
Saat ini semua berada di dalam kelas masing-masing, tapi tidak untuk kedua orang yang berlawanan jenis ini, mereka justru berada di sebuah ruang ekskul.
Mereka saling berdebat satu sama lain. "Kamu kenapa justru membela cewek itu?" Matanya menatap yalang pemuda di hadapannya.
"Agar dia bersimpati padaku dan percaya padaku." Pemuda itu bicara dengan tenang.
"Tapi tidak dengan membuatku malu. Akibat perbuatan kamu sekarang semua siswa bahkan guru-guru memandang buruk padaku! Aku juga mendapat hukuman!"
"Tenanglah sayang. Justru itu lebih bagus." Jeni mendelik tidak percaya yang di dengarnya. "Lebih bagus?"
"Iya. Itu akan membuatnya lebih percaya. Sudahlah sayang kamu ikuti saja rencanaku, aku yakin kamu akan suka endingnya." Andrew mencoba meyakinkan Jeni.
"Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu menjalani hukuman." Andrew menyelipkan rambut Jeni ke belakang telinganya.
"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Andrew memegang dagu Jeni dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang Jeni.
Jeni menatap mata Andrew lalu tersenyum.
"Iya," Ucap Jeni. Lalu wajah Andrew semakin dekat. Jeni memejamkan matanya. Dan mereka saling merasakan bibir satu sama lain.
***
__ADS_1
Bel pulang sudah berbunyi. Gank Angker menjemput Meta di kelasnya.
"Ayo Kak." Meta keluar kelas. Dia bak putri yang berjalan dengan pangeran dan pengawal di belakang. Siswi perempuan menatapnya iri.
"Meta!" Seseorang memanggilnya.
Meta berhenti, dan ia mencari siapa orang yang memanggilnya. Tampak Andrew sedang melangkah mendekatinya sambil tersenyum.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Andrew.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Terima kasih Kak, karena kesaksian Kakak tadi mereka mempercayaiku. Tapi Jeni pasti marah sama Kakak, kan?" Meta cemas akan hubungan persahabatan Andrew dan Jeni.
"Iya sih, tapi kamu tenang aja. Sekali-kali dia emang harus di tegur. Ini untuk kebaikan dia, juga kamu. Biar dia sadar kalau apa yang di lakukannya adalah salah."
"Karena kamu orangnya baik dan menyenangkan." Andrew membalas ucapan Meta.
" Kakak rasa seharusnya kalian bisa menjadi saudara yang dekat dan saling menyayangi. Kalian cuma butuh waktu bersama dan komunikasi yang baik. Kamu mau kan memaafkan Jeni?"
"Entahlah Kak, begitu banyak dia menyakitiku."
"Kakak mengerti tapi maafkan dia ya. Bagaimana pun kalian adalah saudara. Bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi bareng bertiga? Biar kalian bertambah dekat." Sementara Andrew berbicara Gibran mendengarkan suara hati Andrew. Dia hanya tersenyum tipis. Ternyata licik sekali orang ini.
__ADS_1
Tapi Gibran ingin lihat, sampai dimana Meta mempercayai Andrew dan Max. Siapa yang akan lebih di pilih Meta.
"Akan Meta fikirkan Kak," ucap Meta.
"Baiklah, Kakak tahu kamu orang yang baik. Terima kasih ya. Btw Kamu pulang sama siapa? Ayo Kakak antar!"
"Khem ... Udah bro nyanyinya. Gak lihat di sini ada orang?" Max kesal karena Meta bicara pada Andrew.
"Oh ... Maaf gue terlalu fokus sama Meta jadi gak ngeh ada kalian." Andrew terkekeh.
"Ya, karena gue invisible! Meta pulang ama gue, cowoknya! Permisi lo menghalangi jalan!"
"Oh ... Maaf! Silahkan." Andrew mundur beberapa langkah.
"Meta pulang dulu Kak. Terima kasih." Meta pamit pada Andrew membuat Max bertambah kesal.
"Gak usah terima kasih terus. Ayo pulang!" Protes Max sambil tiba-tiba mennggendong Meta ala bridal style. kruk yang dipakai Meta terjatuh.
"AAAA ... Kak Max turunin! Malu ih," protes Meta.
"Biar cepet!" Max lalu melangkah pergi. Adam mengambil Kurk Meta.
__ADS_1
Gibran tersenyum pada Andrew. "Terima kasih udah memberi kesaksian buat Meta. Maafin Max oke, dia emang cemburuan orangnya." Gibran menepuk pundak Andrew. Kemudian dia pergi di ikuti oleh anggota Gank Angker yang lain.
...----------------...