
Gibran menutup teleponnya, ia segera beralih pada laptopnya . Aston sudah mengambil laptop yang lain ia juga sedang mengetik.
Max dan Alvin hanya mengawasi. Feli memperhatikan Gibran yang sedang mengetik, Gibran terlihat pintar dan berkarisma semakin tampan. Ia bahkan tidak berkedip, terpesona oleh Gibran.
" Aku memang tampan , tapi jangan kau perhatikan terus, aku sedang ada pekerjaan penting. Jadi jangan membuatku gemas ingin menyubitmu !"
" Ih..kak Gib, emang Feli ngapain ? masa ngeliatin doang gak boleh !"
" Fel, Gibran itu salting di liatin sama kamu !" Alvin tertawa. Feli justru tersenyum lebar. Ia bertambah ingin menggoda Gibran tapi mengingat sekarang Gibran ada kerjaan penting, Feli mengurungkan niatnya.
" Baiklah saat ini kakak beruntung, karena ada pekerjaan penting, lain kali Feli tidak akan lepaskan kakak !" Feli pergi duduk di sofa menonton tv.
Gibran tersenyum mendengar Feli.
" Halo uncle..di ujung ada satu ruangan lagi !" Gibran tersambung dengan Al dan melihat mereka di laptop.
Al dan anak buahnya masuk ke dalam ruangan yang di ujung di sana ada bapak-bapak dan seorang wanita. Anak buah Al membawa mereka ke luar. Mulanya mereka ketakutan tapi mendengar mereka dibebaskan mereka sangat senang. Semua yang di tawan di bawa ke luar ke tempat aman ..mereka di periksa tim medis dan di data.
Mereka juga diinteogasi kenapa mereka di tawan dan minta kesediaan mereka untuk bersaksi di pengadilan.
Anak buah Bordeux tak berkutik di bawah ancaman senjata api. Tapi sang ketua melarikan diri.
Ia kabur ke arah lorong, Gibran sudah memperkirakan hal ini, bahkan Daniel pun ada di sana .Sebenarnya ia merasa kasihan pada Daniel yang mempunyai adik-adik yang harus dinafkahinya jika ia mau menyerahkan diri dengan baik, ia janji akan mengurus keluarga Daniel dan membiayai sekolah mereka, selama Daniel di penjara.
Gibran berusaha berbicara pada uncle Al agar bisa membawa Wira ( Daniel ) padanya.
Al beserta anak buahnya mengejar mereka ke lorong . Mereka terpojok karena pintu keluar sudah dikunci.
" Berhenti , uncle jangan masuk !"
"Ok..!"
"Hei Bordeux..mau lari ke mana?"
" Ok..gue nyerah ..sini tangkep gue !" Al menghentikan anak buahnya yang ingin masuk menangkap Bordeux .
"Wira apa itu namamu ? mungkin kau berbohong , seperti kau bilang dia Antrax !" Al menodongkan senjata pada Wira.
" Kau berani membohongiku dan kau pasti menertawakanku karena bisa kau bohongi !!!"
Al membuka kunci pada pistolnya ia tinggal menembakkan saja.
" Jangan ..kalau gue jadi elo, gue bakal siksa dia dulu sebelum gue tembak !"
" Tak perlu kau ajari aku...sini kau...ayo sini..atau ku tembak !" Perintah Al pada Wira ( Daniel.)
__ADS_1
" Kau pergi sana..!" perintah Bordeux.
Daniel berjalan ke arah Al.. anak buah Al langsung menborgolnya dan membawa pergi untuk menemui Gibran.
" Dia sudah kau tangkap, kemarilah tangkap aku !" Bordeux memancingnya agar Al masuk.
" Aku bukan peliharaanmu yang datang ketika kau panggil. tapi sebaliknya kau kah yang datang ke sini !"
Bordeux terkekeh mengejek. Sementara Al menyalakan rokok..sebenarnya dia sudah berhenti..ia hanya menyalakan saja untuk mengintimidasi Bordeux.
Bordeux merasa was-was melihat Alinski menyalakan rokok. Ia bingung siapa pria ini? datang -datang menyerbu mereka , rasanya ia tak pernah ada urusan dengannya.
" Kau dan anak buahmu benar tak mau kemari ?"
Alinski menyentuh sesuatu di telinganya, rupanya ia memakai earphone.
" Baiklah bila kau tak mau ..tak masalah !" Tembok di hadapan Alinski yang sebenarnya adalah baja itu bergeser perlahan .
Tentu saja Bordeux terkejut mengapa tembok itu bergeser bukankah remotenya ada padanya.
Ia merogoh kantongnya lalu ia mengeluarkan sesuatu dan melihatnya.
" Kau bingung kenapa aku , bisa menutupnya..it's magic..( ini sulap ) . Al tersenyum.
" Kalian masih punya waktu untuk kemari, sebelum pintu ini tertutup rapat !"
" Karena kau mencelakai anakku, Gibran !"
" Ah..kini aku mengerti jadi ini karena Gibran. Tapi yang membuat lift nya jatuh bukan kami tapi orang yang sama memiliki kepentingan seperti kami !"
Pintu semakin tipis Al tersenyum , Ia melambaikan tangan pada Bordeux.
" Don't blame me.. it's your choice !" [ Jangan salahkan aku ..ini pilihanmu ]
Sedikit lagi sebelum pintu tertutup rapat, Al melemparkan rokoknya ke dalam .
Bordeux dan anak buahnya terkejut mereka pikir, mereka hanya akan terkurung di sini . Tapi rupanya mereka juga terpanggang. Rupanya Al mengetahuinya.. pantas ia tak ingin masuk ! Pikir Bordeux sebelum tempat itu meledak .
Al dan anak buahnya segera pergi.
Mobil Al dan satu mobil dibelakangnya pergi ke arah rumah sakit. beberapa mobil yang lain menuju kantor polisi.
Gibran sudah mengirim ke kantor polisi via email bukti-bukti kejahatan mereka, rekaman video penyiksaan dsb.
Al naik ke kamar Gibran bersama Daniel yang diborgol dibalik jaket.
__ADS_1
" Uncle..terima kasih uncle bawa dia ke mari, terima kasih juga sudah membasmi Bordeux."
" sama-sama ." Al lalu ke kulkas dan mengambil minuman dingin.
Gibran menatap Daniel.
" Om Daniel..aku punya kesepakatan , bagaimana mau dengar?"
" Darimana lo tahu nama gue ?"
" Cara mudah untuk ku mengetahui identitas seseorang, bahkan ke 3 adikmu !"
" Apa ??? jangan sentuh mereka !" Aku tak pernah pulang agar tak ada yang tahu aku punya adik , agar tak ada yang menyentuh mereka, tapi dia bisa mengetahuinya !" batin Daniel
" Aku menyentuh mereka bukan untuk melukai, aku tahu kau bekerja demi mereka, Rasa sayangmu pada adik-adikmu menandakan kau sebenarnya orang baik. Hanya jalanmu yang salah. Maka cukup kembali ke jalan yang bener. Serahkan dirimu, bertanggung jawablah atas yang kau lakukan dan aku akan menjaga mereka. Aku akan membiayai sekolah dan hidup mereka sampai mereka mapan . Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka. Jalani hukumanmu dengan tenang !"
Daniel terdiam, ia kaburpun percuma, jika ia menolak ia akan tetap tertangkap dan adiknya terancam putus sekolah.
Lebih baik ia menerimanya agar adiknya terjamin dan mendapat rizki yang halal.
Ia akan tenang menerima hukumannya. Mungkin ini sudah rencana Tuhan yang terbaik untuknya. Ia bersyukur adik-adiknya tidak terlantar ..
" Baiklah aku setuju, aku akan menyerahkan diri, asal kau berjanji menjamin hidup mereka."
" Kau salah paham dengan maksudku . Ini bukan perjanjian jika kau menyerahkan diri aku menjaga mereka dan jika tidak maka akupun tidak akan menjaga mereka, bukan begitu om . Tapi aku memberi tahu padamu lebih baik kau menyerahkan diri, mau atau tidak..aku akan tetap membiayai sekolah mereka . Aku hanya tidak ingin om semakin menyesal dan tidak bisa bersama mereka karena takut membahayakan mereka. Jika mereka sangat berharga dan om juga rindu temui mereka dampingi. Kehadiran om lah yang mereka butuhkan !"
Tiba-tiba datang 3 orang langsung memeluk Daniel.
" Abang..abang...Rara kangen, abang gak pulang- pulang !" Rara memeluk Daniel . Gadis berumur 6 tahun itu menangis.
" Abang jahat cuma ngirim uang sama paket doang ...kita nunggu abang bukan cuma uangnya. kita gak punya orang tua kenapa abang juga pergi !" Sulis memukul dada Daneil lalu memeluknya .
" Abang... abang tahu sulitnya kita tanpa abang walau kita berkecukupan tanpa abang tidak ada artinya, dulu abang selalu bersama kami, mengajari kami, memberi kami semangat..abang lah panutan kami. kami sayang abang..kami rindu...!" pemuda itu menghapus air matanya.
Mereka bertiga memeluk abang yang mereka rindukan .
" Bang Dan ..lihat boneka dari bang Dan selalu Rara bawa selalu temenin Rara bobo , boneka ini obat rindu Rara pada abang !"
Daniel menangis , Al menyuruh anak buahnya melepaskan borgolnya.
Daniel langsung memeluk mereka dan mencurahkan segala kerinduan yang tertahan.
Gibran membiarkan mereka melepas rindu.. Ia pun merindukan 3G . Ia ingin pulang .
Gibran berharap Daniel bisa berubah menjadi lebih baik , Ia akan membuat adik-adik Daniel menjadi sukses agar dapat membanggakan kakaknya.
__ADS_1
...----------------...