
Milla sedang istirahat dikamar sebelah. Hanya geng Angker dan Feli yang sedang tidur. yang berada di kamar menemani Gibran.
" Max jadi bagaimana pengamatan kalian ?" Tanya Gibran.
Max mengeluarkan catatannya. Ia juga meletakkan denah markas Antrax, itu yang mereka tahu.
markasnya ada 2 bangunan , 1 bangunan utama 2 lantai, lalu satu lagi bangunan terpisah ada di belakang sepertinya untuk tempat tawanan atau penyiksaan.
Setiap bangunan memiliki basement . Di bangunan utama terdapat gudang persenjataan.
Anggota mereka tidak selalu berada di markas. Mereka seperti preman yang berkeliaran. Mereka ke markas hanya jika laporan saja.
Di markas cuma sekitar 30 orang 3 berada di pagar depan 2 pintu masuk bangunan utama di dalam sekitar 10 orang di banguna belaknag sekitar 3 di depan pongu masuk, 5 di dalam pintu belakang 4 , 3 orang di tembok samping kanan juga 3 orang di tembok samping kiri. Ada yang aneh di sini di tempat ini di tembok ini ada sekitar 2 orang yang berjaga, tempat apa ini kira- kira ? menurutku ini bukan tembok biasa." Max melingkari gambar pada denah yang dicurigainya.
" Mungkin ada jalan rahasia di sini ?" tunjuk Aston.
" Tadi aku tidak lihat bangunan di belakang ini dalam pikiran Wira. sepertinya dia tidak tahu."
" Wira mungkin bukan anggota Antrax , dia bisa jadi hanya pembunuh bayaran , karena itu lo gak bisa lihat semua bangunan ini , lo cuma lihat tempat yang bisa dia masuki. " Ujar Gibran.
" Gue ke sebelah dulu , Kak Adam manggil gue !" ijin Aston.
" Iya.. ." Jawab Gibran.
" Max gue rasa lebih baik lo pergi ke tempat uncle Al, jelaskan secara rinci dan lo bisa diskusikan apa rencana berikutnya."
" Kalau menurut gue lebih baik uncle Al yang ke sini. gue rasa aneh kalau gue harus ke sana dan membicarakan ini. Bagaimana Gib?" tanya Max yang keberatan kalau harus ke sana.
" Terserah lo aja Max. Mana yang bikin lo nyaman. "
" Gue telepon uncle sekarang !" Max menelepon Alinski.
Feli terbangun dan melihat jam sudah jam setengah 1. Umi masuk kamar Gibran bersama twins . Ia akan menyuapi Gibran makan. Makanan dan obat sudah dibawakan oleh perawat .
Gibran makan disuapi umi dan minum obat. Umi sedang memesan makanan untuk yang lainnya juga untuk para bodyguardnya.
Umi menyuruh Gibran untuk sholat , ia membantu Gibran untuk tayamum.
yang lainnya juga ikut sholat. Setelah sholat Samenelepon umi. Mereka asik berteleponan melepas rindu.
" Gib, nanti lo sama Feli kalo udah nikah pasti kaya ortu lo gitu !" Max terkekeh..
" Kaya ortu lo gak aja !" Balas Alvin.
" Hahahaha, iya ortu kita bucin semua. "
" Lo juga semua calon bucin !" ucap Gibran.
__ADS_1
" Lo bucin !" Kata Max dan Alvin.
Twins hanya terkekeh.
" Biarin bucinnya kan sama Feli, Feli juga bucin Kak Gib "
" Kalo Feli bukan bucin Gibran tapi bu..." Gibran langsung melotot pada Alvin dan menunjukan kepalan tangan. Alvin langsung berhenti. " Padahal gue kan belum ngomong , emang dia tahu gue mau ngomong apa udah melotot aja! Apalagi kalau dia tahu gue mau ngomong budak ..... gak jadi ah takut dibunuh gue ma Gibran."
Gibran terus melotot pada Alvin. Jangan sampai dia ngomong hal yang tidak baik di depan Feli.
" Bucin lo lebih parah dari pada ortu lo Gib !" Sarkas Alvin yang jengah dipelototi Gibran.
" Gib, kata abi kamu besok sudah bisa ke Bali. Abi sudah berkonsultasi pada dokter yang disini dan juga yang di Bali. Umi sekarang mau membereskan segala administrasi dan menemui dokter dulu. " Milla pergi ke luar dikawal oleh bodyguard.
Gibran meminta pada Max untuk secepatnya meminta kepada uncle Al ke rumah sakit . Ia harus secepatnya menangkap Bordeux .
Gibran juga meminta pada Aston untuk membawa laptop kepadanya ia akan menyusup pada markas itu.
Gibran akan mencoba duduk, semoga dia bisa. Max mencegahnya. Tapi Gibran memaksa . Max menaikkan kasur Gibran sampai dirasa cukup .
Sakit memang rasanya tapi ia harus menyelesaikan sekarang juga. Alvin menaikkan meja untuk makan dan menaruh laptopnya.
Dengan cepat Gibran mengetik pada laptop, sudah berlalu 15 menit Gibran masih mengetik. ia coba membobol komputer dan mengambil data penting mereka ia juga dan ia juga akan mengirim virus untuk mengacaukan mereka.
Terakhir Gibran mengetik enter. Ia menghela nafas.
" Entahlah, tadi aku kirim denah dan semua yang kita tahu padanya !"
Gibran diam dan berpikir.
" Bagus, mungkin uncle langsung ke sana, tolong telepon dia aku ingin bicara , terima kasih ."
Max menelepon Alinski dan menyerahkan teleponnya.
" Halo, ada apa Max ?"
" Uncle ini Gibran, uncle sudah sampai mana ?" tanya Gibran
" Ah..aku tahu ! aku lihat mobil uncle, bisakah uncle sedikit cepat !" lanjut Gibran sebelum Alinski menjawab.
" Benarkah kamu bisa melihatku ?"
" Iya uncle aku menyusup ke satelit NASA ."
" uh.. kamu sudah kembali ini yang uncle rindukan , uncle merasa kamu kehilangan semangat belakangan ini ."
" Uncle benar, maaf uncle, aku sedang berpikir tentang beberapa hal , dan meragukan beberapa hal !"
__ADS_1
"Lalu sekarang apa kau sudah menemukan jawaban dan kepastian tentang beberapa hal itu?"
" Sebagian sudah. sebagian belum !"
" Ok...aku mengerti ."
" uncle ..aku serahkan semua pada uncle !" Iya tenanglah uncle akan usahakan yang terbaik !"
" Terima kasih uncle. aku tutup teleponnya, ada yang ingin aku lakukan . Saat ini aku cukup sibuk !"
" Hahaha.. ya , kau adalah pria kecil yang tersibuk Gibran . bye ."
Gibran menutup teleponnya.
"Semoga uncle bisa menangkapnya."
" Kak Gib...benar dugaan kita ada tempat rahasia . "
" Wira ( Daniel) masuk tempat itu ! "
" Max beritahu uncle " Gibran sedang memikirkan sesuatu.
Ia mengetik lagi di laptopnya, sebenarnya punggungnya terasa linu..dan panas tapi ia tahan .
Ia akan ke Bali besok tidak ada waktu lagi.
Gibran menggunakan nyamuk yang tadi menempel pada Daniel.
Nyamuk itu mengelilingi ruangan yang Gibran curigai.
Ia mengelilinginya dan terus mengamati ruangan itu. Ia mendekati sesuatu dan benar ini tempatnya.
Max telepon uncle , tolong tuntun uncle ke tempat ini. Dan beritahu ada tombol untuk ke tempat rahasia di ruang itu.
Juga suruh orang untuk berjaga dan masuk lewat pintu belakang tempat yang kita curigai , mereka pasti akan kabur lewat sana. Sebelum itu kita serbu mereka dari 2 arah . Di bangunan yang menyekap tawanan bebaskan dulu mereka tapi jangan dibiarkan pergi data dulu siapa mereka dan kenapa mereka disekap untuk dijadikan bukti penyelidikan yang memberatkan mereka.
Aku sedang mencuri data penting mereka, sebelum ku beri virus . Oh ya bilang uncle juga hati-hati di lorong rahasia ada gas beracun yang bisa mereka gunakan. Jangan memakai senjata api atau akan meledak . Aku akan beri komando jika aku bilang clear semua harus sudah keluar tak perduli ia tertangkap atau tidak, atau kalian akan terpanggang. "
" Ok..aku mengerti !"
" uncle.." Gibran melihat pada Max.
" Aku pusing mendengar kau bicara terus, jadi biar uncle sendiri yang langsung mendengarnya, takut ada yang lupa tersampaikan." Max nyengir menampakkan giginya.
" Uncle hati-hati, jangan terpancing untuk masuk lorong ok..! "
" Ok..uncle mengerti tenang saja"
__ADS_1