
Sementara Sam yang baru saja tiba di kantor , merenungkan kembali perasaannya, walau dia yakin apa yang dilakukannya benar tapi tetap terselip perasaan bersalah pada Milla dan anak-anaknya, dia menyayangi Milla dan anak-anaknya, sebenarnya dia juga tak rela jika jauh dari mereka tapi semua ditepisnya demi ego dan rasa penasarannya bersama cinta pertama.
Tapi pantaskah dia memperjuangkan perasaanya pada Claris dan mengabaikan ke 4 anaknya, Sam mungkin lupa jika semua yang kita lakukan akan ada balasannya dan dia akan membayar dengan sangat mahal perbuatannya, penyesalan seumur hidup pun tak kan mampu mengembalikan semuanya.
...----------------...
Di kediaman keluarga Wijaya Kak Bima, mamah dan Gibran sudah selesai sarapan dan sedang berkumpul di ruang keluarga.
Milla gelisah dia berpikir apakah ini saatnya dia menceritakan semuanya.
Ya...ini waktunya Milla akan menceritakan semua yang terjadi pada pernikahannya , semoga mereka dapat menerima keputusannya.
" Mah.. kak.. Milla mau mengatakan sesuatu tapi sebelumnya Milla minta maaf karena baru menceritakannya pada kalian." Milla menghela nafas..
" Ada masalah apa sayang ?" ujar Anggun.
" Mah.. jangan dulu di potong biarkan Milla bercerita dulu !" kesal Bima karena mamahnya memotong Milla yang akan bercerita.
Anggun hanya melirik Bima dengan kesal...
" Begini mah, kak, sebenarnya kedatangani Milla ke sini karena....." Milla menceritakan semua masalah dan perasaannya, dia tidak menangis hanya wajah sendu yang terlihat.
Gibran memperhatikan wajah uminya , wajah cantik yang memiliki ketegaran . Gibran mengalihkan pandangan pada grandmanya wajah yang mirip dengan uminya, kini wajahnya terlihat sedih bahkan menitikkan air mata mendengar kisah Milla yang bagaikan sinetron , beralih pada uncle Bima, wajah tampan mirip grandma tapi sepertinya lebih banyak grandpanya, Bima terlihat menahan amarah , tangannya terkepal mungkin uncle Bima tak menyangka kelakuan sahabatnya yang bajingan selingkuh tanpa memikirkan anak-anaknya dan istrinya.
" ..... maaf, jika Milla ke sini ketika ada masalah, bukan seperti itu maksud Milla, ...."
" Sudahlah nak , mamah mengerti dan mamah tidak pernah beranggapan seperti itu, mamah tahu Sam melarangmu keluar karena khawatir dengan mu dan anak-anakmu, karena itu mamah tidak percaya Sam bisa seperti ini, dia terlihat begitu mencintaimu dan menjagamu," Anggun mengusap pipinya menghapus tetesan air mata.
" Tapi ternyata dia begitu tega padamu dan anak-anakmu, mamah tidak terima, kamu sudah menderita sejak kamu lahir, kamu dan anakmu tak pernah mendapatkan kasih sayang kami , kini tak akan mamah biarkan orang lain menyakitimu kami akan menjagamu dan anak-anakmu kami menyayangi kalian semua, kalian tidak sendiri !" Anggun memeluk Milla .
" Terima kasih mah, tapi menderita sejak lahir itu tidak benar, aku tetap merasa bahagia karena ada ibu panti dan orang-orang yang sayang padaku, dan aku juga mendapatkan kasih sayang mamah dan papah sejak lahir karena aku tahu do'a kalian selalu bersamaku dan menjagaku mengiringi setiap langlahku, walau kita berjauhan do'alah penghubung kita, dan lihatlah aku di sini bersama mamah berkat do'a mamah. Terima kasih telah melahirkanku." Milla menghapus air mata di pipi Anggun.
" Samuel Adelard kamu sudah menyakiti adikku , lihatlah aku akan membalasmu ! nyawa di bayar nyawa, luka di bayar luka, tak perduli kau sahabatku, jangan harap kau bisa menemui mereka !" murka Bima .
" Uncle bukankah dulu kau akan menikah tapi di mana pacarmu kenapa Gibran gak pernah liat uncle sama wanita?"
" Ya..benar dulu uncle memang sempat tunangan dan mau menikah tapi kami dijodohkan, ketika persiapan pernikahan itu kami menyadari kalau kami tidak saling cinta dan tidak mungkin membangun keluarga tanpa cinta, kami putus baik-baik dan uncle bicara pada pihak keluarganya juga pihak keluarga uncle, akhirnya mereka menerima keputusan kami. " Bima menjelaskan pada Gibran.
" Berapa umur uncle sekarang ?" tanya Gibran.
" 33 tahun seumuran sama abi kamu, emang kenapa? tanya Bima.
__ADS_1
" Gak apa-apa, kasihan aja !" ucap Gibran, lalu pindah duduk menghampiri umi dan grandmanya.
" bocah tengil , kurang asem !" Gerutu Bima.
Ketika mereka sedang mengobrol santai Toni datang dan langsung bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
" Papah tumben pulang jam segini !" ujar Bima.
" Iya papah langsung pulang begitu mamah WA papah kalau ada Camilla, papah kangen banget sama Milla juga Gibran, Gimana kabar kalian?"
" Alahamdulillah baik, papah gimana kabarnya ?" tanya Milla.
" Alhamdulillah baik juga, Sam tidak ikut ke sini ? " tanya papah.
" Abi gak tahu kita ke sini !" jawab Gibran.
" Kenapa? tanya Toni.
" Karena kita gak ngomong ke abi !" jawab Gibran.
" Kenapa ?"
" Males ngomong sama abi !"
" Kenapa ?"
" Kenapa ?" tanya Anggun.
" Sakit pahanya ," Toni mengusap-usap pahanya yang sakit.
" Maaf, abis papah tanya kenapa mulu, ya udah yuk papah ganti baju dulu terus tar ke sini lagi." ucap Anggun.
" ya udah ayo , Milla Gibran papah ke atas dulu ya !" ucap Toni.
" iya pah,"
" iya grandpa ," ucap Milla dan Gibran bersamaan.
Toni dan Anggun naik ke atas untuk berganti baju.
Tinggal Milla, Gibran , Bima di ruang keluarga. Bima menyuruh Milla ke kamar untuk beristirahat, Milla menyetujuinya karena dia juga lelah dan merasa sedikit pusing. Milla ke atas di antar oleh
__ADS_1
asisten rumah tangga Toni .
" Uncle, bisakah uncle mengatur kepulangan kami ke Indonesia agar tidak diketahui abi ?" tanya Gibran.
" Bisa, kapan kamu ingin berangkat ?" tanya Bima.
" Besok ," jawab Gibran .
" Baiklah akan uncle persiapkan !" Ucap Bima.
" Terima kasih uncle, oh ya uncle bolehkah Gibran pergi ke A Corp ?" tanya Gibran.
" Boleh , ayo uncle antar , uncle juga ada keperluan dengan tuan William." Bima dan Gibran pergi ke kantor A Corp.
Sampai di sana mereka di antar ke ruangan William.
Mereka di persilahkan menunggu di depan ruangan William karena masih ada tamu di dalam.
Bima duduk dengan tenang, sementara Gibran duduk sambil mendengarkan musik dan memejamkan mata karena dia tidak ingin mendengar kebisingan suara hati orang lain."
Pintu ruangan William terbuka keluarlah tamu William , Bima terkejut melihatnya lalu dia mendatarkan ekspresinya.
" Maaf tuan Bima harus menunggu, mari silahkan masuk," ucap tuan William.
" Terima kasih ," Bima mencolek tangan Gibran .
Gibran membuka mata dan terkejut melihat Sam.
" Sayang , kau ke sini juga!" tegur Sam pada Gibran.
" Iya, tadi saya ke main ke rumah, kangen mereka dan firasatku gak enak, lalu Gibran bilang bosan di rumah jadi saya ajak dia ." Bima yang menjawab Gibran hanya diam .
" Oh... Gibran mau ikut abi ?" tanya Sam.
" Tidak terima kasih , Gibran tidak mau merepotkan ," Jawab Gibran.
" Baiklah tuan Bima silahkan masuk, kita perlu bicara beberapa hal !" kata William.
" Iya , tuan William . Ayo Gibran !" Bima dan Gibran masuk ke dalam meninggalkan Sam , yang masih berdiri di sana dan memperhatikan mereka hingga pintu itu tertutup.
" Apakah mereka ada kerja sama ?" gumam Sam, lalu akhirnya dia pergi masih dengan tanda tanya dalam hatinya.
__ADS_1
...****************...