
Bel pulang sudah berbunyi , Semua membereskan bukunya dan bersiap pulang. Feli tidak mau berdesakan jadi dia duduk menunggu semua keluar.
Aston dan Adam menemani Feli.
Setelah sepi mereka keluar, diluar sudah ada Gibran, Max dan Alvin menunggu.
" Ayo kita pulang, naik mobilku saja ! " Ucap Aston
Semua menuju mobil Aston. ketika sebentar lagi sampai mereka bertemu dengan Gaby dan kedua temannya.
" Hai semua, maaf boleh gak aku ikut bareng kalian ? barusan sopirku bilang mobilku mogok .."
" Maaf tapi mobilnya penuh !" Alvin menjawab . Gibran memperhatikan Sisca, tentu saja Sisca merasa senang wajahnya tersipu malu.
Gaby dapat melihatnya jika Sisca juga menyukai Gibran.
" Bagaimana kalau aku lesankan grab aja ya buat kalian !" usul Alvin .
" Tidak usah terima kasih ." Jawab Sisca.
" Ya sudah , ayo kita pulang !" ajak Adam. Mereka melanjutkan langkahnya ke mobil .
" Maaf, aku saat ini ingin pulang sendiri." Gaby pergi tanpa menoleh kebelakang.
" Rachel , aku duluan ya tuh jemputanku udah ada ." Rachel mengangguk.
Sisca pulang dengan jemputannya tanpa menyadari, kalau ada yang mengawasi dan mengikutinya.
Mobil Adam melaju ke rumah Gibran. Begitu sampai Feli secara tidak sabar membuka pintu dan berlari ke dalam.
" UMI... Assalamu'alaikum ."
"Wa'alaikumsalam, eh ada Feli cantik.. apa kabar sayang ?" Tanya Milla seraya cipika cipiki.
" Alhamdulillah umi baik, bagaimana umi sekeluarga, Feli jangen sama 3 G di mana mereka ?"
" Alhamdulillah kami baik, tuh mereka di taman samping." Feli langsung oergi ke taman.
" Kalian semua apa kabar?" tanya umi begitu melihat geng Angker, lalu satu persatu mereka mencium tangan umi.
" Alhamdulillah semua baik umi ." Jawab Max mewakili.
" Kalian pasti lapar baru pulang, yuk makan dulu !" ajak Milla.
__ADS_1
" Iya umi ."
" Kalian ke sana duluan umi mau panggil Feli dulu !" Gibran pergi ke ruang makan.
" Gib, kau mau melanjutkan rencanamu ?" Tanya Max.
" Iya..!"
"Oh..iya Gib, bagaimana dengan rencana kita membuat sekolah gratis untuk yang tidak mampu?" Tanya Max.
" Ya Aku sedang survei dulu tempat yang steategis, tapi sasaran kita saat ini adalah khusus untuk anak-anak panti asuhan , agar panti tidak terbebani biaya pendidikan. Penghuni panti juga kita siapkan mobil antar jemput untuk mereka."
" Ya.. kita buat satu tingkat atau 3 tingkat sekaligus.
" Empat kalau perlu, TK, SD, SMP, SMA." jawab Gibran.
" Aku ingin di Bandung dulu tempat Umi dulu tinggal."
" Sekolahnya yang bisa menampung 1000 atau lebih, aku sudah menyuruh orang membebaskan lahan dan mulai pembangunan, syukurnya mereka mau menjual rumahnya dan tidak mempeesulit hingga pembangunan bisa segera dimulai, aku ingin tahun ajaran baru nanti sudah bisa digunakan , "
" Ya.. Syukur mereka mau menjual rumahnya dengan harga fantastis 10x lipat dari harga pasar." Ucap Alvin.
" Ya.. niat baik jangan tanggung-tanggung." ucap Gibran.
" Aku percaya dady, dan yakin tahun ajaran baru sekolah sudah bisa di pakai." jawab Gibran.
" Max kau sudah siapkan bisnya?"
" Ya aku masih menunggu jumlah muridnya dulu, aku sudah suruh orang untuk mendata jumlah penghuni panti dari TK sampai SMA."
" Abi juga katanya mau nyumbang meja dan kursinya, umi dan para ibu akan menyumbang seragam." ucap Gibran.
" Uncle Bima dan aunty bersama teman mereka akan menyumbang tas dan buku ." lanjutnya.
" Tinggal kita pikirkan tenaga pengajarnya, biarpun sekolah ini gratis aku tidak mau guru yang asal mengajar , aku mau guru yang juga bisa memahami murid dengan baik dan cara mengajar yang mudah dipahami bukan hanya disuruh mencatat lalu ulangan, cara menjelaskan yang teks book , aku ingin ketika mereka lulus SMA , mereka mempunyai bekal untuk melanjutkan hidup mereka." ucap Gibran lagi
" Apa kau tidak mau membuat universitas ?" tanya Alvin.
" Aku sudah pikirkan tapi sulit dan butuh waktu, untuk sementara aku hanya bisa memberikan beasiswa ." Jawab Gibran.
" Tapi aku akan membuat tempat kursus untuk mereka yang tidak bisa kuliah, kursus menjahit, masak, komputer dan bahasa." sambungnya.
" Kak Gibran memang hebat dan baik, membuat Feli semakin cinta ." Feli datang bersama umi dan 3G.
__ADS_1
" Umi bangga padamu sayang ." umi mencium puncak kepala Gibran.
" Ayo makan , Aston sudah lapar !" semua terkekeh.
Mereka mulai makan sambil mendengar perdebatan 3G yang memang tidak bisa diam.
Selesai makan para lelaki ke kamar masing-masing, selama sekolah di sini mereka tinggal di rumah Gibran.
Sedangkan Feli pulang rumah sendiri karena dady juga ada pekerjaan membangun sekolah jadi Frederick membeli rumah serta tak baik anak gadis tinggal di rumah cowok kata dady ketika Feli meminta ijin sekolah di Indonesia.
...----------------...
Pagi ini Gibran berangkat sekolah tidak bareng 3G tapi Geng Angker di anter supir karena mereka belum punya Sim walau sudah bisa menyupir mobil.
Mereka menjemput Feli terlebih dulu.
Saat mereka sampai sekolah, semua memperhatikan mereka. Pertama Gibran mengantar Feli ke kelas , Gibran ke kelas bersama Max dan Alvin.
Saat berjalan melewati lapangan tiba -tiba ada bola basket melayang ke arah mereka. Untung saja mereka mempunyai reflek yang bagus. Gibran mundur menghindar dan bola itu ditendang oleh Max kembali ke lapang mengenai kapten Basket.
Kapten basket tidak terima dan menghampiri Max.
" Heh.. bule apa maksud lo nendang bola itu ke gue ?"
" Sorry bro tapi gue reflek nendang bola itu supaya gak kena jendela dan gue gak mengarahkan ke lo gue asal nendang aja ." Jawab Max.
" Lagian itu bukan salah Max Justru gue mau tanya apa maksud lo ngelemparin bola ke arah kita sedangkan ringnya itu di ujung sana bukan di sini , dan kalo lo bilang mau ngoper dari tadi di sini kosong gak ada orang buat lo oper, jadi apa maksud lo ?" Tanya Alvin.
" Gue gak maksud apa-apa sama kaya Max gue cuma reflek ngehalau bola yang datang ke arah gue."
" Tadi Max udah minta maaf sama lo, walaupun dia gak salah. Terus lo gak minta maaf sama kita ?" Alvin terus memojokkannya.
" Ok.. gue minta maaf puas lo !"
" Dih minta maaf kok nyolot , gak ikhlas lo !" Ucap Gaby yang tiba-tiba ada di samping Gibran.
" Lo cewek gak usah ikut campur deh !"
" Suka-suka gue dong , semua yang menyangkut Gibran jadi urusan gue juga ." Sementara Gaby berdebat dengan kapten basket Gibran , Max dan Alvin memilih melanjutkan langkah mereka ke kelas, mereka malas menanggapi hal-hal yang tidak berguna , membuang-buang waktu.
Gibran duduk bersama teman sebangkunya.
Teeet....Teeeet..
__ADS_1
Bel tanda masuk berbunyi, proses *** ( Kegiatan Belajar Mengajar ) dimulai. Lorong tampak sunyi karena semua siswa di dalam kelas. Tapi tidak untuk Gaby dia sedang berada di ruang kepala sekolah.