
Dua hari berlalu dari perjanjian kerja sama itu. Hari ini sekretaris Jonthan menelepon sekretaris Gibran untuk menjadwalkan janji temu atasan mereka. Max sudah menelepon Meta dan Aksa, mereka langsung terbang ke Indonesia katena Gibran menyuruh mereka segera datang untuk mengambil alih perusahaan orang tua Meta.
Semalam Meta sudah datang ke Indonesia. Hari ini mereka akan ke kantor Jonathan sepulang sekolah. Mereka sudah menyerahkan sekua bukti kejahatan Jonathan bersama istrinya.
"Max, ayo berangkat! Sudah telepon Meta? Kita bertemu di sana," ucap Gibran. Max mengangguk dan memberi pesan pada Meta bahwa mereka sekarang akan berangkat ke kantor Meta.
"Sudah yuk, Meta akan jalan sekarang," jawab Max.
Gank Angker pun berangkat, dengan di kawal bodyguard juga ada beberapa polisi yang ikut. Namun polisi-polisi itu nanti akan keluar setelah Gibran memberi kode. Perjalanan yang mereka tempuh terasa lama, Max sudah tidak sabar ingin segera melihat Jonathan dan keluarganya membayar segala perbuatannya.
Mobil Gibran sampai lebih dulu, sekitar tujuh menit kemudian datanglah mobil Aksa. Mereka semua keluar dari mobil. Saat mereka sedang memasuki lobi, Jeni dan Andrew baru keluar dari lift. Mereka lalu melihat ada Gank Angker, Jeni tersenyum melihatnya.
Papahnya sudah bilang bahwa Gibran akan datang untuk membahas kerja sama mereka. Namun, senyum Jeni menghilang saat dia melihat ada Meta di belakang Gibran, bersama Max dan seorang pria yang cukup tampan.
Sedangkan Andrew sudah mempunyai feeling karena ini adalah untuk rapat kerja sama antar perusahaan Nathan dan Gibran. Namun, kenapa yang datang banyak sekali? Buat apa juga ada Meta? Mereka akhirnya saling bertatap muka. Dengan posisi Gibran, Alvin dan Adam paling depan berhadapan dengan Jeni dan Aksa.
"Wah, rupanya ada yang datang bergerombol!" Sapa Andrew namun, menyiratkan sindiran. Max tersenyum miring.
__ADS_1
"Ayo kita lanjut saja, buat apa bicara pada orang yang tidak penting!" ucap Max menekankan kata tidak penting. Semua melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam lift.
Wajah Andrew langsung berubah marah, dia mengepalkan tangannya. "Beraninya, kau!" gumamnya.
"Sudahlah Andrew, ayo! Apakah kita jadi pergi atau tidak?" tanya Jeni.
"Tidak jadi! Kau tidak lihat mereka masuk ke dalam.? Apa kau tidak berpikir dan curiga kalau mereka telah merencanakan sesuatu? Apa lagi ada Meta bersama mereka. Kau tidak ingin menyusul ke atas?"
"Buat apa? Mereka ingin bekerja sama dengan Papah, masalah rame-rame itu sudah biasa. Mereka memang selalu bersama-sama kemana-mana." Jeni tidak mengeri akan kecemasan Andrew.
"Nah itu! Ayo kita ke atas!" Andrew menarik Jeni masuk ke dalam.
Saat mereka sampai, terdengar suara teriakan dari ruangan rapat. Semua petinggi perusahaan ada di dalam ruangan itu karena ini adalah rapat kerja sama penting. Jeni dan Andrew bergegas menuju ruangan rapat.
"Apa kau gila? Tidak mungkin Aksara masih hidup? Dia sudah mati!"
"Aku Aksara! Aku memang mungkin sudah mati jika tidak ada orang tua angkatku yang menolongku."
__ADS_1
"Tidak, jangan percaya dia! Kita lakukan tes DNA saja supaya semua terbukti dan yakin." Jonathan mencoba berkilah, hatinya sendiri sedang ketar ketir. "Mungkinkah dia Aksara?" tanyanya dalam hati.
"Tidak perlu repot. Ini aku sudah membawa surat hasil DNA dari rumah sakit, kalau kau tidak percaya kita bisa lakukan ulang." Aksara menyerahkan surat hasil pemeriksaan DNA.
"Untuk apa? Kau bukan Aksara. Buang-buang waktu saja melakukan tes DNA." Datang Andrew bersama Jeni.
"Betul Drew, Dia bukan Aksara untuk apa tes DNA." Jonathan setuju dengan Andrew.
"Biar pengadilan yang memutuskan, perlu tidaknya tes DNA!" Suara Max tegas.
"Buat apa pengadilan?" tanya Jeni.
"Karena aku menuntut hakku sebagai ahli waris sah perusahaan ini." Meta bersuara.
"Apa?" tanya Jeni terkejut.
...----------------...
__ADS_1