
Malam ini merupakan makan malam spesial karena ada tamu jauh yaitu Feli dan Ayahnya.
Gibran punya kejutan untuk mereka semua.
"Maaf, kalau sudah makan malamnya, Gibran mau berbicara masalah penting."
"Oke, semua sudah makan malamnya?" tanya Sam.
"Sudah." Semua menjawab kompak.
"Baiklah Gibran, waktu dan tempat di persilahkan." Sam bicara layaknya seorang moderator.
"Oke, terimakasih Abi. Tapi sebaiknya kita bicara di ruang keluarga." Gibran bangkit dan pergi ke ruang keluarga.
Semua saling menatap, lalu mereka bangkit dan menyusul Gibran.
Semua sudah duduk di sofa. Gibran merasa gugup. Semoga Papah dan dady menyetujuinya.
"Gibran ingin bicara tentang masa depan Gibran dan Feli." Semua diam menyimak.
Gibran mendekati Feli dan mengajaknya berdiri. Dia Lalu memegang tangan Feli.
"Aku tahu, kita masih sekolah, umur kita masih terlalu muda. Tapi apalah arti sebuah angka yang penting adalah pikiran kita dewasa dan kita saling mencintai." Gibran menjeda sejenak.
"Feli, kamu tahu walau masih sekolah, aku sudah punya usaha dan bisa memenuhi segala keingananmu. Kamu juga tahu bagaimana aku mencintaimu. Karena itu ku rasa tidak ada lagi alasan aku untuk menunda lagi. Feli maukah kau menikah denganku? Bersama ku seumur hidup ku. Kita isi hari kita bersama selamanya dalam suka dan duka."
Semua terbengong. Feli pun tidak menjawab dia hanya menatap Gibran lekat.
__ADS_1
Gibran yang mendengar isi hati Feli hanya tersenyum.
Feli menatap dady nya yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
Feli kemudian menatap Gibran dan mengangguk. Gibran ingin memeluk Feli.
"Khem ...!" Mendengar deheman itu Gibran mengurungkan niatnya.
"Kenapa tiba-tiba kamu melamar Feli di depan kami?" tanya Sam.
"Maaf Abi, Gibran sudah pikirkan ini matang-matang. Gibran akan menikahi Feli begitu lulus SMA. Lalu Feli tinggal bersama Gibran. Jangan khawatir Gibran tetap akan mengijinkan Feli untuk sekolah dan kuliah. Gibran cuma tidak ingin Feli jauh dari Gibran."
"Apa? Menikah? Dady pikir kamu hanya melamar. Sedangkan untuk menikahinya nanti setelah lulus kuliah. Tidak kah terlalu muda untuk menikah setelah lulus SMA?"
"Iya, Gib. Coba kau pikirkan kembali. Abi tahu secara finansial kamu sanggup, tapi pernikahan bukan hanya tentang terpenuhi masalah materi atau asal kalian bisa bersama."
"Umi tahu dan percaya Gibran sudah memikirkan segala hal. Tapi pernikahan bukan sesuatu yang bisa kamu kira-kira atau perhitungkan memakai rumus. Banyak ujian dalam pernikahan yang kadang orang dewasa saja sulit untuk mengatasinya. Itulah yang kami khawatirkan."
Gibran mendekati Umi, lalu bersimpuh di hadapannya.
"Umi, Gibran tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Gibran juga tidak tahu ujian apa yang akan kami lewati. Tapi Gibran yakin Umi, kalian akan selalu ada dan membantu kami untuk menghadapi semua itu. Gibran mencintai Feli dan ingin membina rumah tangga bersamanya, Gibran mohon restui kami. Bimbing kami untuk menjalani pernikahan itu agar samawa." Gibran menatap mata Umi dengan lembut.
"Kamu itu paling bisa membuat Umi luluh. Umi restui kalian."
Gibran tersenyum lebar dan memeluk Uminya.
"Abi apakah Abi merestui kami?" tanya Gibran yang beralih menatap Sam.
__ADS_1
"Bagaiman ini? Abi bingung. Besan, bagaimana? Restui atau tidak?" tanya Sam.
"Kalau kau saja sudah memanggil aku besan, bagaimana mungkin aku tidak merestui mereka."
Gibran dan Feli tersenyum. Feli Lalu mendekati Dadynya dan memeluk Dady dengan erat.
Gibran juga memeluk Abi nya.
"Terima kasih Abi."
Sam melapaskan pelukan mereka. Kamu punya tanggung jawab besar sekarang Gib, anak Abi sudah besar. Abi semakin tua." Sam terkekeh. Gibran beralih ke dady Fely.
"Terima kasih Dady." Gibran memeluk Dady.
"Dady titip Fely, kalau dia salah tegur dengan lembut, bimbing dia karena umurnya masih kecil dia suka labil. Kamu harus sabar menghadapinya. Kamu bisa bicara dengan Dady kapan saja jika kamu butuh bantuan."
"Iya Dad."
"Selamat bro, jadi young marriage juga." Alvin memeluk Gibran.
"Makasih."
Semua mengucapkan selamat pada mereka.
"Gibran kamu akan lulus cuma dalam hitungan bulan, maka dari itu ijinkan Umi.menyiapkan semua pernukahan kamu. Kamu tidak boleh protes. Biar orang tua yang mengurus segalanya. Kmu tinggal memjalani acaranya aja!"
"Baik Umi terserah Umi dan yang lainnya." Gibran pasrah. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Uminya.
__ADS_1
...----------------...