


"Ya udah makasih sayang! Kamu tunggu aku di depan rumah ya, kita berangkat bareng!" kata Andika.


"Iya Dik!" sahut Cinta.


Setelah mengatakan perkataan tersebut, mereka mengakhiri obrolannya. Segera Cinta bergegas ke kamar mandi setelah melihat jam di layar handphonenya menunjukkan jam 5.15.

__ADS_1


...****...


Sedangkan di rumah Bintang, suasana di pagi hari tampak lebih buruk dari biasanya. Bintang merasakan sarapan yang di siapkan oleh Ibunya sangat hambar. Tidak seperti biasanya semua makanan Ibunya sangat enak.


Bintang juga tidak melihat kedua orang tuanya berada di meja makan, saat ini dia hanya sendirian. Hari-hari Bintang mungkin akan semakin suram setelah Marchel di penjara.


"Mama pasti masih sedih mengenai Papa. Tapi bagaimana caranya aku membujuknya? Aku gak mau lihat Mama seperti ini terus!" kata Bintang berbicara pada dirinya sendiri.


Bintang berdiri setelah selesai menyantap makanannya. Dia menuju ke kamar Nadia untuk melihat keadaan Nadia.


"Ma! Bintang mau berangkat sekolah, Mama gak apa-apa kan sendirian di rumah?" tanya Bintang lembut kepada Nadia setelah sampai di kamarnya.


Nadia menjawabnya dengan anggukan kepala saja tanpa menoleh ke arahnya Andika. Bahkan tidak terlihat senyum lagi yang terukir di wajah Nadia, ini membuat Bintang semakin tertekan dengan perubahan keadaan yang begitu cepat.


Bintang mendekati Mamanya dan memeluknya, sambil berkata, "Mama jangan sedih lagi Ma. Bintang janji gak akan maksa Mama lagi untuk menerima Papa kembali. Tapi Mama jangan sedih lagi!".


Bintang melepas pelukannya setelah berkata seperti itu kepada Nadia. Dia menatap mata Nadia lekat-lekat dan berjongkok di bawah ranjang Mamanya.


"Ma, Bintang gak suka lihat Mama sedih kayak gini. Bisa gak Mama kembali ceria seperti dulu lagi? Masakan Mama hambar, gak ada senyum lagi di wajah Mama saat Bintang pamit ke sekolah. Itu membuat Bintang tertekan Ma!" kata Bintang yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Namun Bintang berusaha menahan air matanya, dia tidak ingin Mama-nya semakin sedih melihatnya menangis.


Nadia melihat ke arah Bintang, dia juga tampak merasa bersalah kepada anak semata wayangnya itu. Nadia menyuruh Bintang berdiri dan memeluknya sembari meminta maaf karena sudah egois dengan perasaannya sendiri.


"Bintang tidak menyalahkan Mama kok. Bintang cuma mau Mama lakukan apa yang membuat Mama bahagia, asal Mama bahagia Bintang juga pasti bahagia kok!" ujar Bintang.


"Makasih ya Bintang, kamu memang anak yang berbakti dan sangat menyayangi Mama!" kata Nadia terharu melihat sikap anaknya.


"Sama-sama Ma! Bintang pasti akan selalu dukung keputusan Mama seperti Mama mendukung Bintang. Kita Ibu dan anak harus saling mendukung dan saling menguatkan, apalagi Papa sudah tidak di rumah tanggung jawab melindungi Mama itu adalah tugas Bintang sekarang!" ucap Bintang.


"Makasih sayang, Mama benar-benar gak tahu harus bicara apa lagi!" kata Nadia yang masih menangis.


"Iya Bintang. Kamu sekarang berangkat sekolah ya, buar nanti gak telat. Kamu jangan lupa beli makanan di kantin, Maaf masakan Mama kurang enak hari ini. Besok pasti Mama masakin yang enak lagi buat kamu," kata Nadia tersenyum kepada Bintang.


"Iya Ma! Bintang berangkat dulu ya, Mama jangan sedih-sedih lagi. Oke?"


"Iya Bintang!" sahut Nadia.


Setelah mengecup tangan Nadia, Bintang berangkat ke sekolah meninggalkan Nadia. Segera setelah Bintang keluar dari kamarnya, Nadia mengubah ekspresinya. Yang tadinya tersenyum kini hanya berekspresi datar, dia masih bingung dengan hubungannya.


"Mas kamu memberikan pilihan yang sulit untukku! Apa aku harus bertahan sama orang yang berani membunuh? Bagaimana jika kamu mengulangi hak itu kepadaku Mas?" tanya Nadia pada dirinya sendiri.


Nadia masih sangat mencintai suaminya, namun dia takut akan perlakuan Marchel kedepannya. Selain itu, dia telah melihat kasih sayang Marchel yang palsu. Selama ini Nadia baru tahu sifat asli dari Marchel. Itu membuat Nadia sangat sulit untuk percaya kepada Marchel lagi.


Namun, jika dia berpisah dengan suaminya, bagaimana dengan Bintang? Nadia masih sangat memikirkan perasaan Bintang. Dia tidak mungkin membuat Bintang menderita dan menjadi anak yang keluarganya tidak lengkap.


Nadia kembali menangis, dia tidak kuat menerima pukulan yang begitu besar. Hatinya sangat sakit, kepala terasa pusing karena memikirkan semua masalah tersebut. Nadia bagaikan mayat hidup yang sudah mati rasa.


Kembali ke sekolah....


Bintang melihat Cinta dan Andika tertawa ria. Sangat berbeda dengan dirinya yang harus menderita setelah Marchel tertangkap fan di penjara.


'Ini semua gara-gra Andika. Kalau saja dia tidak menyelidiki masalah tersebut Papa gak mungkin akan masuk penjara' batin Bintang menatap Andika penuh dengan kebencian.


"Sayang, nanti kamu pindah meja aja ya! Duduk di samping aku," kata Andika kepada Cinta.

__ADS_1


"Kenapa harus pindah meja? lagipula aku sudah nyaman dengan tempat duduk ku yang lama!" ucap Cinta menolak permintaan Andika.


"Oh jadi kamu nyaman berada di samping pria itu ya!" kata Andika yang mulai memancing keributan.


"Gak gitu Andika! Cuma ribet aja kalau pindah meja," kata Cinta.


"Ribet apanya? Kan tinggal bawa tas aja ke sebelah meja ku!" sahut Andika yang tidak akan membiarkan Cinta menang.


"Ribet jelasin ke teman-teman sekelas. Nanti pasti di jadiin bahan omongan, apalagi Erna. Kamu tahu kan sahabatku Erna seperti apa orangnya?. Lebih baik kita duduk seperti biasa aja ya, lagipula aku gak macam-macam kok!" kata Cinta mencoba membuat Andika mengerti


"Iya deh, aku percaya sama kamu. Tapi kamu jangan ngobrol lagi sama cowok yang duduk di samping kmu ya!"


"Iya Dika!" sahut Cinta dengan nada lantang.


"Panggilan bru lagi nih? apa ini panggilan sayang kamu ke aku?" tanya Andika penuh semangat.


"Gak sih, cuma asl sebut aja!" kata Cinta.


"Masa sih? Tapi kok aku gak percaya ya?" tanya Andika yang mulai menggoda Cinta.


"Gak tahu ah! Lebih baik masuk jelas aja daripada di parkiran!" kata Cinta yang langsung bergegas meninggalkan Andika.


Andika pun mengikuti langkah Cinta dan berjalan di sampingnya. Andika menggandeng tangan Cinta yang membuat perhatian para wanita yang memujanya tertuju pada mereka.


Andika ingin tahu kepada semuanya entah itu cowok atau cewek, bahwa Andika sudah ada yang punya dan juga sebaliknya.


"Dik lepasin tangan kamu! Kamu gak lihat ada banyak sorotan mata yang menatap kita dari tadi?" ucap Cinta yang tak terbiasa dnegan tatapan tersebut.


Cinta merasa bahwa sebentar lagi dia akan mendapatkan sebuah masalah.


"Tenang aja, kalau ada yang gangguin kamu, aku yang akan maju paling depan. Aku ini sedang membantu kamu untuk mematahkan semangat mereka untuk mengejar aku!" ucap Andika.


"Ini kedengarannya sepertu aku harus berterima kasih sama kamu!" kata Cinta yang mulai jengkel dengan Andika.


Sesampainya di kelas mereka masih bergandengan tangan. Ini membuat teman sekelasnya yng sudsh masuk kelas menyoraki mereka.


"Asik pengantin baru nih? kapan nikahnya nih?" ujar Erna mengejek Cinta dan Andika.


Cinta melepas segera genggaman tangan Andika setelah Erna mengejeknya. Cinta sangat malu, jadi dia memutuskan untuk pergi ke mejanya.


Erna yang belum puas menggoda Cinta kembali menghampiri Cinta.


"Lo udah balikan ya sama Andika?" tanya Erna penasaran.


"Sejak kapan lo jadi wartawan Na? Kenapa setiap kali ada berita baru lo dengan antusias bergosip?" kata Cinta kepada sahabatnya itu yang berdiri di sampingnya.


"Gue kan sahabat lo masa gak boleh tahu sih! Katanya gak ada yang mau di sembunyikan lagi," ucap Erna yang pura-pura merajuk.


"Ya udah oke! Gue udah balikan sama Andika kemarin!" ucap Erna.


"Ciee! Jangan sampai putus lagi ya, gue suka lihat lo berdua adem ayem!" kata Erna.


"Ya gue gak tahu kali ini akan langgeng atau enggak! Itu tergantung perasaan Andika ke gue!" ucap Cinta.


'Lagipula ini hanya perjanjian sesaat. Tunggu Andika bosan sama gue, mungkin kita gak bakalan bisa seperti ini untuk yang ketiga kalinya!' batin Cinta.

__ADS_1


Jam pelajaran pertama di mulai, Erna kembali ke tempat duduknya setelah mendengar Bel sekolah berbunyi. Hari ini mereka mendapatkan bahasa inggris, meskipun Cinta kurang suka belajar bahasa inggris tetapi dia tetap berusaha mengikut pelajaran dengan tertib.


Selain itu juga Cinta mencoba untuk menyukai semua mata pelajaran. Dia tahu kedepannya semua ilmu yang dia dapat di sekolah pasti akan berguna.


__ADS_2