Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Feli Datang


__ADS_3

Max, Meta dan yang lainnya sudah sampai di rumah.


Saat mereka akan masuk ke rumah utama, 3G menghadang mereka.


"Tunggu dulu! Kak Gibran sebelum masuk matanya harus di tutup!" Giska membawa kain panjang hitam.


"Ada apa sih bocil, pake tutup mata segala?" tanya Aston.


"Ish ... kak Aston diam deh, ini tuh kejutan buat Kak Gibran, kalian diam dan lihat aja!" protes Giska.


"Ya udah Gib, mau aja. Dari pada lama, kita jadi penasaran, ada apa sih?" Alvin menyuruh Gibran.


"Ya udah."


"Nah gitu dong!" Giska langsung mendekati kakaknya.


" Kak Gib, aku pendek loh!" Gibran mengerti langsung dia bertumpu pada lututnya, agar Giska bisa mengikatkan kain di wajahnya.


"Nah sudah. Sekarang Kak Gibran ikutin kita ayo!" Giska dan Gilang menggandeng tangan Gibran.


"Bocil ada-ada aja kelakuan," ucap Alvin.


Giska menuntun Gibran ke taman. Di sana semua melihat, kecuali Gibran, ada seorang gadis cantik sedang tersenyum manis dan melambaikan tangan pada mereka. Ia mengucapkan Hai tanpa suara.


Kini semua mengerti kejutan apa untuk Gibran.


Meta tersemyum pada gadis itu. Dia tahu siapa gadis itu. Karena dia mengobrol dengannya satu kali saat VC bersama Gibran dulu.


Ternyata lebih cantik aslinya. Pantas Gibran mencintai gadis itu.

__ADS_1


"Nah Kak Gibran sudah sampai, tapi tunggu sebentar ya di bukain dulu talinya." Gadis itu mendekati Gibran dan membuka ikatan yang menutupi matanya.


Dalam hati Gibran ingin sekali langsung memeluk Feli. Sebenarnya percuma di tutup matanya karena Gibran sudah tahu kejutannya. Tapi dia tidak ingin merusak kejutan yang mereka berikan. Jadi ia akan berpura-pura terkejut.


Ikatan sudah terlepas tapi mata Gibran masih terpejam.


"Ayo Kak, buka aja matanya!" pinta Giska.


Perlahan mata Gibran terbuka. Dia melihat sosok yang di rindukannya.


"Feli!"


Gibran langsung memeluk Feli hingga Feli terangkat dan Gibran berputar.


"Aku rindu padamu," ucap Gibran setelah berhenti berputar.


"Aku juga, karena itu aku kemari. Kau jahat sekali tak pernah mau ke sana menemuiku."


"Apa? Lulus sekolah atau lulus kuliah?"


"Lulus sekolah! Kalau lulus kuliah kelamaan. Aku tidak ingin lagi jauh darimu. Karena itu aku sekarang sedang bekerja keras membangun usaha." Gibran menyelipkan helai rambut Feli ke belakang telinga.


"Khem ... Khem ... Dunia serasa berdua aja!" sindir Alvin.


"Jangan ganggu Vin, biar mereka kangen-kangenan." Max mengerti pasti mereka saling merindukan.


"Hai semua, apa kabar?" Feli menghampiri mereka.


Mereka saling berpelukan dengan Feli. Gibran tidak cemburu karena mereka sudah seperti saudara.

__ADS_1


"Ini yang namanya Meta ya, gadis yang sudah berhasil menaklukan seorang Max."


"Ah ... Kakak bisa aja, justru Kak Max yang sudah menaklukan aku." Feli tersenyum dan mereka pun berpelukan.


"Udah yuk kita ke dalam dan tinggalkan pasangan yang baru ketemu ini!" Mereka terkekeh dan berlalu pergi ke dalam, meninggalkan Gibran dan Feli.


"Kamu sampai jam berapa?"


"Jam delapan tadi. Aku di sini cuma seminggu sama Dady."


" Dady nya mana?"


"Sedang pergi sama Abi."


"oh ... !"


"Kamu sekarang tambah tinggi dan gemukan ya." Feli berkata seraya tersenyum memperhatikan Gibran.


"Kamu juga bertambah tinggi dan cantik."


Sementara Gibran sedang melepas rindu, Max justru sedang menahan cemburu pasalnya Meta sedang membicarakan Andrew.


"Aku gak nyangka Kak ternyata Kak Andrew sangat perduli padaku."


"Ya udah kamu sana sama Andrew aja, kamu senang kan dia perduli sama kamu. Dia juga pasti senang nampung kamu!" Max pergi ke kamarnya. Meninggalkan Meta.


"Loh kak Max kenapa?" tanya Meta pada dirinya. Dia lalu pergi ke kamarnya.


Di dalam kamar Meta memikirkan perkataan Max.

__ADS_1


"Aku kenapa gak enak ya, mereka sudah menampungku. Aku seperti barang yang dibuang lalu di pungut dan di tampung. Aku pun ingin pergi. Aku tak mau merepotkan. Kaki cepat sembuh dan bawa aku pergi." Meta mengusap-usap kakinya.


...----------------...


__ADS_2