
Pagi hari di Yogyakarta.
Rencana awal ingin jalan- jalan keluar batal setelah semalam Gibran melihat bagaimana uminya kesulitan berjalan.
Setelah sarapan nasi uduk dan teh tawar Milla duduk santai di sofa menonton siaran Televisi.
Gibran menemani duduk di bawah sambil menulis sesuatu di sebuah buku berwarna hitam.
Mentari merayap naik
Fajar perlahan hilang
Berganti panas terik mentari
Fajar nan sejuk hanya menyapa
Tak berniat menetap
Bahagia boleh pergi
Meninggalkan nestapa
Namun tak bisa kau renggut asa
Tanpanya tak ada yang tersisa
Hanya jasad tak bernyawa
Dengan Asa
Kan kubangun istana
Yang Kau hancurkan
Dengan Asa
Kan ku genggam
Jiwa-jiwa yang kau abaikan
Dengan Asa
Kan ku lawan dunia
Menghempas semua derita
Tunggulah...
Kami kan datang
Bukan tuk kembali
Namun hanya sekadar
Ucapkan kami bahagia
Tanpamu
Tanpa dusta
Tanpa luka
Tanpa air mata
M. Gibran.
Gibran menutup buku itu.
Dia kemudian pindah duduk di dekat kaki uminya lalu memijit kaki uminya.
" umi , kakinya bengkak ," ucap Gibran dengan nada bergetar, betapa berat menjadi ibu , umi bahkan tak dapat tidur dengan posisi nyaman ,kaki yang bengkak mengakibatkan susah berjalan tapi umi selalu tersenyum tulus dan bahagia.
Umi pernah bilang bahwa" umi menikmati semua proses kehamilan ini rasanya itu sungguh menakjubkan, ada nyawa di dalam perut umi tumbuh dan berkembang, berbagi darah detak jantung yang sama dan menendang, mengingatkan umi kalau umi tak sendiri. Sakit , linu, mual dan semua hal itu bagi umi tak seberapa, di banding kerinduan umi untuk melihatnya lahir di dunia , umi bisa membelainya, menciumnya penuh sayang, menggendongnya memberikan cinta , mengajari semua hal tentang hidup , kamu dan mereka adalah hidup umi. "
Begitulah yang umi katakan . Sesekali Gibran mengelus kaki itu lalu memijitnya lagi.
__ADS_1
" Awas ya dek kalau kamu nanti sudah lahir dan membuat umi sedih kakak geprek kamu !" kata Gibran sambil menatap perut umi.
" Apa sih kamu Gib, orang belum lahir aja udah di ancem nanti dia takut keluar ," kata Milla terkekeh .
" Biarin mi biar dia denger dan diingat terus, harus bisa jaga umi seperti kakak menjaga umi, harus sayang sama umi melebihi sayang sama siapapun," Gibran mengatakannya dengan wajah serius tapi menurut Milla justru wajah Gibran terlihat lucu dan menggemaskan .
" Kamu juga harus sayang dan menjaga mereka , kalian harus bersatu saling melindungi karena kalian adalah satu di tubuh kalian mengalir darah yang sama, ok Gibran !"
" yes umi !" mereka lalu tertawa.
" Assalamu'alaikum.."
" Wa'alaikumsalam, coba liat Gib ada siapa !"
" Iya umi ."
Gibran kedepan melihat siapa yang bertamu.
" oh..mas Jono ada apa mas ?" tanya Gibran.
" Aku nyari mbok ada ?"tanya Jono.
" Ada , tadi di belakang lagi nyuci ,"
" Kalau gitu aku ke belakang dulu, oh iya ini Pak Arya tunggu di sini sebentar ya!" ucap Jono lalu pergi ke belakang lewat samping.
" Silahkan duduk pak ." ucap Gibran sopan.
" Terima kasih ," Arya duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan berbantal busa.
" Paman menginap di rumah mbok Darmi ?"
" Iya..paman mengantar Surya cuti pulang kampung , berhubung weekend jadi saya bisa antar sekalian saya mau lihat suasana desa." ucap Arya.
"Dan saya bertemu bidadari di sini, " Itu kata hati Arya yang di dengar Gibran.
" Indah kan paman pemandangan di desa masih banyak pohon dan sawah tidak seperti di kota hanya gedung yang banyak." ucap Gibran.
" Iya benar pemandangan di sini indah dan teduh, paman rasanya betah di sini." kata Arya.
"Paman, tak ku ijinkan siapa pun mendekati bunda aku tak ingin bunda terluka lagi ,biarlah kami hanya berlima aku yang akan menjaga bunda selamanya." batin Gibran mendengar isi hati Arya.
" Gibran .." Milla memanggil Gibran yang tak kunjung kembali setelah ke depan. Gibran bangun langsung lari ke bunda.
" iya bunda ."
" Siapa tamunya , kok gak di suruh masuk malah ngobrol di depan ?" Tanya Milla.
" Oh..itu Jono sama pak Arya, kalau Jono ke belakang Pak Arya nunggu di depan." kata Gibran.
" Suruh masuk, terus kamu bikinin minum , mbok kan lagi dibelakang ." perintah Milla.
" Siap umi, laksanakan !" Gibran segera keluar dan menyuruh Arya masuk ke dalam setelah itu Gibran pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Arya duduk di dalam dan melihat foto-foto yang terpajang.
" Pak Arya, apa kabar?" Milla bertanya sambil tersenyum.
" Mendengar suara Milla Arya mengalihkan tatapannya pada Milla.
" Bu Milla, Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar ibu?" tanya balik Arya.
" Alhamdulillah baik semua." jawab Milla.
" Di si..." Suara Arya terpotong suara salam.
" Assalamu"alaikum.." Suara orang berteriak tapi tak hanya satu , Milla kenal suara ini.
" Wa'alaikumsalam.." Milla berusaha bangun. Baru Milla mau berjalan suara manah terdengar.
"Aduh sayang maaf mamah langsung masuk ya, mamah gak kuat rindu kamu !" Mamah langsung memeluk Milla dan
menciumi wajahmya.
" Mah gantian papah juga mau meluk Milla !" ucap papah. Lalu memeluk Milla.
__ADS_1
" Pah gantian Bima belum !" Toni lalu melepas pelukannya berganti dengan Bima yang memeluk Milla.
" Eh.. lagi ada tamu, maaf saya tidak tahu, kenalkan saya Anggun ibunya Camilla ." Anggun memperkenalkan dirinya .
" Iya bu tidak apa-apa kenalkan saya Arya Sriwijaya." mereka berjabat tangan.
" Grandma , grandpa , uncle ..!" Gibran datang dengan air minum dan kue di nampan lalu meletakkannya di meja dan memeluk ketiga orang yang di rindukannya.
" Cucu Grandpa makin tampan saja, gimana kabar kamu dan ibumu?"
" kami baik dan sehat grandpa, kalian datang kenapa tidak mengabari kami !" Gibran sedikit protes.
" Karena kami mau membuat kejutan untuk kalian." kata Bima.
" Oh..ya, ini siapa ya?" Toni bertanya pada Arya
" Kenalkan om saya Arya Sriwijaya panggil aja Arya ," Arya memperkenalkan diri.
" Kalau gue panggil Sri boleh gak ?" canda Bima.
" Boleh aja tapi tunggu malem !" Bima tertawa mendengarnya.
" Gue Bima kakaknya Camilla." mereka lalu bersalaman ala laki-laki.
" Nama belakang kamu sama dengan saya Toni Wijaya saya papahnya Milla." Toni menyebutkan namanya.
" wah.. bisa kebetulan gitu ya om, itu berarti kita satu keluarga om," ucap Arya, Toni hanya tersenyum sambil menepuk pundak Arya.
" Bisa saja kamu," canda Toni.
" Heh bocil , bengong lagi ambilin gue minum ama kue haus nih !" Suruh Bima.
" Uncle ambil sendiri aja, Gibran masih kangen sama grandma." balas Gibran.
" Bocah tengil !! sifat lo gak berubah ya tetep nyebelin." kata Bima.
"Dari pada uncle ,lama gak ketemu, pas ketemu tetep aja jomblo !" ledek Gibran.
Lalu datang mbok Darmi membawa minuman dan kue, tadi Jono bilang padanya kalau di depan banyak tamu.
"Silahkan di minum Tuan Nyonya ." mbok Darmi akan ke belakang lagi tapi Milla memanggilnya.
" Mbok sini, mah pah kak kenalin ini mbo Darmi yang bantuin Milla bersih-bersih, tapi cuma sampai siang aja, mbo ini orang tua Milla mereka baru datang dari London dan itu kakak Milla , kak Bima. Mbo tolong masakin untuk makan siang bisa, masakin khas masakan jawa aja mbo ya." pinta Milla pada mbo.
" Iya boleh nya tar saya masakin gudeg , permisi saya ke belakang dulu ," pamit mbo Darmi
" iya mbo.. terima kasih." kata Milla.
" Nak Arya tinggal di mana?" Toni ingin lebih tahu lagi tentabg Arya.
" Saya tinggal di Jakarta tapi asli saya dari Solo, " jawab Arya.
" Bagaimana nak Arya bisa kenal dengan Milla ?" tanya Toni
" Saya sebenarnya ke sini mengantar Surya, karyawan saya yang cuti sekalian saya juga pullang kampung, kebetulan Surya anaknya mbo Darmi. Kami ketemu semalam waktu Milla ke rumah mbo Darmi minta diantar mencari es krim ."
" Ya .. ampun nak kasian kamu ngidam sampai cari sendiri ," Anggun memeluk Milla dari samping.
" Heh bocah , kenapa lo biarin umi pergi sendiri.?"
" Maaf , waktu itu sudah malam Gibran lagi di kamar jadi gak tahu kalau umi pergi."
Plak...
" Aduh.. mamah sakit !"
" Lagian kenapa kamu nyalahin Gibran dia masih kecil, gak mungkin Milla nyuruh Gibran malam-malam nyari es krim !"
" iya mah maaf, Gib maafin uncle yah."kata Bima.
Mereka mengobrol sampai waktu makan siang dan makan siang bersama. Arya pamit pulang karena dia akan pergi ke Solo menengok neneknya.
Bima dan Toni untuk sementara beristirahat di kamar Gibran , sedangkan Anggun di kamar Milla.
Sebenarnya ada yang ingin Bima bicarakan pada Milla dan Gibran tapi berhubung dia masih lelah setelah perjalanan jauh maka akan dia bicarakan nanti.
__ADS_1
...----------------...