Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Bab 17


__ADS_3

Gibran membuka mata dan terkejut dia begitu asing dwngan kamar ini, oh iya dia baru ingat ini rumah om Bima , dilihatnya jam sudah jam 4 Gibran bangun dan mandi karena semalam tidak mandi. Setelah mandi Gibran berwudhu, dan sholat bersiap sholat subuh samb menunggu adzan Gibran mengaji suaranya sangat merdu.


Suara Gibran terdengar keluar kamar tamu memang tidak pakai peredam suara jadi terdengar keluar.


Keberulan Anggun sudah bangun dan hendak turun ke bawah dan ketika melewati kamar tamu dia terbuai oleh suara merdu Gibran . Anggun sedih dan meneteskan air mata suara itu begitu sedih , suara orang putus asa tapi penuh harap kepada yang kuasa , suara penuh ketulusan .


Toni Wijaya yang terbangun karena tida ada istrinya, keluar kamar mencari keberadaan istrinya, dia melihat Anggun sedang berdiru di depan kamar tamu, Toni menghampiri Anggun dan bertanya ada apa , Anggun tidak menjawab hanya memberi kode pada suaminya untuk diam dan mendengarkan.


Toni mendengar suara indah yang mengalun lalu dia mengintip dan terlihat Gibran sedang duduk si atas sejadan memejamkan mata dan mengaji dengan beurai air mata , Toni merasa tersentuh dan menetes air matanya.


Mereka terus mendengarkan Gibran mengaji, sampai terdengar adzan subuh mereka pergi untuk sholat subuh.


Jam 6 Anggun turun untuk menyiapkan sarapan. Bima sudah rapi dan duduk di meja makan. Gibran turun dan sudah rapi duduk di meja makan.


" Pagi om, pagi oma, " apa Gibran.


" Pagi sayang, Gibran mau sarapan apa sayang, ?"


" Apa aja oma.." Jawab Gibran.


" Gibran suaranya merdu ya kalau lagi ngaji dah gitu gal liat Qur'an lagi, hebat." puji Anggun.


" Terima kasih oma."


" Mah Gibran ini hafiz loh, pernah ikut lomba hafiz di tv dan menang." Kata Bima.


"Oh..pantes wah ..hebat ya, kaya kakek kamu Bim, beliau juga hafiz dari kecil, "


Mereka terus berbincang sambil sarapan , Toni baru turun. Bima pamit mau ke rumah sakit bersama Gibran.


Sampai rumah sakit Gibran ke ruangsn ICU, di sana sudah ada oma dan opa juga uncle King dan Peter.


Gibran menyapa mereka dan mencium tangan. Begitu mencium tangan Peter Gibran mendengar suara hati Peter.


" Kasihan kamu masih kecil tapi orang tuanya antara hidup dan mati. Maafkan om Gibran , om tahu siapa yang mencelakai orang tuamu dia adalah Vanessa, om tidak bisa mencegahnya, dan om juga tidak bisa membuktikan dia bersalah."


Gibran tentu terkejut dan marah pada tante gila, liat saja dia yang akan menghukumnya, jika polisi tidak bisa menghukum biar dia yang jadi hukumnya.


Gibran tersenyum, senyum lebar membuat oma dan king heran ada apa dengan Gibran.


Peter pamit undur diri untuk memeriksa pasien lain.


"Oma bagaimana keadaan umi dan abi, "


" Alhamdulillah sayang umi dan abi sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa."

__ADS_1


" Alhamdulillah oma,"


" Gibran sudah makan ?" tanya oma.


" sudah oma " jawab Gibran.


" Uncle bisa kita bicara?"tanya Gibran .


" Uncle merasa takut kalah kamu udah serius begini, mendadak hati uncle jadi tidak enak.." mereka pergi ke kantin rumah sakit.


Gibran sengaja duduk di meja tengah ,


" Ada apa? " kata King..


" Gibran tahu siapa yang sudah membuat abi dan umi celaka, " jawab Gibran.


" maksud kamu apa? bagaimana caranya kan tahu ?"


" Jangan tanya bagaimana aku tahu uncle, ikuti saja perkataan Gibran !"


"wah..baru kali ini uncle di perintah oleh anak kecil, oke..coba uncle mau dengar!!"


" Baik dengar uncle, tante Vanessa membajak mobil abi dia memotong kabel rem, coba om cari buktinya, ikuti terus Vanessa dan kalau bisa om jangan terlalu percaya pada peter dia sepertinya tahu sesuatu mengenai Vanessa, awasi terus peter maka uncle akan tahu." kata Gibran.


"hei anak kecil kenapa kamu curiga pada peter dan Vanessa?"


"Iya ..iya Sifa ok uncle akan bantu dan selidikj kasus ini."


" Terima kasih uncle tapi ingat rahasia berdua tak ada yang boleh tahu." pesan Gibran dan pergi.


" wah...masih kecil kau sudah punya jiwa pemimpin kau buat orang tunduk dan menurutimu." King terkekeh.


Gibran pergi ke kamar rawat orang tuanya. Di sana ada oma Anggun dan oma Samantha.


Gibran mencium tangan mereka, dan duduk di samping brankard uminya.


Gibran memegang tangan uminya dan membisikkan sesuatu.


" Umi..cepat sadar Gibran kangen pengen di belai umi, umk jangan pergi jauh-jauh cepat kembali umi, liat Gibran di sini." bisik Gibran.


Lalu Gibran pergi ke tempat abinya , sengaja mereka menempatkan Sam dan Milla satu ruangan agar mudah menjaga dan merawat .


Gibran memegang tangan abinya lalu membisikkan sesuatu,


" Abi..jangan lama -lama di sana , kembali lah Gibran menunggu, kita baru bertemu setelah 6 tahun , baru sebentar kebersamaan kita dan sekarang abi mau pergi, abi kembalilah , cepat bangun Gibran di sini."

__ADS_1


Gibran melihat abi meneteskan air mata, Gibran mengusapnya.


" Gibran tahu abi sayang Gibran jadi jangan menyerah , berjuanglah dan kembali".


Gibran mencium pipi abinya.


" oma Gibran keluar sebentar."Gibran lalu berlari ke luar.


Gibran ingin menangis tapi di tahan karena dia tidak mau menangis di hadapan orang tuanya dan oma.


...----------------...


Di tempat lain Vanessa sedang tertawa karena akhirnya dia bisa menghabisi mereka berdua.


" Tenanglah Peter kamu tidak usah khawatir semua akan baik-baik saja. selama kamu tidak buka mulut, tak kan ada yang tahu." Vanessa meyakinkan Peter.


"Vanes lebih baik kamu menyerahkan diri, dan meminta maaf pada keluarga Adelard." bujuk Peter.


" kamu gila Peter, kamu kenapa? mana Peter yang akan selau melindungi aku ?" kata Vanessa.


" Karena aku sadar kita salah , mereka tidak bersalah dan aku tidak mau menjadi pembunuh. Jangan temui aku lagi aku tidak mau membantumu dan aku tidak perduli apa yang akan terjadi padamu." Kata Peter lalu pergi.


" Terserah , aku tidak butuh kau, tapi aku peringatkan jika kau buka mulut dan mengadu pada polisi , maka aku akan sebut namamu." ancam Vanessa.


...----------------...


Di Rumah sakit tepatnya di ruang rawat Sam dan Milla.


"Gibran sudah makan ?" tanya oma Anggun.


"sudah oma , " jawab Gibran.


" Oma boleh Gibran minta tolong?"


" tolong apa sayang, ?" tanya oma Sam


" Bisa Gibran minta bawain hp Gibran yang ketinggalan di kamar dan laptop Gibran di atas nakas."


tanya Gibran.


" tentu saja boleh sayang, nanti King akan bawain ,sekalian jemput oma." jawab oma Samantha.


" Terima kasih oma." kata Gibran senang.


"

__ADS_1


.


"


__ADS_2