
Sudah seminggu Meta pergi. Max menjadi pendiam semenjak kepergiannya. Jeni mencari Meta tapi Meta tidak ada, bahkan di sekitar Gank Angker juga tidak ada.
Kemana Meta pergi? Mungkin Meta sudah putus dengan Max dan pindah sekolah karena takut dengannya. Baguslah pikir Jeni, berarti ini kesempatan untuknya mendekati mereka.
Ketika istirahat, Jeni mendekat ke meja Gank Angker, "Hai boleh gabung di sini?" Tidak ada yang menjawab.
"Kak Max, Meta ke mana ya?" Max hanya melirik Jeni lalu pergi.
"Kau seperti jalangkung saja, selalu datang tanpa di undang!" sindir Alvin dan ikut pergi menyusul Max. Yang lain pun ikut menyusul, kecuali Gibran karena sedang menelepon Feli.
Jeni melotot melihat Alvin yang berlalu "Apa? Jalangkung? Hello ... gue cantik begini di bilang jalangkung!" gerutunya.
Jeni melihat Gibran yang masih duduk di sana dan sedang menelepon. Dia lalu mendekat pada Gibran. Sementara Gibran begitu merasakan ada aura horor dia langsung melihat Jeni dan pergi meninggalkannya.
"Ish, kenapa sih malah pada pergi? Susah banget deketin mereka, mau ada Meta atau gak, tetap gak ngaruh!" gerutunya.
...***...
Saat ini Gank Angker sudah berada di rumah. Tiba-tiba ponsel Max berdering. Dilihatnya oleh Max dan tertera tulisan Meta❤, Max langsung mengangkatnya.
Dia berbicara serius dengan lawan bicaranya di telepon. Semua memperhatikan Max. Adam dapat mendengar semuanya. Gibran dapat mengetahuinya dari pikiran Max.
__ADS_1
Max menutup teleponnya dan menatap sahabat-sahabatnya. "Kalian pasti sudah tahu masalahnya, tanpa aku cerita!" ucap Max, dia yakin sekali.
"Aku belum," sanggah Aston.
"Aku juga!" Saut Alvin.
"Itu Kak Aksara, dia memberikan syarat pada Max kalau mau Meta kembali." Gibran yang menceritakannya.
"Apa? Kok gitu?" tanya Aston.
"Karena menurut Kak Aksa jika syaratnya tidak dipenuhi, keadaan tidak akan aman untuk Meta." Adam memberi tahu alasannya.
"Syaratnya adalah harus bisa memasukkan keluarga tantenya ke penjara atas tuduhan pembunuhan kepada orang tua Meta dan Aksa. Kalau mereka masih bebas Meta tidak akan kembali ke Indonesia, karena Kak Aksa takut Meta akan di celakai mereka." Max akhirnya bicara.
"Kasusnya sudah lama 13 tahun yang lalu, apa masih bisa di usut dan di tuntut?"
"Masih! Karena kita baru tahu, masa kadaluwarsa pengaduan itu 6 bulan setelah pelapor mengetahui adanya tindak kejahatan. Kita baru tahu kejadian itu semoga masih bisa di tuntut." Gibran menjawab pertanyaan Adam.
"Walaupun bisa, buktinya sudah hilang, mobil yang di sabotase, saksi, juga yang lainnya pasti sudah tidak bisa menjadi bukti." Alvin memberi pendapat.
"Ada! Bukti yang paling kuat dan akurat, yaitu pengakuan dari pelaku itu sendiri." Gibran menatap mereka semua.
__ADS_1
"Bagaimana kita membuat mereka mengaku?" tanya Aston.
Bukannya menjawab mereka semua justru menatap Aston. Aston yang ditatap mereka menunggu jawabannya.
"Apa?" tanyanya lagi, karena mereka tidak menjawabnya justru terus menatapnya.
"Jangan bilang ... gak, aku gak mau ya!" Aston sudah bisa menduga apa yang mereka pikirkan dari tatapan mereka.
"Ayolah cuma kamu yang bisa bersandiwara." Adam merayu adiknya.
"Aku merasa terhina ya bukan tersanjung, kalian puji."
"Kami tidak memujimu. Kami mengatakan yang sebenarnya," ucap Alvin. Aston masih diam.
"Ayolah Ax, cuma kamu harapan kami. Demi Max dan Meta." tambah Alvin.
Aston melihat Max, akhirnya dia menghela nafas dan setuju dengan renacana mereka.
Aston harus mendekati Jeni dan berusaha dekat juga dengan keluarga Jeni. Menurut Aston ini adalah tugas yang berat.
...----------------...
__ADS_1