
Saat jam istirahat....
"Cin kantin bareng yuk!" ajak Bintang.
"Sorry Tang, gue udah ada janji sama Andika. Gue duluan ya!" ucap Cinta lalu berlalu dari mejanya dan mencari Andika.
'Kenapa mereka dekat lagi ya sekarang? Apa tidak ada kesempatan lagi buat gue?' batin Bintang kecewa.
"Dik jadi?" tanya Cinta kepada Andika yang sedang membereskan bukunya.
"Iya, tunggu bentar ya!" ucap Andika.
"Yuk!" ajak Andika setelah beberapa menit kemudian.
Cinta dan Andika pun pergi ke taman bersama sesuai kesepakatan tadi. Cinta sudah penasaran tentang bukti yang di temukan oleh Andika, hingga Andika tidak ingin ada orang yang mengetahuinya.
"Lumayan sepi ya kalau jam istirahat pertama!" ucap Andika berbasa-basi.
"Kan emang ini tujuan kita. Ya udah lo mau nanya apa?" tanya Cinta yang sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak penasaran lagi.
"Gue udah selidiki dan mendapat sebuah cincin di lokasi kejadian. Dan cincin itu berisi tulisan MARCHEL. Gue gak tahu ini nama orang atau bukan, tapi yang pasti gue mau nanya ada gak orang yang lo kenal bernama Marchel?" tanya Andika yang dengan cepat dapat mengubah ekspresinya menjadi sangat serius.
"Marchel? A...aku kenal sama satu orang yang bernama Marchel tapi aku yakin dia tidak mungkin melakukannya. Dia baik sama aku tidak mungkin dia menghilangkan nyawa orang yang sangat aku sayangi," ucap Cinta yang terkejut mendengar nama yang begitu familiar itu.
"Cin, saat ini banyak banget musuh dalam selimut. Di depan kita dia bersikap baik tetapi di belakang kita belum tentu. Jadi jangan terlalu percaya sama orang saran gue," ucap Andika.
"Emang siapa orang itu? soalnya gue juga sedikit familiar dengan nama tersebut," ucap Andika.
"Dia Papanya Bintang, Dik!" ucap Cinta.
"Papanya Bintang?" ucap Andika terkejut.
Cinta mengangguk lemah, dia masih tidak menyangka satu-satunya bukti yang ditemukan berkaitan dengan Papanya Bintang.
"Ya udah gue coba selidiki lagi! Ini juga belum pasti sih, gue cuma minta tolong satu hal sama lo," kata Andika dengan ekspresi wajah yang masih serius.
"Minta tolong apa? Kalau ada yang bisa gue bantu pasti gue bantu. Gue ingin secepatnya ingin tahu siapa pelakunya," kata Cinta.
"Gue udah cek Handphone Almarhum Ibu lo dan baca chat-nya. Gue curiga sama salah satu kontaknya, untuk memastikan lo bantu gue untuk menagih nomor WhatsApp papanya Bintang," kata Bintang.
"Iya Dik, tapi gimana kalau Bintang curiga gue tiba-tiba minta nomor WhatsApp Papanya?" tanya Cinta ragu-ragu.
"Lo bisa cari kesempatan yang pas, jangan sampai Bintang curiga gue takut dia shock," kata Andika yang masih peduli dengan perasaan Bintang.
__ADS_1
"Iya deh Dik!" ucap Cinta.
"Lo tenang aja, gue pasti temukan pelakunya. Lo jangan sedih," kata Andika menenangkan Cinta.
"Makasih Dik!"
'Makasih Dik, udah ada saat gue butuh bantuan. Terimakasih sudah hadir di hidup gue,' batin Cinta.
...***...
"Papa kenapa tiba-tiba ganti nomor WhatsApp Pa? Bukannya nomor yang lama itu penting? Ada banyak teman bisnis Papa di sana," tanya Nadia kepada suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Iya Ma! nomor yang lama sudah tidak bisa di pakai lagi. Sempat eror dia, dan gak bisa di buka kembali," kata Marchel membohongi istrinya.
"Oh gitu, kirain Papa sendiri berniat mengganti nomornya!"
"Gak lah Ma!" kata Marchel.
"Ngomong-ngomong keadaan Cinta gimana ya Pa? Kita sudah lama tidak melihatnya. Nanti kita ke rumahnya yuk sama Bintang," ajak Nadia kepada Marchel.
"Emm gimana ya, kayaknya gak bisa deh Ma!" tolak Marchel gugup.
"Kenapa Pa?" tanya Nadia.
"Iya udah deh Pa! Papa istirahat saja sj rumah, jarang-jarang juga Papa dapat istirahat," kata Nadia pengertian terhadap suaminya.
"Iya Ma, makasih ya udah ngertiin Papa!" ujar Marchel.
Beberapa jam kemudian, Nadia mendengar suara motor Bintang itu artinya Bintang sudah pulang dari sekolahnya. Nadia segera keluar dari kamarnya meninggalkan Marchel yang sedang tertidur.
"Anak Mama udah pulang!" seru Nadia ketika dia melihat Bintang sudah duduk di sofa.
"Iya Ma!" sahut Bintang lesu.
"Kok wajahnya lesu gitu? Capek ya sayang?" tanya Nadia yang sudah duduk di sampingnya sambil mengelus rambut anaknya yang baru pulang sekolah.
"Iya Ma lumayan!" ucap Bintang.
'Hmm sepertinya Papa sama Bintang lagi capek-capeknya. Mungkin aku harus mengundur untuk pergi ke rumah Cinta,' batin Nadia membatalkan rencananya.
"Ya udah kamu ganti baju dulu, setelah itu makan ya sayang, Mama mau ke kamar untuk istirahat," ucap Nadia.
"Iya Ma!" sahut Bintang.
__ADS_1
Nadia pergi ke kamarnya kembali ingin beristirahat sebentar karena mengunjungi Cinta belum bisa. Sedangkan Bintang masih duduk di sofa sambil mengacak-acak rambutnya. Dia masih dilema dengan kasus Ibunya Cinta.
"Aku harus bertanya di lain kesempatan kepada Papa saat Mama tidak ada di rumah," ucap Bintang pada dirinya sendiri.
...***...
"Makasih ya Dik, udah antar gue pulang!" ucap Cinta ketika sampai di depan rumahnya.
"Iya sama-sama. Gue singgah sebentar ya!" ucap Andika ingin melangkah masuk namun di hadang oleh Cinta.
"Eh gak boleh! Gue harus pergi!" ucap Cinta.
"Lo mau pergi kemana sih?" tanya Andika yang semakin curiga dengan Cinta.
"Ada deh kepo lo!" ucap Cinta.
"Ya udah deh gue pulang dulu!" ucap Andika yang sedikit kecewa.
"Eh by the way, ajarin gue naik motor dong!" ucap Cinta sebelum Andika pergi.
"Hah? Buat apa?" tanya Andika.
"Ya biar gue bisa belajar lah, buat apalagi coba!" ucap Cinta tak memberitahu alasan yang sebenarnya.
"Gak mungkin! Lo biasanya paling takut naik motor terus sekarang lo minta belajar? Ini bukan Cinta yang gue kenal!" ucap Andika yang tak percaya dengan alasan Cinta.
"Tapi apa salahnya gue menantang diri gue sendiri? Emang gak boleh?" tanya Cinta.
"Ya boleh sih, tapi kasih tahu dulu tujuannya selain itu!" ucap Andika yang bersikeras meminta alasan yang lebih masuk akal.
"Emang itu tujuannya kok! Kalau lo gak mau ngajarin bilang aja, gue bisa cari Bintang suruh ajarin gue!" ucap Cinta kesal.
"Eh jangan! Lo lupa kalau Papanya masih kita curigai tentang kasus Ibu lo?" larang Andika.
"Itu kan Papanya, belum tentu Bintang juga seperti itu!" kata Cinta.
"Bandel banget lo di kasih tahu! Nurut dikit kenapa sih jadi orang!" ucap Andika yang ikut kesal.
"Lagipula lo siapa? Kenapa gue harus nurut sama lo?" ejek Cinta yang membuat Andika semakin jengkel terhadap sikapnya.
"Gue? Gue calon pacar lo, puas lo?"
"Bi...biasa aja kali! Ya udah gue mau masuk dulu! Bye!" ucap Cinta lalu pergi meninggalkan Andika.
__ADS_1
"Dasar cewek!" gerutu Andika kesal.