
Meta sudah selesai sholat. Ia bercermin merapikan penampilannya, dan keluar dari kamar. Dia berjalan memakai kurk, menuju ruang keluarga di sana sudah ada Geng Angker berkumpul.
Max melihat Meta dan segera menghampiri. Dia menggendong Meta lalu mendudukkannya di sofa.
"Kak Max ih ... aku malu tahu." ucap Meta dengan wajah merah.
"Udah gak usah malu Met, nikmati aja bucinnya Max." Ucap Alvin. Semua tertawa.
"Kamu kakinya masih bengkak gak? Kira -kira kamu bisa pergi ke sana? Kalau gak bisa kita undur saja sampai kamu siap!"
"Enggak kak aku siap kok, udah gak bengkak. Lebih baik sekarang aja!"
"Benar?"
"Iya Kak!"
"Ya udah, yuk."
Begitu Max ingin menggendong Meta lagi, Meta menolak dia merasa malu di lihat oleh Geng Angker yang lain.
"Udah gak apa-apa Kakak cuma gak mau kaki kamu nanti sakit lagi. Kalau gak mau di depan. Di belakang aja ya." Max lalu berjongkok membelakangi Meta. Dia menunggu Meta.
"Udah ayo cepat Met! Max akan tetap berjongkok, sampai kamu mau di gendong." Ucap Alvin.
Meta akhirnya mau di gendong di belakang Max. Mereka pergi menggunakan satu mobil. Alvin dan Gibran di depan, Max dan Meta di tengah, sedangkan si kembar di belakang. Setelah beberapa puluh menit mereka akhirnya sampai di rumah tantenya Meta.
Meta turun dibantu Max, Gibran dan Alvin juga ikut turun. Adam dan Aston berjaga-jaga di mobil. Dan mereka mendokumentasikan kunjungan Meta.
__ADS_1
Meta berjalan dengan kurk. Max, Gibran dan Alvin mengikuti di belakang. Meta masuk membuka pagar, lalu berhenti di depan pintu. Dia melihat ke belakang ke arah Max, lalu Max mengangguk dan memberi semangat pada Meta. Gibran sedang mengamati sekitarya.
Tok..Tok..
Meta memberanikan diri mengetuk pintu.
Ceklek..
Seseorang membuka pintu dan keluarlah seorang wanita paruh baya berumur kira- kira 40 an .
"KAMU! Mau apa lagi kamu ke sini?" Wanita itu berteriak pada Meta dan menatapnya sinis.
"Maaf Tante. Saya cuma mau ambil barang-barang saya yang tertinggal Tante." jawab Meta sambil menunduk. Gibran menatap wanita itu begitu juga dengan Alvin. Adam mendengar suara lain .
"Sst ... lihat berani-beraninya dia ke sini! Ayo kita kerjai. Dia, kan mau ke kamarnya di basement, kita kasih minyak di tangga biar dia jatuh."
Adam mencoba memberi tahu Gibran lewat pikirannya. Semoga berhasil, Gibran langsung menengok ke arah mobil. Adam menyeringai ternyata berhasil. "Benar Kau ternyata dapat mendengarnya Kak." Batin Adam.
"Barang apa? Barang rongsokanmu? Sudah Tante buang semua!"
"Maaf Tante, saya ...."
"Biarin aja dia masuk Mah." Keluar seorang gadis remaja, dia terkesima dengan ke tiga lelaki tampan di belakang Meta.
"Hm ... sama siapa kamu ke sini? Kenalin nama aku Jennifer panggil J atau Jenni." Jenni mendekati Max dia menyodorkan tangannya dan mengajak bersalaman. Max tak menggubrisnya. Dia tak sudi berkenalan dengan wanita ular.
Jenni lalu menarik tangannya kembali dan beralih pada Gibran yang sama seperti Max, dia juga tidak menanggapi Jenni. Lalu ia menatap Alvin, yang justru mendapat tatapan tajam dari Alvin. Jenni pun mundur.
__ADS_1
"Kalau kamu mau mengambil barangmu silahkan, Bawa semua barang bututmu itu dan jangan kembali lagi. Dan seharusnya kalian lebih pintar memilih teman, orang kaya dia kalian dukung, menjatuhkan harga diri kalian saja."
"Dengan siapa kami berteman, bukan urusanmu! Justru jika berteman denganmu menjatuhkan harga diriku, bukan itu saja bahkan dapat menurunkan derajatku sebagai manusia." Sarkas Max.
"Meta ayo kita pergi saja, lebih baik kau jangan pernah ke sini lagi, di sini tempatnya hewan bukan manusia, ayo!" Ujar Gibran dan melangkah pergi.
"Tapi ...." Max sudah menarik Meta sebelum dia selesai bicara.
Meta berjalan pelan menggunakan kurk ... Max menjaganya di samping. Gibran dan Alvin lebih dulu berjalan ke mobil.
"Dasar anak tak berguna. jangan pernah kau kembali lagi! Teriak wanita paruh baya itu
"Berlagak baik gak tahunya ******!" Meta berhenti tangannya mengepal. Lalu ia merasakan seseorang menggenggam tangannya. Meta menatap Max dan Max tersenyum. Lalu menuntunnya ke mobil.
"Kak kenapa kita tidak jadi mengambil barang Meta?" Tanya Meta begitu duduk di dalam mobil.
"Barangmu sudah tidak ada, percuma saja. Lebih baik kita pulang." Ucap Alvin. Mobil pun melaju.
"Sial ... kita gagal mengerjai dia!" Ucap Jenni.
"Sudahlah, ayo kita masuk!" Ajak Mamah Jenni.
Mereka pun masuk. Jenni langsung ke kamar. Sedangkan mamahnya penasaran. Kenapa Meta kembali dan ingin mengambil barangnya? Apa ada barang yang penting? Dia harus mengeceknya lagi.
Mamah Jenni turun ke bawah, tetapi dia terpeleset di tangga dan terjatuh.
"AAAAAAAA" Jenni yang mendengar teriakan mamahmya dari dalam langsung lari dan mencari mamahnya ternyata mamahnya ada di tangga menuju basement. Ia ingat tadi ia menyiapkan jebakan untuk Meta tapi malah mamahnya yang kena.
__ADS_1
...----------------...