
" Pake sabuk pengamen lo." Ucap Alvin.
" Pengaman Kak Al."
" Iya itu terserah."
Meta memakai sabuk pengaman. Mobil melaju dengan pelan karena jalan yang padat merayap.
" Lo kok pulang jalan kaki? Kenapa gak naik taxi atau minimal angkutan umum?" Tanya Max.
" Ah iya..itu dompet aku ketinggalan." Alasan Meta.
" Serius?"
" Iya..Kak."
" Rumah lo di mana?"
" Di jalan xxxxx no 28."
Setelah terbebas dari kemacetan Max melajukan mobilnya dengan cepat.
Sampailah mereka di alamat yang dituju.
" Turun ..udah sampai !"
" Ok..Makasih Kak." Tiba-tiba suara Meta berubah menjadi suara orang yang sendu. Tidak ceria dan tengil seperti biasa.
Meta turun dengan tidak semangat. Rasanya ia tidak ingin pulang. Tapi tak ada tempat lain untuk ia singgahi. Meta harus siap menerima apapun yang akan terjadi di rumah itu.
Meta berdiri lama di depan pintu. Ia memegang daun pintu tapi ragu untuk membukanya.
" Bismillah.." Meta mengambil nafas dan membuka pintu. Lalu pintu tertutup.
Max masih melihat Meta dari mobilnya.
" Kenapa dia seperti malas untuk pulang ?"
" Lo jangan terlalu kasar padanya. Dia sudah cukup menderita. Dia hanya ingin merasakan dicintai dan diingikan."
" Apa lo tahu sesuatu tentang Meta ? lo melihatnya bukan ?"
" Ya ..tapi gue tidak akan bilang . Ini adalah privasinya, Dia yang berhak menceritakannya. Ayo pulang." Mobil pun melaju.
Sampailah mereka di rumah. Gibran terlihat sedang menelepon Feli. Max dan Alvin langsung ke kamar mereka untyk berganti baju lalu mereka makan.
Setelah itu mereka bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.
" Gib..tadi kenapa lo nyuruh gue ngikutin Meta?" Tanya Max.
__ADS_1
" Lo ngikutin dia gak ?" Tanya Gibran.
" Iya ."
" Ya udah berarti lo tahu jawabannya kan ."
" Tapi kok lo bisa tahu?"
" Ya karena gue sering lihat !"
" Terus lo diam aja !"
" Bukan urusan gue. Kalau gue tolongin tar dia baper terus berpikir kalau gue suka dia. Gue gak mau dibilang php."
" Terus kenapa nyuruh gue? Dia juga bukan urusan gue !"
" Yakin ?'
" Maksud lo ?"
" Iya yakin lo pergi karena gue suruh? Gue cuma bilang aja, lo pergi karena kemauan lo sendiri. Karena hati lo terusik. Kalau lo gak suka lo gak akan perduli. Jangan terlalu keras ama diri sendiri. Gak masalah kok lo suka ama dia. Dia orangnya sebenarnya baik. Cuma hidupnya aja menyedihkan. Mungkin lo yang akan jadi The Savior nya dia."
" Tapi..." Max tidak meneruskan kalimatnya.
" Lo raba hati lo, perasaan apa yang lo punya buat dia. Jujur ama diri sendiri setelah itu lo tahu apa yang harus lo lakuin. Sebelum semua terlambat."
Max tidak menjawab. Dia hanya mengamati Gibran dan merenungkan perkatannya.
Pagi- pagi Max sudah rapi. Dia akan berangkat lebih awal hari ini.
" Max mau ke mana gak sarapan dulu?" Tanya Milla.
" Gak Umi, Max ada perlu ."
" Tunggu Max, Nih setidaknya bawa bekal siapa tahu kamu bisa makan di mobil !" Milla menyerahkan dua kotak bekal.
"Iya Umi makasih." Max lalu mencium tangan Umi dan Abi.
" Max berangkat dulu. "
" Iya hati-hati sayang ."
Mobil Max melaju ke arah rumah Meta. Karena masih pagi keadaan belum begitu macet.
Max tidak turun ia mengamati dari dalam mobil. Max membuka bekal dan memakannya.
Pintu terlihat terbuka. Keluar perempuan yang kemari di antar Max. Tapi ada yang aneh, Dia berjalan pincang. Max ingin turun tapi di urungkannya begitu terlihat seorang perempuan seperti ondel-ondel keluar dan mendorong Meta. Meta tersungkur.
" Lo lebih baik gak usah pulang lagi ke sini. Dasar anak gak berguna. Tak tahu diuntung !"
__ADS_1
Meta bangkit tidak membalas perkataan wanita itu.
" Pergi ! Awas kalo balik lagi . Anak pembawa sial."
Keluar seorang laki- laki.
" Sudah-sudah malu di lihat orang. Ayo masuk." Laki-laki itu menarik wanita itu masuk kedalam rumah. Tapi dia melihat ke arah Meta dan menyeringai.
" Meta kau tahu ke mana kamu harus pulang. " Ia pun tertawa lalu masuk dan menutup pintu.
Max yang melihat semuanya mengeratkan genggaman tangannya pada setir.
Dia marah Meta diperlakukan seperti itu.
Meta berjalan dengan tertatih karena kakinya terluka. Ia keluar gerbang dan berjalan terus.
Max menyalakan mobilnya. Ia melajukannya pelan lalu berhenti tepat di samping Meta.
Meta terus berjalan tak perduli ada mobil berhenti di sampingnya.
Max turun lalu menggendong Meta dan mendudukkannya di kursi depan. Meta tidak berontak. Ia justru menangis sambil memeluk leher Max.
Max diam membiarkan Meta menangis.Tapi lama-lama punggungnya pegal.
" Met..sorry tapi punggung gue pegel.."
Meta melepaskan pelukannya. Max kemudian berjongkok di samping Meta yang duduk di kursi penumpang .
" Lo jangan nangis lagi. Sekarang kita berangkat ok !"
Meta mengangguk. Max menutup pintu depan. Ia berlari ke pintu satunya lagi dan naik.
" Pake sabuk pengamen dulu ."
" Pengaman ."
" Iya itu , gimana siap berangkat?"
" Iya.."
" Kak Max apa boleh Meta tinggal di rumah Kak Max ?"
...----------------...
Hola...Apa kabar semoga sehat semua.
Terima kasih masih membaca cerita Gibran..💖💖💖
terima kasih like dan komennya....semoga suka dengan bonus bab nya ...tunggu up selanjutnya.....thank you
__ADS_1
💖💖💖 Love You All 💖💖💖