Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Bab 80


__ADS_3

Gibran rasanya ingin bangun mendengar tawa mereka , ada rasa kesal tapi juga lucu. Ia melihat dalam pikiran mereka bagaimana posisi Feli


Kesal karena mereka harusnya menolong Feli bukan menertawakannya , kasian Feli dia pasti malu. Tapi Gibran kuga tak bisa menahan senyum , ia tak habis pikir bagaimana bisa seperti itu .


Max, Alvin dan twins, masuk ke dalam kamar mandi . Masih terdengar sisa tawa mereka, mereka membantu Feli untuk bangun.


" Fel, lo ngapain ?" Alvin bertanya sambil mencoba membantu feli bangun.


" Fel ..?" Tidak ada jawaban


" Feli..ayo bangun !" Alvin mengulanginya lagi.


" Busyet.. nih orang pingsan kali ya." Alvin sedikit cemas sekarang .


" Gimana ceritanya dia bisa nyungsep di sini ?" tanya Max


Semua kembali terkekeh. Bagaimana tidak lucu. Posisi Feli dalam keadaan telungkup, kaki Feli berada di dalam bathtub, namun posisi kepala berada di luar. Hp Gibran lebih mengenaskan berada di dakam kloset. Makanan bertebaran di lantai. Botol minum jatuh seperti tergelinding sampai bawah pintu.


Feli belum juga bangun , Gibran menjadi khawatir. Ia tidak perduli tentang ponselnya. Tapi Feli yang belum juga bangun.


" Max bawa Feli ke sini !" Teriak Gibran pada Max.


Max segera mengangkat Feli yang telungkup dengan membalikkan badan Feli terlebih dulu, Alvin membantunya.


Untungnya Feli memakai celana panjang bukan celana pendek atau rok.


Max menggendong Feli yang masih belum membuka matanya ala bridal style. Gibran sebenarnya tidak rela, namun ini keadaan mendesak sedangkan ia sendiri tidak bisa bangun. Max meletakkan Feli di tempat tempat tidur untuk penunggu pasien.


Alinski mendekati Feli.


" Fel, apa benar kamu pingsan ?"


" Wah..iya sepertinya dia pingsan , panggil dokter !" ucap Max.


Sementara Gibran ia bernafas lega karena Feli ternyata hanya pura - pura pingsan.


" Aku sudah pencet tombol !"


" Tidak !.. aku tidak apa-apa, lihat aku bisa berdiri. Cuma kepalaku agak sakit dan sedikit malu !"


" Hahaha, kamu itu kenapa bisa nyungsep begitu Feli ?" tanya Aston.


" Di sofa kan sempit , kakiku pegel jadi aku pindah ke dalam bathtub , tapi aku ingin buang air kecil , karena licin saat ingin melangkah aku malah terpeleset, tangan kiriku sedang memegang botol dan tangan kanan memegang ponsel jadi tidak bisa menahan atau berpegangan. Aku pasrah saja ,


"kak Gibran maaf ponsel kakak masuk kloset." Feli menyesal.


"Gak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja ." ucap Gibran lembut pada Feli.


" Alvin tolong ambilkan ponselku dan keringkan !" titah Gibran tegas.


" Kenapa aku ?" tanya Alvin.

__ADS_1


" Karena kau yang paling kencang menertawakan Feli."


" Mereka juga tertawa !" tunjuk Alvin pada twins dan Max.


Ah..kenapa dia harus terjebak dengan para remaja ini, lebih baik dia ke markas dan bekerja saja, pikir Alinski.


" Uncle pulang saja , kalian nanti laporkan pada uncle di mana markasnya dan bagaimana situasinya, Uncle mau ke markas dulu !"


" Iya uncle, terima kasih. " ucap Gibran.


" Kalian baik-baik saja di sini. Jangan keluar dan bertindak sendiri tanpa ijin dari ku , berbahaya."


" Iya uncle kami mengerti " Max yang menanggapi.


Alinski keluar dan meminta kepada bodyguard untuk menjaga mereka.


"Kalian harus wapada jangan biarkan ada yang masuk, walaupun suster atau dokter, sebelum masuk harus foto wajah mereka dulu .cek apa yang mereka bawa !"


" Baik , tuan !" jawab para Bodyguard. Alinski pun berlalu pergi.


Alinski bertemu dengan Milla di bawah. Milla tersenyum padanya.


" Milla memang cantik dan baik , beruntung Sam mendapatkan Milla. Berilah aku pendamping yang seperti Milla Tuhan . Batin Alinski.


" Hai Al.. sudah mau pulang ?"


" Iya.. Kau baru mengantar Sam ?"


" Aku mengerti kenapa dia minta diantar , dia pasti tidak mau kehilangan momen bersamamu , sangat berat untuknya jauh darimu . Dia itu sudah bucin akut !"


" Hahaha .. kamu bisa saja Al, ya sudah aku ke dalam dulu yah. Sudah terlalu lama aku meninggalkan anak-anak ." Mila tertawa kecil.


" Iya Mil..silahkan , hati-hati jangan terima sembarang tamu ya ."


" Iya ..terima kasih, bye Al ." Milla beranjak ke arah lift.


" Bye, Mil. Sudah terlalu lama aku sendiri !" Gumam Al.


" aish.. mikir apa aku ini ." Al berbalik badan dan bergegas pergi.


Ceklek...


Milla membuka pintu ,dilihatnya Feli sedang tiduran di tempat tidur sambil membaca novel. Aston dan Adam sedang melihat laptop. Gibran sedang termenung padahal sesungguhnya dia sedang konsentrasi melihat gambar di layar laptop lewat pikiran Aston .


Max sedang mencatat hal penting yang dilihatnya di laptop.


Sedangkan alvin , dia sedang mengeringkan ponsel Gibran dengan hair dryer Feli. Sambil menahan mualnya, mengingat tadi ia mengambil ponsel Gibran dalam kloset. Ia juga membersihkan ponsel Gibran dengan 1 pak besar tisu basah, kapas yang di siram alkohol sampai alkoholnya habis setengah botol kecil. Itu semua tentu atas komando Gibran.


" Maaf ya tadi abi memaksa umi mengantarnya ke bandara. Ini umi bawakan kalian Serabi hangat rasanya enak, juga ada kupat tahu. ayo dimakan !"


" Umi gibran mau !" Milla tersenyum melihat Gibran.

__ADS_1


" Kasihan anak umi, nih.. buat kamu . Sebentar umi pindahkan dulu ke piring ya !" Gibran semangat menganggukan kepala.


Feli tersenyum melihat Gibran yang bersikap seperti anak kecil, sangat menggemaskan. Ternyata Gibran sangat manja pada ibunya.


" Umi nanti biar Feli yang nyuapin kak Gibran ya ."


" Iya sayang !" ucap umi.


Gibran tak perduli siapa yang menyuapinya yang penting dia bisa makan yang lain selain makanan dari rumah sakit. Lidahnya sudah merindukan aneka banyak rasa bukan hanya rasa garam.


Feli segera mendekat pada Gibran. Setelah melihat umi selesai memindahkan makanan pada piring.


" Kak Gib, Feli suapin ya !" Gibran mengangguk .


" Aa..Banyakin kupatnya !" Gibran membuka mulutnya .


" Bagaimana enak?"


" Enak banget..sini kamu juga makan !" Gibran mengambil sendok yang dipegang Feli dan menyendokkan kupatnya.


"Aa..ayo buka mulutmu !" Feli membuka mulutnya ..


" Hm..enak kak ."


" Kau sudah tahu jawaban pertanyaan mu tadi !"


" Tinggal jawab aja enak , ribet banget Gib !" Celetuk Alvin.


" Percuma kalau bilang enak doang, karena masalah rasa itu tidak bisa diungkapkan harus dirasakan. Enak buat kita belum tentu buat dia. "


" Iya Khalil Gibran. " sindir Alvin.


" Kak Gib, apakah aku harus mengirimkan gambar ini pada Uncle Al.., agar uncle bisa menyiapkan segala sesuatunya untuk menyer....aw , kenapa di injek kakiku ?"


Aston menatap Adam dan Aston menyadari kesalahannya . Adam telah memperingatinya dalam telepatinya ada umi di sini .


" Kalian sedang apa sibuk sekali ?"


" Tidak umi ?"


" Kalian tidak bisa membohongi umi. " Milla tersenyum.


" Katakan siapa tahu umi bisa membantu !"


Mereka saling tatap.


" Umi..umi tenang saja , semua baik-baik saja. Kami sedang belajar menyelesaikan suatu masalah , dan kami tidak ingin melibatkan umi . Nanti kalau kami butuh bantuan umi, kami akan memintanya pada umi. Kami hanya minta do'a umi . "


" Kalian sudah dewasa, umi bangga pada kalian , do'a umi tentu akan selalu umi panjatkan untuk kalian semua. Kalian harus berjanji akan selalu hati-hati dan waspada. Lingkungan kita ini rentan dan banyak yang ingin menghancurkan kita , kalian terpaksa harus bisa menjaga diri sendiri, karena tidak setiap saat kami ada bersama kalian. Jadi kami hanya bisa bekali kalian dengan ilmu dan keahlian untuk membela diri dan mengatasi masalah , ditambah Alhamdulillah kalian dianugerahi kelebihan oleh Allah. Jadi umi percaya pada kalian ,Insyaallah kalian mampu ."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2