Gibran Si Genius Yang Tersembunyi

Gibran Si Genius Yang Tersembunyi
Mendapatkan Bukti.


__ADS_3

Di kediaman Gibran, Gank Angker minus Aston sedang berada di kamar Gibran, semua melihat ke layar laptop yang sedang di operasikan Gibran. Setelah Gibran menekan tombol enter terlihat sebuah ruangan di mana ada Aston dan Jeni. Gibran membesarkan volumenya. Terdengar percakapan Aston dam Jeni.


"Aston, berbakat menjadi artis," ujar Alvin. Semuanya terkekeh mendengarnya.


"Kata Aston, Max berhutang besar sama dia." Adam rupanya berkomumikasi dengan Aston lewat telepatinya.


"Sampaikan terima kasih dan katakan dia bisa minta apa saja!" saut Max.


"Dia bilang iya."


"Lihat Aston sudah pulang. Itu siapa?"


Terlihat di layar, setelah Aston pulang muncul seorang laki-laki dari dalam. Bukan dari luar melainkan dari dalam rumah. Orang itu memeluk Jeni dari belakang.


"Itu adalah Amdrew, dia muncul dari dalam, apakah dia tinggal di situ?" tanya Adam.


"Tidak, dia bebas keluar masuk karena sudah sangat dekat dengan keluarga Jeni." Alvin yang menjawab. Mereka mengamati gerak-gerik Jeni dan Andrew, mereka juga mendengarkan percakapan Jeni dan Andrew.


***


"Apa kamu tidak curiga, Aston tiba-tiba mau dekat denganmu?" tanya Andrew.


"Curiga kenapa? Apa salahnya kalau dia dekat denganku? Kamu cemburu?" tanya Jeni.

__ADS_1


"Tidak, Aku hanya waspada saja. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu." Andrew mengajak Jeni duduk.


"Kamu kok udah di sini aja, aku gak tahu kalau ada kamu."


"Pulang sekolah aku langsung ke mari, Mamah menyuruhku menunggu di kamarmu."


"Oh ...."


"Aku kangen kamu, di sekolah kita gak bisa dekat."


"Aku juga kangen."


"Kalian bicara apa saja?" tanya Andrew.


"Macam-macam sih, random aja."


"Iya ada, itu pun random cuma nanya sekilas bukan yang ngorek-ngorek semacam interogasi, gitu."


"Apa yang ingin mereka tahu ya. Pasti ada sesuatu, kamu harus lebih hati-hati jangan sampai kamu mengatakan tentang masa lalu Meta. Apalagi tentang orang tuanya yang tewas karena kecelakaan mobil. Padahal Ayahmulah yang telah mensabotase mobil itu."


"Ya gak lah! Gila aja aku cerita masalah itu. Tentang Meta yang sering kita siksa aja aku gak ceritain, juga tentang Kakaknya yang di buang Mamah entah di mana? Semua menjadi rahasia keluarga ini yang akan di bawa mati. Perusahaan Papah kan perusahaan orang tua Meta, yang harusnya jatuh ke tangan Meta. Untunglah cewek itu sudah pergi jadi kita tidak perlu membunuhnya."


"Bagus, ingat itu adalah rahasia kita jangan kamu ceritakan pada siapa pun."

__ADS_1


"Iya sayang, terima kasih kamu juga kan ikut membantu ku menyiksa Meta."


"Aku hanya bekerja di balik layar."


"Aku mau ke kamar temenin yuk. Kita ngobrol di kamar aja."


"Ayo."


Jeni dan Andrew ke kamar. Gank Angker yang menyaksikan dan mendengar semua perkataan mereka dari laptop tersenyum lebar. Akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan.


"Kau itu pin pin bo Andrew. Pintar-pintar bodoh. Kami tidak perlu bersusah payah mengorek informasi, kalian sudah mengatakannya sendiri," ucap Alvin.


"Apakah ini cukup menjadi bukti? Aku tidak perlu mendekatinya lagi, bukan?" tanya Aston.


"Jangan dulu. Kita masih perlu bukti lain yang menguatkan bukan hanya perkataan saja. Alvin, bagaimana kalau kita menemui Ayahnya Jeni di kantor. Kita ajukan kerja sama dengan perusahaannya, lalu Aston retas komputer kantornya. Kamu juga bisa mencari petunjuk masa lalunya," suruh Gibran.


"Boleh, kapan kita mulai."


"Besok pagi kita ke sana. Kita juga bisa mengembalikan perusahaan itu pada pemilik aslinya."


"Ok!"


"Ayo kita makan dulu aku lapar, ngapain kita nontonin orang pacaran!" Max mengajak mereka makan.

__ADS_1


"Hahaha ... bilang saja kamu iri! Mau pacaran tapi gak ada yayang. Kasian banget yang LDR," ledek Alvin. Mereka lalu keluar dari kamar dan pergi ke rumah utama atau rumah Sultan.


...----------------...


__ADS_2