
Gibran sekarang berlari ke sekolah Feli. Dia melihat Aston yang sedang berjalan di lorong.
" Aston !" Panggil Gibran. Aston melihat Gibran sedang berlari ke arahnya. Jantungnya berdetak semakin cepat.
" Mampus gue. Bisa dihukum gue sama Kak Gibran."
" Kenapa lo bisa kehilangan Feli? Gue bilang temenin dia kemanapun dia pergi !"
" Maaf Kak, Aku lalai gara-gara Pak Supri ngancem aku tinggalin Feli atau dia akan hukum Aston sama Feli bersihin wc. Aston sih gak masalah tapi Feli gak mungkin dia bersihin semua toilet sekolah. Jadi Aston pergi. Tapi gak bener-bener pergi kok. Aston ngumpet dan perhatiin Feli dari jauh. Pas Aston lihat Feli keluar toilet Aston mau samperin eh ada cewek manggil dari belakang . Aston lihat dia sebentar terus ke Feli lagi tapi Felinya udah gak ada." Aston memberi penjelasan.
" Maaf gue udah marah-marah soalnya gue panik. Bukan salah lo kok. Harusnya gue terima kasih ama lo udah jaga Feli selama ini."
" Hah...hah...Gila lo Gib. Kenceng amat larinya ada apa?"Tanya Max dengan nafas terengah-engah.
" Feli hilang ." Pelan tapi mengejutkan seperti bom bagi Max dan Alvin.
" Serius, Kok bisa?" Tanya Max.
" Tanya Aston. Aston panggilin Adam !" Titah Gibran. Aston segera menelepati Adam.
Setelah itu Aston menceritakan kronologisnya pada Max dan Alvin.
Adam terlihat berlari menghampiri Gibran. " Ikut gue !" Gibran menarik tangan Adam.
" Lo dah nyari ke semua tempat?"
" Udah kak Vin tinggal rooftop yang belum."
" Ya udah. Ayo kita ke rooftop." Ajak Max. Ia berlari ke rooftop di susul Alvin dan Aston.
" Dikunci." kata Alvin sambil mendorong pintu rooftop.
" Tumben biasanya gak pernah dikunci."
"Coba Ax lo bilangin sama Adam suruh ke sini." Perintah Max.
Aston kemudian menelepati Adam. 5 menit kemudian Adam dan Gibran sampai di rooftop dengan terengah-engah dan keringetan. Mereka berlari secepat kilat begitu Aston memberitahu kalau mereka mencurigai sesuatu.
Gibran melihat pintu itu. Ia coba mendorongnya ternyata dikunci. Ia lalu memejamkan mata, mengambil nafas dalam dan mengerahkan tenaga ke tangan kanannya. Terasa hangat di tangan kanannya lalu ia membuang nafas seraya mendorong pintu dengan tangan kanannya.
Gubrak....
Pintu terbuka dengan kencang. Mengejutkan beberapa orang yang berada di rooftop. Gibran masuk di ikuti oleh anggota Geng Angker yang lain.
__ADS_1
Gibran mengepalkan tangannya wajahnya merah terlihat urat-urat lehernya keluar ia sedang menahan emosi. Ingin rasanya dia membunuh mereka. Tapi sebagian dari mereka perempuan.
Amarahnya semakin memuncak mendengar isi pikiran mereka tentang rencana mereka pada Felinya. Entah apa yang terjadi bila ia terlambat. Mungkin sekarang waktunya iblis Gibran keluar. Hal yang selalu ditahannya.
" APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA FELI?" Bentak Gibran murka.
" Ck..Bagaimana kau bisa membuka pintu? Tenagamu boleh juga?" Jawab Siswa SMA. Sepertinya dia ketuanya.
" Hai Gibran, kau semakin tampan saja. Sayang, kenapa kamu memilih dia dan menolak aku yang jelas lebih cantik dari dia." Salma mengelus pipi Feli yang terikat di kursi.
" Kak jangan khawatir, aku baik-baik saja. Lihat saja pacar kakak ini adalah wonder woman." Batin Feli saat Gibran menatap matanya.
Tangan Feli sebenarnya sudah terlepas tapi ia pura-pura masih terikat. Walau ia bisa silat tapi Feli juga memakai logika. Tidak mungkin dia melawan 10 orang sendiri. Terlebih dia juga tadi dibuat pingsan dan baru sadar beberapa menit sebelum Gibran datang.
" Lepaskan Feli !" Seru Gibran. Salma tersenyum miring.
" Tidak semudah itu sayang. Kalau kau mau Feli selamat, kamu harus jadi pacarku." Ujarnya angkuh. Lalu mendekati Gibran dan menyentuh tangannya.
Gibran memegang tangan Salma. Salma tersenyum senang berpikir ancamannya berhasil namu tiba-tiba.
" Aawww..sakit Gibran...lepasin.."
Gibran memelintir tangannya kebelakang. " Jangan lo pikir karena lo cewek gue gak bisa nyakitin lo. Lo salah besar. Buat cewek iblis kaya lo gue gak akan berbaik hati ." Ucapnya.
" Lepasin dia Gib, atau gue lukai cewek lo !" Ancam Vino .
" Gue bukan lo yang manfaatin cewek buat balas dendam."
Gibran mendorong Salma. Saat semua perhatian tertuju pada Salma. Feli melepaskan tali pada tangannya. Ia kemudian bangkit dan menendang cewek yang berdiri di sisi kanannya.
Dugh...
Hani nama cewek itu. Tentu saja Hani terkejut ia terpental jatuh ke belakang. Feli kesal dengan Hani karena tadi dia sudah menjambak rambutnya. Feli tersenyum angkuh.
" Cih .. beraninya lo jambak rambut gue." Feli mengalihkan netranya melihat Vino.
" Lo, sini lawan gue. Kita lihat kemampuan lo !" Feli menantang Vino.
Vino merasa harga dirinya terusik. Cewek ini sudah meremehkannya.
" Gue gak mau tanding sama cewek lemah. Menangpun bikin gue malu."
" Lo ! Feli bukan cewek lemah ya. Bener lo pasti malu lawan gue. Takut kalah ya." Feli tersenyum mengejek.
__ADS_1
Geng Angker tidak bertindak mereka hanya berdiri santai. Mereka ingin lihat kemampuan Feli. Biarkan Feli membalaskan dendamnya. Hitung-hitung latihan buat Feli. Mereka akan bertindak jika Feli sudah kesulitan.
" Wah nih cewek kurang ajar bos. Biar gue yang lawan bos. Gue gak perduli dia cewek ." Ucap Diro anak buah Vino. Ia masih SMP sama seperti Feli.
Vino maju ia mengitari Feli. " Aduh lo ngapain muter-muter? Gak usah banyak gaya deh. Sini buruan maju." Ucap Feli jengah.
" Kurang ajar nih cewek !" Diro maju dan menyerang Feli. Tapi Feli dengan jurusnya mampu melumpuhkan Diro hanya dengan 4 jurus.
Diro terkapar babak belur. Teman Diro menyerang Feli dari belakang. Gibran membuatnya terjatuh dengan tenaga dalamnya.
" Setidaknya kalian bertarung secara sportif. Apalagi lawan kalian perempuan." Marahnya.
" Feli sini ! " Gibran memanggil Feli.
Feli menghampiri Gibran. Ia menggandeng tangan Feli.
" Gue gak mau melawan cowok lemah. Ini peringatan terakhir gue. Jangan sentuh Feli atau lo bakal nginep di hotel rumah sakit." Gibran pergi dengan Feli dan gengnya.
Mereka kini berada di UKS sekolah. Sebenarnya Feli ingin ke kantin tapi Gibran memaksa ke UKS.
" Biar nanti Aston yang beli makanan ke kantin. Kamu mau apa?" Tanyanya dengan lembut.
" Feli mau Jus Alpukat, Baso, somay sama air mineral." Feli menyebutkan menunya.
" Ok ! Aston ke kantin dulu." Aston berlari ke kantin.
" Coba lihat tangan kamu." Gibran melihat tangan Feli. Tangannya merah bekas tali. Gibran mengambil salep dan mengoleskannya.
" Ada luka yang lain gak?" Feli menggeleng.
" Kepala kamu pusing?" Feli menggeleng lagi.
" Al. Bisa kita bicara di luar?" Alvin mengerti Gibran ingin bertanya apa. Ia pun mengangguk dan keluar.
" Kakak ke luar sebentar ya. Max di sini jagain kamu." Ucap Gibran lembut. Feli mengangguk tersenyum.
...----------------...
Maaf Authornya masih amatir buat 1 bab aja lama banget berapa jam udah jadi hapus lagi...maaf typo masih bertebaran.
Makasih ya sudah baca novel author ππ
Jangan lupa like dan bunganya. Tulisan Author gak berarti tanpa dukungan kalian Terima kasih πππ
__ADS_1
πππLove you Allπππ