Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Bab 85


__ADS_3

Feli memukul dengan brutal. Ia memakai jurus ala emak-emak yang legendaris. Memakai alat seadanya. Ia memukuli mereka dengan sapu yang ia ambil dari siswa yang kebetulan sedang nonton dikala ia piket. Padahal ia sendiri jago silat tapi Feli tidak mau memperlihatkan pada orang lain.


" Aw...aw..aduh ..." Siswa yang dipukul Feli mengaduh kesakitan. Feli memukulnya dengan kencang.


Siswa yang melihatnya tertawa. Gibran justru melotot pada Aston. Aston yang merasa di pelototi langsung menarik Feli menjauh dari keributan.


" Lepas...lepasin Ax ...Ax..!" Feli memberontak hingga terlepas dari Ax.


" Apa sih Ax ? Kenapa tarik-tarik Feli hah ? " Feli melotot pada Aston.


" Lo gak liat tuh cowok lo ? Dah melotot aja sama gue. Dia gak mau lo ada di sana berantem kaya tadi !" Aston menunjuk pada Gibran.


" Feli kan cuma nolongin Kak Gib. Itu spontan aja liat orang pengen pukul kak Gib dari belakang Feli reflek mukulin dia. "


" Heh Feli . Gibran itu bukan jagoan kaleng-kaleng. Dia tuh pasti bisa ngatasin masalah sepele kaya gitu lo gak usah khawatir."


" Sejago-jagonya tupai melompat pasti dia juga pernah jatoh juga. Gibran emang jago tapi kita gak tahu kalau kesialan suatu saat menimpa Gibran." Jangan takabur jadi orang. Justru Feli takut karena kalian terlalu menyepelekan lawan akhirnya nanti menjadi boomerang buat kita." Jelas Feli.


" Astagfirullah..kami bukannya takabur atau menyepelekan lawan. Kami percaya diri dan tahu situasi. Karena itu, lo gue tarik ke sini. Kita takut lawan justru akan manfaatkan lo dan jadiin lo target. Mereka pasti akan mencari kelemahan Gibran. Gibran gak mau lo jadi target mereka karena Gibran gak pernah menganggap sepele lawan. Ngerti Neng ?"


" Iya ngerti."


" Feli. Kamu gak apa-apakan ?" Gibran datang mengecek Feli. Ia memutar tubuh Feli dan mengecek dari kaki hingga kepala.


" Gak apa-apa. Feli kan jagoan. Masa pacar Kak Gibran gak bisa ngelawan musuh. Percuma dong latihan Feli."


" Bener, percuma latihan lo ! Masa berantem model gitu. Pake sapu. Mana jurus Karate lo malah pake jurus emak-emak ." Ledek Alvin.


" Kak Alvin mau ngerasain jurus karate Feli? Boleh sini maju !" Feli membuat kuda -kuda.


" Udah. Ayo kita pulang !" Gibran menarik tangan Feli lembut.


Plak...


Max memukul punggung Alvin." Lo malah mancing Feli lagi, ayo pulang ."

__ADS_1


Mereka semua pulang. Aston melihat ke belakang. Ia melihat semua yang tadi ribut dengan Gibran sedang dituntun ke UKS dalam keadaan babak belur.


...***...


Gibran baru sampai di sekolahnya setelah tadi mengantar Feli ke kelasnya. Ia sekelas dengan Max dan Al. Gibran baru saja duduk dibangkunya bersama Max.


" Pagi Gibran, Max, Kenalin aku Salma." Ucapnya seraya mengajak untuk bersalaman. Tidak ada yang menanggapinya. Gibran cs justru sibuk main ponsel. Salma menurunkan tangannya.


" Hm.. Katanya kemarin kalian habis berantem ya sama kakak kelas? " Tanya Salma. Tak ada jawaban. Salma belum menyerah.


" Hm..nanti istirahat kita makan bareng ya ?" Masih hening.


" Ok ! diam berarti setuju. Nanti aku akan kemari pas istirahat. Aku ke kelas dulu ya sebentar lagi bel masuk ... Daaah ." Salma keluar dengan tersenyum.


" Ih..tuh cewek untung udah pergi . Kalau masih di sini dan berisik udah gue usir !" Ucap Alvin menggebu .


" Alah lo ngomong doang tadi ada orangnya diem aja ." balas Max.


" Ya karena gue orangnya sabar. Tapi sabar juga ada batasnya." Timpal Alvin.


" Udah gak usah bahas dia lagi !" Sela Gibran.


" Fel..cepet masih lama gak ?" teriak Aston di depan toilet cewek.


" Iya bentar lagi. Ini lagi pake celana dulu !" Saut Feli dari dalam.


" Celana nya gak usah diomongin Feli. Polos bener lo !"


" Aston kamu ngapain di depan toilet cewek? " Suara guru pria mengagetkan Aston.


" Eh..Pak Supri. Ini saya lagi nungguin temen Pak."


" Temen atau pacar kamu? Ini sudah masuk ya jangan keluyuran apalagi pacaran. Ayo masuk !" Titah Pak Supri.


" Tapi Pak teman saya di dalam nanti saya bareng dia aja ." Pinta Aston.

__ADS_1


" Tidak bisa ! temen kamu sudah besar gak perlu ditungguin ayo masuk ! Atau kamu sama temenmu bapak hukum lari


keliling lapangan 10 kali terus bersihin semua toilet yang ada di sekolah ini !"


Aston bingung kalau dia memaksa di sini nanti Feli akan dihukum. Kalau ditinggal Aston khawatir terjadi sesuatu pada Feli.


" Iya Pak saya pergi." Aston beranjak dari tempat itu. Dia berjalan perlahan sambil melihat ke belakang. Pak Supri masih mengawasinya.


Begitu sampai di persimpangan Aston bersembunyi di balik tembok. Ia mengintip ke depan toilet. Pak Supri sudah tidak ada. Feli keluar dari toilet. Ia bingung karena tidak melihat Aston.


Aston berniat mendekati Feli. Saat kakinya baru melangkah seseorang memanggilnya.


" Aston ." Aston mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang berseragam sama dengannya bedanya gadis itu memakai rok.


"Ada apa?"


" Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin tahu kenapa kamu berdiri di sini dan melihat ke arah sana . Kamu sedang ngintip apa sih? Kamu ngintipin kamar mandi?" Tanya gadis itu. Entah siapa namanya. Aston pun enggan bertanya. Tak penting baginya.


Aston hendak melangkah kembali untuk menghampiri Feli. Tapi Feli sudah tidak ada. Aston panik dan berlari ke toilet. Ia masuk ke toilet cewek. Ia membuka semua pintu toilet. Nihil tak ada siapapun.


Aston berpindah ke toilet cowok hasilnya sama semuanya kosong. Mungkin Feli sudah ke kelas. Aston berusaha konsentrasi untuk menelepati kembarannya.


" Kak Adam apa ada Feli di kelas?" Adam langsung menegakkan duduknya begitu mendengar telepati dari Aston.


Adam mengedarkan pandangannya tapi ia tidak melihat Feli. " Tidak ada. Bukankah Feli bersama lo ke toilet?" Jawabnya.


" Iya tadinya tapi sekarang tidak ada . Aku sudah mencarinya ke toilet cewek dan cowok tapi tidak ada. Aku akan mencarinya ke sekitar sekolah." Aston memutuskan telepatinya . Ia berlari mencari Feli di sepenjuru sekolah semua dia telusuri lantai 1 sampai lantai 3, Gudang sekolah, lapangan indoor.


Adam tidak punya pilihan dia terpaksa memberitahu pada Gibran kalau Feli hilang.


Gibran sedang fokus menulis. Ponselnya bergetar. Ada chat dari Adam. Setelah Gibran membacanya ia langsung berdiri dan berlari keluar. Tidak perduli panggilan guru. Max dan Alvin saling pandang dan ikut berdiri menyusul Gibran.


Namun Guru yang mengetahui mereka akan menyusul Gibran mencegahnya. Tentu saja mereka tidak perduli tetap berlari menyusul Gibran . Bukan karena tak sopan tapi Gibran tidak pernah seperti ini. Pasti ada yang mendesak hingga Gibran berlari seperti itu.


...----------------...

__ADS_1


Pembaca semua, Author minta maaf jarang up date karena kalau kelamaan di depan ponsel author vertigo dan kemarin author 2 hari gak bisa bangun vertigonya kambuh. Insyaallah mulai besok author akan usahakan rajin up minimal 1 bab sehari. Maximal 2 bab. Terima kasih buat pembaca setiaku. Semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya. Dukung author terus ya.. kirim bunga buat author juga 🙈.Terimakasih..apalah arti tulisan author ini tanpa kalian 😍😍💙💙💙 Love you All 💙💙💙


😗😗😗😗


__ADS_2