
Pria itu tampak gelisah .
plak..
Pria itu menepuk leher belakangnya yang terasa gatal digigit nyamuk.
Alinski duduk di sofa, dekat tempat tidur Gibran.
" Uncle Al siapa namanya ?"
" Daniel." batin pria itu.
" dia bilang Wira ,"
" Hah.. mau saja kau di bohongi." batin pria itu lagi.
" Apakah paman tahu siapa yang menyuruhnya ?"
" Bordeux si Ketua mafia gila."
" Dia bilang mafia tanah, Antrax nama ketuanya."
" Hahaha Antrax sapi gila gua bahkan kagak tahu ada apa gak orang yang namanya Antrax." batin pria itu.
" Saya tahu kamu berbohong tentang semua informasimu, kita lihat apa yang akan mereka dapatkan dari kamu dan apakah kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari mereka para iblis cilik ." batin Alinski*.
" Apakah uncle tahu kenapa dia ingin membunuh Gibran . "
" Karena perusahaan Deltons Grup tanah itu untuk membuat hotel tapi warga tidak mau menjualnya dan ketika Gibran Adelard yang membelinya mereka menjualnya. " Jawab pria itu dalam hati.
" Dia bilang masalah tanah detailnya dia tidak tahu ."
" Tahu juga gua gak akan bilang ama lo , gua akan jaga reputasi gua sebagai orang yang bisa dipercaya, nanti kalau gua berkhianat gak akan ada lagi yang nyewa gua. Gua harus cari cara buat kabur." pikir pria itu.
Gibran dan Alvin terus mengamati pria itu. Sementara itu Max menatap pria itu sambil terus bertanya pada Alinski.
" Om Wira , apakah om Wira punya keluarga ?"
" Tentu gua punya, orang tua gua udah mati kecelakaan adek gua 3 karna itu gua jadi pembunuh bayaran buat biaya hidup mereka , biar mereka sukses. Biar gua yang begini tapi jangan mereka. Mereka harus bahagia dan hidup senang .Mereka gak tahu kerjaan gua mereka pikir gua kerja jadi mandor. " pikiran Daniel menerawang teringat adek adeknya .
Daniel diam saja tidak berkata apapun dia hanya menunduk. Gibran menuliskan sesuatu dan menyerahkan kertas itu pada Max.
Max membuka dan membacanya.
DI MANA MARKASNYA , RUMAH KETUANYA DAN RUMAH WIRA .
Max menutup kembali kertas itu dan memasukkannya pada kantong celananya.
" Baiklah om Wira kalau tidak mau cerita tentang keluarga om gak apa-apa. Bagaimana dengan markas Antrax apa om tahu di mana markasnya ?"
" Markas Bordeux tentu aku tahu ! Di dekat stasiun kereta GDB , di dekat situ ada bangunan besar . "
" Om tidak mau jawab , gak apa-apa. Bagaiman dengan rumah Antrax apa om tahu ?"
__ADS_1
" Rumah Bordeux di perumahan elit DG [Deltons Grup ] jln Gedebage. "
" Om tetap diam , kalau begitu rumah om dimana ? "
" Rumahku hanya kontrakan kecil di dekat markas. Tapi adek-adeku tinggal jauh di Tasik ."
" Berapa umur om ? "
" Umurku 29 tahun."
" Om tak pernah menjawab pertanyaanku , baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Maaf om tapi tidak ada gunanya bertanya pada orang bisu, karena om diam saja" Sarkas Max kesal
" Untuk apa aku menjawab pertanyaan anak kecil. " Daniel tersenyum miring .
" Uncle Max terimakasih sudah membawanya ke sini ."
" Sudah itu saja ? " Al bingung karena mereka cuma bertanya tanpa mendapat jawaban.
"Iya mau bagaiman lagi , dia tidak menjawab, terus kami harus apa ? kami kan cuma anak kecil !" ucap Alvin sambil memijit pelipisnya dia sudah merasakan pusing.
" Aku cuma ingin melihat wajahnya dengan jelas, sehingga akan ku ingat terus sampai kapanpun. Wajah yang mencabut nyawa tanpa rasa dosa. " Gibran menatapnya tajam untuk mengintimidasinya.
" Tatapannya tajam banget, apa yang dia pikirkan tentang gua emang bener gua membunuh tanpa merasa dosa yang penting adek gua bisa makan "
" Ok ! kalau begitu , aku akan pulang dan membawanya. "
" Uncle tunggu, bisa kita bicara berdua ?" Panggil Gibran.
" Ok..Bawa dia ke markas !" perintah Al pada Pengawalnya yang tadi memegangi Daniel.
" Apa ?" Al kaget dengan ucapan Gibran.
" Iya biarkan dia bebas kami punya rencana ! " Ucap Max.
Para remaja ini mau apa mereka ? Rencana apa ?
" Rencana apa ?" tanya Al.
" Ini !" Adam memutar laptopnya menghadap Alinski.
" Apa ini?"
" Ini adalah Wira, titik ini adalah dia !" Ucap Aston.
" Kami memasang alat pelacak padanya ." lanjut Adam.
" Jadi tadi kalian bukan nonton, tapi sedang memasang pelacak."
" Iya ." jawab Aston.
" How..bagaimana? "
" Oh aku tahu ! yang tadi saat dia memukul lehernya, itu kalian sedang memasang alat pelacaknya , Betulkan ?"
__ADS_1
" Iya uncle.." jawab Adam.
" Kita ikuti dia uncle ! dia pasti akan melapor pada bosnya ." lanjut Max
" Kami juga memberikan alat pengintai, sehingga kita tahu di sana ada berapa orang dan seperti apa situasi di tempat itu ?" tambah Alvin.
" Amazing .. Aku tak menyadari apa yang kalian lakukan , uncle pikir kalian hanya interogasi saja dan udah , cuma gitu doang ." Alinski kagum dengan mereka.
" Ternyata yang kalian lakukan bahkan tak pernah uncle bayangkan , unpredictable [ tidak terduga ]. " lanjutnya.
" Maaf uncle sengaja kami tidak beritahu uncle agar rencana berjalan lancar. " ucap Max
" Ya uncle mengerti agar semua terlihat natural."
" Bagaimana uncle ? kita lepaskan saja dia ."
" Ok ! Sebentar uncle telepon dulu ." Alinski menelepon Anak buahnya untuk pura -pura pergi dan lengah sehingga tawanan dapat kabur.
" Sudah, aku sudah memberitahu mereka untuk pura-pura pergi dan lengah dan membiarkan Wira pergi. "
" Terima kasih uncle. Sekarang kita lihat ke mana dia pergi. "
Mereka Semua melihat layar laptop.
Sementara Daniel yang sedang pusing memikirkan cara untuk kabur melihat kesempatan, yang menjaganya hanya 1 di luar mobil. Temannya yang satu sedang di panggil ke atas . Dan dia lupa tidak mengunci pintu mobilnya .
Daniel kabur tapi sial pengawal itu melihatnya , dan mengejarnya . Daniel lari sekencang -kencangnya dan menyeberang jalan.
Ciiit .. Tiiin..Tiiin....Ciiit..
Hampir saja dia tertabrak. Para supir mobil berteriak marah-marah. Si pengawal tak bisa lanjut mengejar karena jalanan ramai dan ini adalah jalur kencang semua kendaraan berjalan cepat.
Daniel merasa tenang dia melanjutkan larinya dan segera naik ojek yang ada di sana untuk ke markas.
Sementara Geng Angker sempat merasa tegang begitu Daniel menyeberang, jika Daniel tertabrak gagal sudah rencana mereka.
Mereka terlalu fokus pada laptop itu dan melupakan satu hal penting, bukan satu hal.. tapi satu orang penting . Yaitu Feli yang saat ini sedang tertidur di sofa.
Rupanya Feli ketiduran ketika menonton drakor.
" Kenapa sepertinya aku melupakan sesuatu. "
" Benarkah Gibran, kalau benar ini pertama kalinya kamu melupakan sesuatu !" ucap Max.
Gubrak..Begitu mereka mendengar suara dari kamar mandi . Mereka saling tatap
" Apa itu ?" tanya Alinski
" FELI ! " Teriak mereka serempak.
Max dab Alvin segera lari ke kamar mandi. Saat mereka membuka pintu , mereka justru tertawa.
Aston dan Adam segera ke kamar mandi untuk melihat kenapa kedua orang itu tertawa. Dan tergelak lah mereka .
__ADS_1
...----------------...