
Sementara itu di Bandung . Gibran sedang melihat lokasi proyek bersama Frederick dan Sam.
Saat melihat ada warung di sekitar sana Gibran berhenti dan ijin pada abi ingin membeli minuman . Abi mengijinkan dan kembali berjalan melihat lokasi.
" Assalamu'alaikum, bu beli Frestea 1 ."
" iya dek ambil aja !" Ibu penjual sedang melayani pembeli yang lain.
Gibran mengambil minuman yang dingin 3 botol.
" Bu, itu yang mau bangun sekolah ya ?" tunjuk seorang ibu pada Sam dan Frederick.
" Kelihatanya sih, liat aja mereka ! bule begitu berarti orang kaya !" saut ibu penjual.
" Iya bener. Sebenarnya maksudnya baik, tapi kok caranya begitu . Kasihan saya bu sama para pemilik rumah . Apalagi bu laksmi , dia kan janda anak 2 itu rumah peninggalan suaminya cuma dihargai 100 juta alasannya karena bangunannya jelek, sedangkan uang segitu mana bisa dia beli rumah lagi paling ngontrak ." Ucap ibu pembeli.
" Maaf bu saya mau bayar !" Gibran menginstrupsi pembicaraan ibu-ibu itu dia sudah mengerti situasi di sini, telah terjadi penggelapan uang ganti rugi.
" Oh iya dek, sebentar kembalinya dek !" ibu penjual mengambil uang untuk kembalian.
" Tidak usah bu, buat ibu saja kembaliannya. Terima kasih bu."
" Iya dek sama-sama terima kasih. " Gibran berjalan ke arah abi yang sedang duduk bersama Frederick.
" Dady, abi ..!" yang dipanggil menoleh. Gibran memberikan minuman pada mereka.
" Terima kasih sayang.. "
" Abi, Gibran gak mengerti kenapa manusia selalu berbuat curang, menindas yang lemah dan berkhianat ?"
" Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" jawab abi sekaligus bertanya .
" Kita ingin berbuat kebaikan, bukannya mendukung dan membantu justru ada saja yang berusaha mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Sebenarnya Gibran lelah selalu menghadapi manusia seperti ini, dimana-mana ada saja kecurangan , bagaimana caranya bi , dad , agar tidak ada lagi manusia yang berniat jahat ?"
" Waduh pertanyaan kamu berat amat sayang ." ucap Frederick.
" Kamu pasti lelah anak sekecil kamu menghadapi berbagai kasus yang seharusnya dihadapi orang dewasa, itulah sebabya abi dan umi ingin agar kamu tumbuh seperti anak biasa di lingkungan anak-anak tapi ya mungkin takdir kamu, tumbuh di sekitar orang -orang tidak biasa."
__ADS_1
" Segenius apapun kamu nak , masalah hati tak ada yang bisa mengontrol selain orang itu sendiri , Allah saja memberikan kebebasan pada manusia untuk memutuskan apakah dia ingin menjadi jahat atau baik, tapi Allah memberikan balasan atas setiap keputusannya . Dia menjadi jahat atau baik ada balasannya." ucap dady.
Manusia jahat itu karena hatinya tertupi oleh kabut . Kabut nafsu, yang membuatnya serakah dan menghalalkan berbagai cara. ada juga karena keterpaksaan karena kebutuhan mendesak tapi tak ada kemampuan jadi berniat jahat. Apa yang kamu lakukan sekarang sudah merupakan salah satu solusi mengurangi kejahatan karena kemiskinan dan kebodohan. Jika ada yang mengambil kesempatan dari apa yang kamu lakukan untuk keuntungan pribadi biarlah Allah yang menghukumnya.
" Sebenarnya ada apa Gib ?"
" Ada yang menggelapkan uang ganti rugi , tadi ibu-ibu di sana bercerita kalau ibu laksmi janda dua anak dikasih uang 100 juta untuk ganti rugi rumahnya. "
" Apa !! bukankah kamu kasih paling sedikit 500 juta untuk tanah kosong. Kalau runah bukankah harusnya lebih ?"
" Iya bi itulah yang bikin Gibran kesal mereka membuat niat baik kita ini tercoreng . "
" Nanti abi akan suruh orang selidiki lalu kita lapor polisi, itu uang adalah hak mereka pemilik rumah. Kita harus kembalikan."
" Iya bi ."
" Yuk kita pulang ke hotel makan dulu. " Sam mengajak mereka pulang.
"Gib, nanti yang lain akan menyusul ke sini, kamu ikut jalan-jalan dengan mereka biarkan masalah sekolah kami yang akan selesaikan !"
" iya bi ." Gibran pikir mungkin sia mau istirahat sejenak memikirkan bagaimana cara menghandle semua anak buahnya agar tidak ada lagi penyimpangan, Benar kata abi dan dady sepintar apapun kita, sehebat apapun dan secanggih apapun alat dan sistem yang di ciptakan tidak mampu mengontrol hati manusia, bila mereka berniat jahat mereka akan menemukan berbagai cara . Yang harus di perbaiki bukanlah aturan dan sistem tapi hati manusia itu sendiri agar tidak ada yang berniat jahat, bagaimana caranya . Sedangkan sifat itu sudah tertanam dalam diri manusia , begitu juga dirinya sendiri Gibran sadar itu karena kadang dia juga merasakan perasaan marah benci dan yang lainnya . Tinggal bagaimana kita mengontrol perasaan itu agar tidak menguasai hati dan menghilangkan logika mengesampingkan perasaan belas kasih manusia. Memikirkan tentang perasaan orang lain membuatnya pusing . Kebih bsij memikurkan oerasaan Feli membuatntnya Happy.
Walaupun Sam banyak pekerjaan dia tidak ingin anaknya mengalami kesulitan .Untunglah pekerjaan Sam ada Paul yang menghandlenya.
Sementara di Bali, 3G baru pulang sekolah . Mereka sedang makan siang .
" Umi kapan kita berangkat ?"
" dek makan aja dulu. Kalau sudah makan , sholat . Mau berangkat kapanpun kita sudah siap !" tegur Gilang .
" Iya abang ." Giska cemberut ditegur abangnya.
" Kita tunggu Kakak- kakak yang lain sama semua mamy , sekarang kita makan dulu ya dek. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan pulang ." Giska mengangguk sambil tersenyum . Gifar membalas senyum Giska.
Entah kenapa Gilang merasa gelisah , tiba-tiba dia terpikir kak Gibran . Apakah kakaknya baik-baik saja ?.
" Ada apa bang , apa abang juga sama seperti Giska merasa gelisah ?"
__ADS_1
" Kamu juga dek, aa juga merasa gelisah ."
" Kalian merasakan yang sama seperti abang ?"
" iya."
" Ada apa ya bang ? coba kita telepon aja bang !"
" iya, tapi makannya abisin dulu !"
Mereka melanjutkan makannya setelah selesai mereka ke kamar untuk menelepon Gibran.
Tut....tuut... nada sambung terdengar, Gilang meloud speaker ponselnya.
" Halo Assalamu'alaikum ." Gibran mengucap salam terlebih dulu.
" Wa'alaikumsalam kak , gimana kabar kakak dan abi di sana ?"
" Alhamdulillah , semua baik-baik saja , kalian katanya mau ke sini ya ?"
" Iya kak .. insyaallah , semuanya mau ke sana umi lagi siap-siap."
" Kalian hati-hati di jalan , ingat jangan suka pada jail dengerin apa kata umi. Jangan lupa sholatnya , kakak kangen kalian ."
" Sama kita juga kangen kakak...." perkataan Gilang terpotong.
" Kak, kak Gibran gak apa-apa kan ?" Tanya Giska. Entahlah dia menjadi sedih setelah mendengar kata-kata Gibran.
" Alhamdulillah kakak baik-baik saja , kakak cuma lelah, habis makan jadi ngantuk pengen tidur."
" Oh.. ya udah , kakak tidur aja . Sampai jumpa nanti di sana kak , selamat tidur ."
tut...tut.. Telepon langsung terputus.
" hiks...hik.. " Giska menangis.
" Kenapa dek kok nangis ?"
__ADS_1
" Enggak tahu, adek pengen nangis aja denger kak Gibran , belum pernah adek denger kak Gibran mengeluh lelah baru kali ini kak Gibran bilang lelah , perasaan adek gak enak jadi pengen nangis !" Giska semakin menangis. Gilang dan Gifar memeluk adiknya , untuk memberi ketenangan bukan hanua pada adiknya tapi juga pada diri mereka sendiri sebab merekapun merasakan yang sama gelisah tak menentu.
...----------------...