
Bel istirahat berbunyi.
"Aku ke kelas Meta dulu, kalian ke tunggu aku di kantin!" Max lalu berbelok ke kelas Meta.
" Ya udah yuk, kita duluan aja," ucap Adam. Mereka pergi bersama ke kantin.
Mereka duduk di kursi yang kosong. "Aku yang akan pesan, kalian mau apa?" tanya Alvin.
"Aku mau soto mi sama es teh manis," jawab Adam.
"Samain aja semua, biar gak ribet!" ucap Gibran.
"Oke!" Alvin pergi memesan makanan.
Jeni melihat ada gank Angker ia langsung menghampiri meja mereka.
"Hai, boleh aku duduk di sini?" tanya Jeni lembut. Aston langsung menengok pada Jeni.
"Maaf, tapi tempatnya penuh!" ucap Aston. Jeni melihat pada 3 bangku kosong.
"Teman kami satu sedang memesan, dua lagi belum datang." ucap Adam.
Pasti Meta dan Max pikir Jeni. "Mereka bisa mencari tempat lain. Siapa cepat dia dapat. Lagian inikan tempat umum, jadi bebas dong."
Mendengar ucapan Jeni, Aston melirik pada Jeni tidak suka. Gibran tanpa banyak kata langsung bangun dan pergi dari meja itu. Adam dan Aston mengikuti.
Mereka pindah ke meja kosong. Alvin datang membawa pesanan begitu ia melihat Jeni di mejanya. Ia langsung pergi. Ia tahu temannya pasti sudah pindah.
Jeni yang awalnya tersenyum pada Alvin langsung cemberut melihat Alvin pergi.
"Ini pesanan kalian." Alvin meletakkan makanan di meja. Ia terkekeh mengingat Jeni.
"Kenapa Kakak ketawa?" tanya Adam.
"Kenapa kalian pindah?" tanya Alvin.
"Ada nenek lampir!" ucap Aston. Semua tertawa.
"Max!" Alvin memanggil Max begitu melihatnya.
"Itu mereka, ayo ke sana!" Max menarik Meta ke bangku di mana Alvin cs berada.
"Sini duduk." Max menarik bangku untuk Meta duduk lalu ia menyimpan kurk Meta.
__ADS_1
"Nih makanan kalian sudah sekalian tadi di pesenin, tapi disamain semuanya, gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa Kak, makasih," jawab Meta.
Mereka mulai makan. Tiba-tiba datang seorang siswa .
"Hai boleh gabung?" tanya siswa itu.
"Maaf, tapi masih ada bangku yang lain, kan?" Adam menjawab tegas tanpa basa-basi.
"Oh... oke berarti tidak boleh. It's oke, gue cari bangku lain." Siswa itu pergi, dan bergabung dengan Jeni
Meta melihat kepergian siswa itu. "Kamu kenal sama dia?" tanya Max.
Meta beralih menatap Max. "Iya ," jawabnya.
"Dia baik padaku, dia adalah sahabatnya Jeni," lanjutnya.
"Oh ." Max melanjutkan makannya.
"Kak, aku mau ke toilet dulu ya." Meta segera bangun dan memakai kurk nya.
"Kakak antar!" Max ikut bangun.
"Oke, tapi kalau dalam 10 menit kamu gak kembali. Kakak susul ke sana." Max memberi syarat.
"Iya Kak." Meta pun berlalu.
Saat Meta sampai toilet beruntung toilet kosong jadi ia tidak perlu antri. Pasalnya dia sudah tidak bisa menahannya. Meta masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Seseorang masuk dan mengunci pintu utama toilet. Dia menunggu Meta sambil bercermin.
Meta selesai membuang isi kandung kemihnya. Ia hendak bercermin merapikan pakaiannya. Meta terkejut melihat ada Jeni di sana.
"Halo sepupu." Jeni berbalik menghadap Meta.
"Mana pengawal lo?" tanya Jeni sambil tersenyum mengejek.
"Mau apa?" Meta terdengar gugup.
"Kenapa? Lo takut? Tenang gue gak akan macam-macam. Cukup satu macam aja!" Jeni tersemyum miring lalu mendekati Meta.
Jeni mengeluarkan pisau lipatnya. Ia menggoreskannya pada lengannya sendiri di 3 tempat berbeda.
__ADS_1
Jeni berteriak seolah sedang kesakitan dan meminta tolong. Meta tak percaya apa yang dilihatnya. Kenapa Jeni seperti itu? Apa dia kesurupan ya. Meta mengambil satu goyang air di salah satu bilik lalu menyiramkannya pada Jeni. Agar Jeni sadar.
Max yang merasa Meta sudah pergi terlalu lama menyusul Meta ke toilet.
Di depan pintu toilet ia mendengar suara orang minta tolong.
Max berusaha membuka pintu ternyata di kunci. Dia berusaha mendobrak pintu di bantu beberapa siswa yang melintas. Sudah banyak siswa dan siswi yang brrkumpul. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.
Braaak...
Pintu terbuka, seorang siswi lebih dulu masuk untuk.melihat keadaan.
Matanya membelalak melihat Meta memegang pisau dan keadaan Jeni yang memprihatinkan. Ia berlari ke luar dan meminta bantuan.
Max segera masuk. Ia terkejut melihat Meta memegang pisau. Max beralih melihat Jeni, bajunya basah dan tangannya terdapat luka sayatan.
Max menatap Meta kembali, Meta hanya bisa menggelengkan kepala dan menangis. Semoga Max mau percaya padanya kalau dia bukan pelakunya. Jeni melukai dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi di sini?" Suara seorang guru mengagetkan mereka.
"Itu Bu, Meta melukai Jeni pakai pisau Bu." jawab seorang siswi.
Guru itu masuk. Ia kaget bukan main melihat salah satu muridnya sedang dalam keadaan basah dan terluka. Ia melihat Meta yang masih memegang pisau.
"Bukan! ... Bukan saya Bu!" Meta membuang pisau itu. Pipinya sudah basah oleh air matanya. Tangannya gemetar.
"Pisau itu kamu yang pegang, bagaimana bukan kamu pelakunya?" tanya guru itu.
"Ochi tolong kamu bawa Jeni ke uks dan ganti bajunya!" titahnya pada Ochi.
"Iya Bu." Ochi dan beberapa siswi membawa Jeni ke uks.
"Meta, kamu ikut saya ke ruang Kepsek!" Suruhnya dengan tegas.
"Tapi ... tapi ...." Meta tak bisa berkata apa-apa.
"Aku akan mengantarmu, ayo." Max mengambil kurk Meta yang terjatuh dan memberikannya pada Meta.
Ia berjalan bersisian dengan Meta dan menuntunnya.
"Kita ke ruangan Kepsek, ayo!" Adam yang sedang makan langsung bangkit dan pergi ke kantor Kepsek. Tanpa bertanya yang lain mengikuti Adam.
...----------------...
__ADS_1