Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Bab 32


__ADS_3

"Aku akan tidur di kamar Gibran malam ini, kau istirahatlah tenangkan dirimu agar kau dapat berpikir jernih dan mengambil keputusan tanpa keraguan, aku tak mau meneruskan hubungan ini dengan keraguan , karena ragu itu yang akan memakan keyakinanmu dan menjerumuskanmu.!" Milla kalu pergi ke kamar Gibran.


" ****, kenapa gue begini, bemarkah yang Milla bilang, kalo gue ada clbk ama dia dan sebenarnya gue suka deket ama dia?" Sam bertanta oada dirinya sendiri sebenarnya apa yang dia rasakan.


Tapi memang dia akui, dia senang ketika bersama Clarissa, hatinya berbunga-bunga ketika Claris mengec***nya, dan saat Claris menc***nya , dia sempat terlena tapi dia teringat anak-anaknya lalu menghentikan Claris dan pergi, Milla benar dia tak bisa marah pada Claris karena dia juga menikmatinya dan menginginkannya.


Dia merasa bersalah tapi bukan pada Milla melainkan pada Gibran dan calon anak-anaknya.


Milla benar dia meragukan perasaannya pada Milla karena masih ada cinta lain yang sudah lebih dulu menempati hatinya.


Jika perasaan ini masih ada , tak mungkin dia menjalani pernikahan ini, lagi-lagi Milla benar sakit jika mencintai tak bisa memiliki, Sam juga ingin bersama orang yang dicintainya dan dia ingin bersama Clarissa, tapi bagaimana dengan anak-anak, akankah mereka mengerti perasaannya yang ingin bahagia bersama orang yang di cintainya, seperti Milla yang mengerti keadaannya dan bersedia melepasnya.


Sam kalut dengan perasaannya jika saja dia tak memikirkan anak-anaknya dia pasti sudah memilih Clarissa.


Sam tak mau anaknya membencinya, bagaimana ini. Sam tak dapat tidur, memikirkan semua akibatnya jika dia memutuskan sesuai keinginannya. Sam yakin Milla adalah ibu yang baik dia tidak mungkin mempengaruhi hal yang buruk pada anaknya, dan juga tidak akan membiarkan mereka membencinya Sam yakin Milla pun tak akan menghalanginya untuk bertemu mereka.


Satu kali lagi, biarlah satu kali lagi dia ingin merangkai cintanya dengan pujaan hati yang dulu sempat terhalang oleh restu dan keyakinan kini tak ada penghalang lagi dia bisa merenda cintanya. Milla dan Gibran adalah orang yang baik mereka pasti akan memaafkannya dan mengerti dirinya. Karena bila dia bertahan dengan Milla pun semua tak akan lagi sama tak ada kehangatan dan cinta hanya rasa tanggung jawab sebagai suami dan ayah, kasihan Milla dia berhak bahagia dan itu bukan bersamanya.


Sam tak mau hidup dalam kepalsuan , dia akan mengatakan pada Milla besok keputusannya.


Sementara di kamar Gibran,dia terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka, Ginran trrmasuk orang yang sensitif dia akan mudah terbangun bila ada suara atau perubahan cahaya.


Gibran membuka matanya dan ternyata uminya yang masuk, Gibran melihat jam dinding sudah jam setengah 12, ada apa uminya ke sini malam-malam, Sam mencoba konsentrasi dan membaca pikiran uminya dan dia mendengar kegalauan uminya juga dia melihat sebuah foto, foto abinya bersama wanita, oh abi..ternyata abinya masih nerhubingan dengan wanita itu, Gibran sebenarnya tahu , dia bisa membaca pikiran abinya dan abinya sering kali memikirkan wanita itu, Gibran mengabaikannya karena pikirnya yang penting abi masih bersamanya dan uminya, Gibran masih ingin merasakan kebersamaan mereka dan kasih sayang abinya setelah 6 tahun tak pernah tahu abinya, dia juga senang tinggal di sini ada oma dan opa mamah dan papah juga si kembar dan teman -teman baru hidupnya di sini ramai oleh karena itu dia mendiamkan sikap abinya dan memberi waktu semoga abinya cepat sadar , tapi ternyata dia salah lagi-lagi inilah yang terjadi kalau dia membiarkan yang salah , uminya yang akan sakit hati sudah cukup waktu yang diberikan .


Gibran tak akan membiarkan siapapun menyakiti uminya walaupun itu abinya sendiri, Silahkan abi jika ingin bersama waniya itu, Gibran akan seperti umi akan melepaskan abi , dan membawa umi pergi bersama adik-adiknya.


Maafkan Gibran umi, karena keegoisan Gibran yang ingin bersama abi membuat umi menderita, maafkan Gibran umi.


Gibran mendengar uminya menangis tertahan, uminya pasti tak ingin Gibran mendengar dan mengetahui kesedihannya.


Gibran mengepalkan tangannya, dan menitikkan air mata, ini salahnya yang ingin bersama abi sehingga membujuk umi menikahi abi. Gibranpun menangis tertahan ia menutup mulutnya dengan selimut agar umi tidak mendengar tangisnya.


...----------------...

__ADS_1


Suara burung dan silau matahari membangunkannya, mata kecil itu terbuka dan Gibran melihat sebelahnya tak ada uminya, Gibran melihat sekeliling kamarnya tak ada siapapun, mungkin uminya sudah turun ke bawah, hari ini sekolah libur.


Gibran bergegas turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi, setelah dia rapi berpakaian dia mengambil semua surat pentingnya dan memasukkan ke dalam tas, Gibran juga membawa baju bajunya tidak semua dia bawa, tidak lupa foto umi dan gadgetnya, dia tak membawa foto abinya biarlah semua tentang abi ditinggalkan di sini dia ingin memulai hidup baru dengan umi.


Semua barang yang sudah di rapihkan di simpannya di kolong kasur, dia lalu keluar tak lupa membawa handphone nya untuk menghubungi seseorang.


Gibran pergi menuju ke ruang makan, di sana uminya sedang memasak , mata Gibran berkaca-kaca melihat uminya yang tangguh bisa menyembunyikan kesedihannya di depan semua orang.


" Hai sayang, selamat pagi .. wah anak umi sudah tampan , sebentar ya, sarapan akan segera siap . Umi kangen masak jadi umi minta sama chef biar kali ini umi yang bikin sarapan untuk semua di bantu sama chef," Milla mengatakannya dengan wajah ceria tapi Gibran tahu itu hanya topeng, ini adalah masakan pertama dan terakhir uminya sebagai bentuk perpisahan untuk keluarga ini.


" Pagi juga umi, Gibran juga rindu masakan umi !".Gibran berusah ceria.


" Tolong panggil yang lain untuk ikut sarapan ya dan juga panggil abi !" suruh Milla.


" Iya umi !" Sebenarnya dia malas bicara dengan abinya tapi dia tidak ingin menentang perkataan uminya.


Gibran memanggil mereka, kebetulan mereka sedang berada di ruang keluarga tapi Gibran tak melihat abinya , dia mencari ke kamar tapi tidak ada, lalu mencarinya lagi ke taman samping dan abinya ada di situ ternyata sedang menelepon dan wanita itulah yang di telepon abinya.


" Lihat aja pelakor apa yang akan aku lakukan padamu , aku akan membuatmu menderita tanpa jejak!" guman Gibran pelan.


Sam menutup teleponnya dan pergi menyusul Gibran.


Gibran langsung duduk dekat uminya begitu sampai di ruang makan.


" Umi mau apa biar Gibran ambilkan ?" tanya Gibran penuh perhatian.


Milla tersenyum


" Anak umi perhatian banget, makasih ya. Umi mau sayur sop sama perkedel kentang." Milla menerima piring yang disodorkan Gibran berisi makanan yang disebutkannya.


Gibran lalu mengambil yntuk dirinya sendiri.


mereka belum mulai makan menunggu semua selesai mengambil makanannya lalu berdo'a .

__ADS_1


" Umi makan yang banyak ya buat adik-adik Gibran !" Gibran lalu mengusap perut uminya.


Milla menghentikan makannya dan meneteskan air matanya.


" Ah..sayang, liat umi jadi nangis terharu sama perhatian kamu." kata Milla sambil menghapus air mata nya di pipi.


Semua memperhatikan interaksi ibu dan anak itu, begitu manis dan terlihat betapa Gibran menyayangi uminya.


" Twins lihat bagaimana Gibran sama uminya kalian kapan begitu sama mamah ?" Julia menanyakan pada si kembar.


" Mah setiap orang berbeda cara mengekspresikan kasih sayangnya, apakah mamah gak merasakan kasih sayang kami?" protes si kembar.


" Kasih sayang apaan yang bikin lelah hati pikiran dan fisik." Gumam Julia.


" Ya itu kasih sayang kami agar mamah sehat berolahraga dan merasa hidup tidak sepi dan monoton ." Julia yang mendengar itu langsung tertawa.


" Kalian pintar sekali ngeles , ada-ada saja." kata Julia.


" Ya benar tante setiap orang berbeda mengekspresikan kasih sayangnya bahkan ada yang tidak tahu cara mengekpresikannya dan salah menebak perasaannya sendiri." kata Gibran sambil tersenyum tapi King melihat ada yang berbeda dari senyumnya dan kenapa Gibran memanggil tante pada istrinya biasanya mamah. Perasaan King mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


Ternyata bukan hanya King yang merasakan aura berbeda pada Gibran tapi Julia dan Calvin, bahkan si kembar.


" Kak Gibran sekarang kan libur gimana kalau kita jalan - Jalan ?" ajak si kembar.


Kebetulan pikir Gibran


" Boleh tapi kakak mau main ke tempat Maxwell , kalian mau ikut ?" tanya Gibran .


" Boleh kak sepertinya menyenangkan." jawab mereka.


" Baguslah !" kata Gibran dan tersenyum.


King melihat ada sesuatu dengan senyum itu. Apa yang direncanakan iblis cilik ini. Semoga semua baik-baik saja .

__ADS_1


...*********...


__ADS_2