Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Menaruh Kamera Tersembunyi Di Rumah Jeni.


__ADS_3

Aston mulai melakukan pendekatan dengan Jenny tapi tidak terlihat seperti pendekatan. Dia hanya tidak menghindari Jenni. Seperti saat ini, semua sedang makan di kantin. Saat mereka sedang asik makan datang Jenni. Semua pergi satu persatu, mulai dari Max lalu Gibran kemudian Alvin tinggal Adam dan Aston.


"Kok pada pergi begitu aku datang?" Jenni bertanya pada Adam.


"Alergi kali ama lo!" Setelah mengatakan itu Adam pun pergi.


"Dih ... malah pergi gaje banget! Apa maksudnya tuh alergi ama gue? Emangnya gue sea food apa?"


"Berisik! Gue mau makan dengan tenang." Aston menegur Jenni.


"Lo gak ikut kabur?" tanya Jenni.


"Kabur kenapa? Makanan gue belum habis, mumbazir kalau di sisa-sisa."


"Aston, boleh nanya gak?" Aston hanya melirik Jenni.


"Meta ke mana ya, kok gak kelihatan? Dia putus ya sama Max? Bagus deh, Meta itu emang gak cocok sama Max."


"Terus siapa yang cocok, elu gitu?" batin Aston.


"Gak tahu gue juga, Meta ke mana? Lagian lo kan saudaranya kok gak tahu?" tanya Aston.


"Dia kan gak tinggal ama gue lagi."


"Oh ... begitu. Gue pengen tahu, sejak kapan Meta tinggal ama lo? Orang tuanya emang udah meninggal?"


"Gak tahu gue kak kalau itu, tanya aja sama Mamah gue!"


"Gue kan gak kenal nyokap lo, udah ah gue mau nyusul teman-teman gue aja."


"Eh, tunggu dulu. Temenin aku ya, masa aku makan sendiri."


"Sama pacar lo lah, siapa tuh? Si Andrew!"


"Kita udah putus! Dia tuh ngeselin, sekarang dia lebih perhatian sama Meta dari pada gue."


"Oh, terus ke mana sekarang si Andrew?"


"Gak tahu!"

__ADS_1


"Dih cemberut, jelek tahu. Cepat makannya tar keburu masuk!"


"Iya." Jeni makan dengan semangat karena ada Aston yang menemaninya.


"Jangan lama-lama Aston, tiga hari aja lo harus udah dapat bukti!" Suara telepati dari Adam terdengar oleh Aston.


"Iya, gue juga gak mau lama-lama!" jawab Aston dalam hati.


"Bagus deh, takutnya nanti lo jatuh cinta kalau lama-lama." *Suara Adam terdengar lagi.


"Rese lo!" balas Aston*. Terdengar suara tawa dari Adam.


...***...


Selain dari Aston yang mendekati Jeni, anggota gank Angker juga menyelidikinya dengan menyuruh detektif untuk menyelidiki latar belakang seluruh keluarga Jeni. Ini adalah hari kedua Aston mulai dekat dengan Jeni.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Adam. Pasalnya Jeni berada di depan kelasnya saat pulang sekolah.


"Gue mau ketemu Aston." Jeni tersenyum manis menjawab pertanyaan Adam.


"Aston gak mau ketemu lo!" ucap Adam kesal.


"Ngeyel banget di bilangin!" Adam mulai jengah. Sementara Aston baru selesai membereskan buku dan menghampiri Adam di depan pintu kelas.


"Ada apa?"


"Aston, anterin gue pulang, ya?" tanya Jeni. Aston dan Adam saling menatap.


"Kesempatan buat lo cari bukti secepatnya." Adam menelepati Aston.


"Ok!" balas Aston.


"Ayo, kita pulang sekarang." Aston berjalan mendahului Jeni.


"Dah Adam. Aku duluan ya." Jeni pamit pada Adam dengan tersenyum sombong karena merasa bisa pulang bersama Aston.


Seseorang memperhatikan mereka. "Ada apa Aston mau pulang bersama Jeni? Mencurigakan. Aku akan mengawasi mereka." orang itu bergumam pelan dan cepat menuju tempat parkir. Dia akan mengikuti Jeni dan Aston.


Jeni sudah sampai di rumahnya dan minta pada Aston untuk mampir. Aston menyanggupinya demi misi mencari bukti.

__ADS_1


"Silahkan duduk, sebentar ya aku tinggal dulu ke belakang."


Aston duduk di sofa ruang tamu. Dia mengamati sekitar, tak lama datanglah Jeni membawa minuman.


"Silahkan di minum." Jeni menaruh minuman di atas meja.


"Terima kasih. Rumah lo sepi ya."


"Iya, Bokap lagi kerja, nyokap lagi di kamar."


"Oh, kalau gitu gue pulang aja ya, gak enak nanti ganggu istirahat nyokap lo."


"Gak apa-apa, Nyokap gue kalau udah di kamar anteng, tar keluar kalau mau masak makan malam."


"Nyokap lo suka masak? Kirain gak suka masak kaya Nyokap gue."


"Sama Nyokap juga malas masak tapi semenjak gak ada Meta jadi Nyokap gue yang masak. Kalau masakan Bibi gak cocok."


"Oh jadi Meta pintar masak, wah udah cantik pintar masak lagi. Pantas dulu dia masak nasi goreng enak banget." Aston sengaja memanas-manasi Jeni.


"Dia juga pintar masak karena di ajari Nyokap."


"Lo juga pasti bisa masak, kan?"


"Gak, gue malas banget masak."


"Cewek tuh harus bisa masak, jangan cuma dandan doang."


"Alah, sekarang semua serba gampang. Mau makan tinggal beli ngapain susah-susah masak."


"Begini nih pemikiran cewek malas, banyak alibinya. Kalau gue sih sukanya sama cewek yang pintar masak anggun sabar dan baik hati."


"Dih, noh pembokat gue bisa masak, sabar, dan baik hati, tipe lo banget!"


"Jen, gue pulang dulu. Ada janji gue sama anak-anak."


"Iya deh. Makasih ya gue dianterin pulang."


"Iya, asal jangan sering-sering aja." Aston bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu diikuti Jeni. Dia lalu pamit dan menaiki motornya yang tak lama kemudian melaju pergi dari rumah Jeni. Sebelum pergi Aston sempat menaruh alat kecil yang bisa merekam suara dan gambar di atas televisi, saat Jeni sedang ke dapur. Alat itu bisa di kontrol dari jarak jauh.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2