
Senin, 20 April 2019 Cinta mengikuti pelaksanaan upacara bendera di sekolahnya bersama teman-temannya.
Namun, di pertengahan upacara Cinta mendadak pingsan. Siswa yang bertugas sebagai PMR dengan cepat membantu Cinta untuk dibawa ke UKS sekolah. Sedangkan upacara masih berlangsung hingga selesai.
"Cin, Lo gak apa-apa?" tanya Bintang yang sedari tadi mengkhawatirkan Cinta.
Bahkan fokusnya Bintang hanya kepada Cinta, dia tidak fokus dalam mengikuti upacara bendera.
"Gak apa-apa kok Tang, gue cuma pingsan biasa soalnya kemarin lupa makan," ucap Cinta menenangkan Bintang.
"Eh lo di sini Tang?" ucap Erna yang baru datang ke UKS dan mendapati Bintang berada di sana.
"Menurut lo? Sekarang ini gue jin apa?" sahut Bintang sinis.
"Lo kenapa sih? Sensian banget sama gue?" tanya Erna dengan nada tinggi.
"Ya gak apa-apa, cuma pingin aja!" sahut Bintang.
"Udah-udah, kalian ke sini jangan ribut dong. Lebih baik kita ke kelas yuk!" ajak Cinta melerai perdebatan kedua temannya.
"Emang lo udah gak apa-apa Cin?" tanya Erna.
"Gak kok!" sahut Cinta.
Akhirnya Cinta, Bintang dan juga Erna kembali ke kelasnya.
Sesampainya di kelas, Cinta bagaikan narasumber terkenal yang diwawancarai oleh banyak orang. Meja tempat Cinta duduk di penuhi oleh teman-teman sekelasnya. Mereka bagaikan wartawan yang memberikan Cinta pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Guys gue gak kenapa-kenapa, gue sudah baik-baik saja. Lebih baik kalian semua kembali ke tempat duduk masing-masing, dan terimakasih kalian sudah mengkhawatirkan gue!" kata Cinta kepada teman-temannya.
"Oh gitu ya Cin, syukurlah!" ucap beberapa temannya yang bergerombol di mejanya.
Akhirnya merekapun pergi meninggalkan Cinta sendirian dan menghirup nafas panjang.
"Huh, hampir saja gue mati sesak!" gumam Cinta.
Saat jam pertama berlangsung, wali kelas Cinta masuk ke dalam kelas dengan dua orang siswa di belakangnya.
"Eh siapa tuh?" tanya salah satu teman sekelas Cinta.
Mereka semua berbisik satu sama lain karena terlalu penasaran dengan dua orang tersebut.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Kalian silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing, dimulai dari Andika!" perintah wali kelas Cinta.
__ADS_1
"Kenalin nama gue Andika!" kata Andika ketus.
"Hallo semuanya nama gue Cantika! Dan gue pindahan dari sekolah yang sama dengan Andika," ucap Cantika memperkenalkan dirinya.
"Wah! Andika ganteng banget," ucap beberapa anak perempuan.
"Cantika cantik banget sih, kira-kira dia sudah punya pacar belum ya?" bisik anak laki-laki.
"Kalau begitu, kalian bisa mencari tempat duduk sendiri. Ibu tinggal ya!" ucap Wali kelas Cinta lalu pergi meninggalkan kelas.
"Lo minggir! Gue mau duduk disebelah cewek ini," ucap Andika dengan tatapan yang tajam terhadap teman laki-laki Cinta yang duduk disebelah Cinta.
"Ini kan tempat duduk gue, kenapa gue harus pindah!" ucap siswa itu berusaha mempertahankan tempat duduknya.
"Lo mau gue hajar?" tanya Andika sembari mengangkat tangannya dengan jari yang mengepal.
"Weh lo anak baru, songong banget jadi orang! Harusnya kalian menghormati kami yang lebih dulu berada di sini. Ngelunjak lo ya!" ucap Agus yang langsung menghampiri teman sekelasnya yang ditindas oleh Andika.
"Merasa jagoan lo disini Hah?" susul Riski.
"Udah-udah, perkara tempat duduk saja. Biar gue yang pindah!" ucap Cinta.
Cinta pun bangkit dari tempat duduknya dan pindah ke belakang tepat di samping Bintang ada meja yang kosong.
"Lo kenapa mau-mau aja pindah sih?" tanya Bintang ketika Cinta sudah duduk dikursinya.
Cinta memang tidak suka melihat keributan apalagi masalahnya hanya masalah sepele.
Namun, Andika bergegas menghampiri Cinta.
"Lo mau apa lagi?" tanya Cinta sinis.
Pertama kali bertemu sudah membuat Cinta merasa tidak suka pada Andika.
"Minggir Lo, gue mau duduk di sebelah wanita ini!" ucap Andika mengatakan perintah yang sama dengan siswa yang tadi.
"Gak!" sahut Bintang judes.
"Udah sih Andika, lo ngapain juga mau duduk di sebelah dia. Lebih baik duduk di sebelah gue saja!" ucap Cantika yang menyusul Andika.
"Gue gak mau!" ucap Andika dengan nada tinggi kepada Cantika.
Lalu Andika pergi meningggalkan Cantika.
__ADS_1
"Lo sombong banget sih jadi cewek! Asal lo tahu aja ya, selama ini tidak ada satupun cewek yang menolak perintah Andika!" kata Cantika sombong.
"Gak ada satupun cewek yang menentangnya? Kalau gitu gue saja yang pertama, kebetulan gue suka angka satu!" sahut Cinta yang tak kalah arogannya.
Untuk masalah sepele seperti ini, Cinta masih mampu berdebat.
"Lagipula yang menolak perintah Andika tadi keduanya cowok kok, bukan cewek!" ucap Bintang yang membuat Cantika semakin kesal.
"Awas saja kalian. Dan kamu jangan pernah ngedeketin Andika lagi!" ucap Cantika yang masih mampu mengancam Cinta lalu pergi ke meja yang kosong.
Cantika duduk di belakang Erna, dan sejak pertama kali melihat Cantika, Erna merasa kesal. Apalagi tadi melihat Cantika dan Cinta bertengkar.
"Lo ngapain duduk di sini? Gak sekalian lo usir cewek yang duduk di bangku sebelah Andika?" sindir Erna kesal.
"Terserah gue lah. Apa urusannya sama lo?" ucap Cantika.
"Bilang aja Andika gak suka sama lo kan. Ngaku aja deh, cewek-cewek yang kelakuannya kayak lo, udah gue tebak!" kata Erna memanas-manasi Cantika.
"Terus? Masalah buat lo?" tanya Cantika dengan mata yang melotot.
"Ya gak sih, cuma ingin tertawa aja!" ucap Erna sambil membalikkan badannya menghadap ke depan.
"Guys ada tugas dari Pak Yoga, beliau gak bisa masuk kelas karena sakit!" ucap ketua kelas di kelas Cinta yang bisa kita sebut Riana.
"YEY! Akhirnya jam pelajaran kembali kosong!" teriak Riski.
"Lebay banget sih, kelihatan banget anak desa yang gak niat belajar!" gumam Cantika.
"Biarin aja sih, lo pasti salah satu siswa yang pelajarannya di kontrol secara ketat sama orang tuanya kan? Makanya lo bilang kita lebay padahal lo sendiri juga bakalan senang kalau lo gak di awasi secara ketat dalam hal pelajaran!" ucap Erna kembali menyinggung Cantika.
"Sorry gue gak bicara sama orang miskin kaya lo!" ucap Cantika.
"Tugasnya gue catat di papan tulis ya!" ucap Riana tanpa mempedulikan teriakan Riski.
Riana mengambil sebuah spidol untuk menulis soal yang diberikan oleh Pak Yoga. Namun sebagian teman-temannya malah tidak mencatat, mereka asik mengobrol dan membuat keributan di kelas.
Riana pun mengambil sebuah penghapus papan tulis dan melemparnya ke arah Riski yang merupakan siswa paling ribut di kelas.
"Aduh!" Riski mengaduh kesakitan karena bahunya terkena penghapus papan tulis.
Riski menatap ke arah Riana dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa?" tanya Riana yang memberikan tatapan yang membuat Riski terdiam.
__ADS_1
"Kalian semua yang gak mencatat tugas dari Pak Yoga akan merasakan hal yang sama seperti Riski," ucap Riana kepada teman sekelasnya.
Karena ketegasan Riana, dirinya ditunjuk menjadi ketua kelas oleh teman-temannya. Setelah menjabat sebagai ketua kelas, mereka yang merupakan siswa bandel merasa menyesal telah menunjuk Riana sebagai ketua kelas.